Minggu, 25 November 2018 11:30:50

Era Digitalisasi Ancam 800 Juta Pekerja Nganggur

Era Digitalisasi Ancam 800 Juta Pekerja Nganggur

Beritabatavia.com - Berita tentang Era Digitalisasi Ancam 800 Juta Pekerja Nganggur

Revolusi industri 4.0 bukan hanya menghadirkan peluang, namun juga tantangan. Revolusi berbasis digital secara langsung mengancam sejumlah pekerjaan ...

 Era Digitalisasi Ancam 800 Juta Pekerja Nganggur Ist.
Beritabatavia.com - Revolusi industri 4.0 bukan hanya menghadirkan peluang, namun juga tantangan. Revolusi berbasis digital secara langsung mengancam sejumlah pekerjaan akibat rontoknya berbagai perusahaan sebagai dampak otomatisasi dan digitalisasi. Jumlah pekerjaan terdampak tidak main-main. Bahkan meningkatkan jumlah pengangguran.

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) memperkirakan 75 juta hingga 375 juta pekerjaan hilang. Prediksi banyaknya pekerjaan terancam otomatisasi dan digitalisasi juga telah disampaikan Mckinsey Global Institute. Bahkan, diperkirakan sekitar 800 juta pekerja di seluruh dunia akan kehilangan pekerjaan pada 2030.

Sebelumnya World Economic Forum September lalu merilis laporan bertajuk Future of Jobs Report 2018. Dilaporkan beberapa pekerjaan diperkirakan akan menjadi tidak dibutuhkan dan akan digantikan dengan profesi baru pada 2022 nanti dan karier baru yang dibutuhkan.

Beberapa pekerjaan dimaksud antara lain, input data/data entri akan digantikan dengandata analyst/scientist, akunting dan payroll diperkirakan digantikan AI (kecerdasan buatan) dan machine learning specialist, dan perakitan serta pekerja pabrik akan diganti analis data spesialis.

Karena itu sejak jauh-jauh hari kami mengingatkan agar generasi muda kita siap menghadapinya. Jika generasi Indonesia siap, ancaman kehilangan berbagai sektor pekerjaan tersebut berubah menjadi peluang menciptakan berbagai lapangan kerja baru, khususnya berbasis digital, kata Kepala Biro Perencanaan Kemenristek Dikti Dr Erry Ricardo Nurzal pada seminar Revolusi Industri 4.0: Integrasi Keilmuan dan Kesiapan Teknologi di Uhamka Jakarta, kemarin.

Di era revolusi industri 4.0, lanjut dia, segala sesuatu digantikan oleh mesin yang saling terhubung dan berkomunikasi satu sama lain dan membuat banyak pekerjaan tidak lagi membutuhkan tenaga dan otak manusia.

Kecerdasan buatan (artificial intelligence /AI), mulai menggantikan daya pikir manusia, termasuk dalam hal pengambilan keputusan. Sebagai contoh, di dunia perbankan, mesin mulai menggantikan daya analisis manusia ketika harus memberikan keputusan dalam soal pemberian pinjaman kepada suatu perusahaan dengan melihat data dan rekam jejaknya selama ini.

Hanya daya kreativitas yang belum bisa digantikan mesin. Karena itu generasi milenial harus kreatif jika tidak ingin tertinggal di era ini, katanya.

Era revolusi industri 4.0, menurutnya, juga muncul fenomena orang-orang muda yang tidak lagi bekerja di kantor dengan waktu yang ketat, tetapi bekerja dengan peralatan digitalnya di mana saja dan kapan saja sambil menghasilkan banyak uang. Ini sudah terjadi di Amerika, Eropa, Asia, dan berbagai negara, termasuk Indonesia, katanya. Dekan Fakultas Teknik Uhamka Dr Sugema mengatakan, revolusi industri 4.0 mulai mengalami puncaknya sekarang.

Hal itu ditandai tren otomatisasi dan lahirnya teknologi digital yang berdampak pada kehidupan manusia di seluruh dunia. Kami ingin para mahasiswa tercerahkan dan termotivasi agar mereka siap hadapi tantangan dan mampu beradaptasi dalam era disrupsi ini, katanya.

Sebelumnya Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri beberapa waktu menegaskan tekadnya bahwa tenaga kerja terampil Indonesia harus bertambah dalam rangka menghadapi revolusi industri 4.0. Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah menggenjot pendidikan dan pelatihan agar produktivitas dari tenaga kerja Indonesia menjadi lebih baik.

Hanif juga menegaskan, pihaknya menaruh perhatian pada peningkatan keterampilan tenaga kerja bangsa agar memenuhi kebutuhan dunia usaha. Partisipasi dunia usaha dalam investasi sumber daya manusia juga penting karena melalui sumber daya yang ada di industri, akan lebih cepat untuk melatih calon tenaga kerja bangsa menjadi terampil.

Kita concern (peduli) pada pembangunan sumber daya manusia pada masa sekarang hingga ke depan sehingga keterlibatan banyak pihak, termasuk pihak swasta baik dari dalam maupun luar negeri untuk investasi sumber daya manusia di Indonesia itu juga kita beri ruang, ujarnya.

Tahun 2018, teknologi otomatisasi dan globalisasi mengurangi angka lapangan pekerjaan di bidang manufaktur, terutama di negara maju. Studi Fredy dan Osborne memprediksi hampir separuh karyawan di Amerika Serikat (AS) terancam kehilangan pekerjaan dalam 12 tahun ke depan.

Negara berkembang juga akan terkena dampaknya. Ekonom dari Bank Dunia, Jieun Choi, mengatakan bahwa otomatisasi mengambil alih sektor manufaktur di negara maju, penawaran dari emerging market .Hal ini sangat mencemaskan mengingat tingkat pengangguran anak muda juga masih sangat tinggi, kata Choi seperti dilansir Sindonews.com, Ahad (25/11).

Ekonomi dunia, lanjut Choi, perlu menciptakan sekitar 600 juta pekerjaan baru dalam 14 tahun ke depan, terutama di negara Asia dan Afrika Sub-Sahara. China dan India saja memiliki sekitar 500 juta calon pekerja muda pada 2030 dan 11 juta calon pekerja dari Afrika akan terus bermunculan setiap Teknologi otomatisasi tidak semuanya berdampak buruk terhadap pasar buruh, jelasnya.

Pada dasarnya kemajuan teknologi akan menciptakan lapangan pekerjaan baru yang tidak ada sebelumnya, bahkan biasanya jumlahnya lebih besar daripada pekerjaan yang hilang. Hal itu juga pernah terjadi sebelumnya.

Sebagai contoh, di satu sisi, komputer menghapus beberapa pekerjaan, tapi di sisi lain juga membuka pekerjaan baru berbasis komputer, mulai dari pengembangan, operasi hingga program, kata Choi. Peluang seperti itu tidak pernah terbayangkan oleh masyarakat dalam dua atau tiga dekade yang lalu, tambahnya.

Perubahan lanskap buruh sudah berubah sejak beberapa tahun lalu. Perusahaan seperti Google dan Apple telah mengubah bisnis musik hingga komunikasi, Amazon mengubah pasar ritel dan Uber mengubah industri taksi. Menurut para ahli, dengan teknologi baru, perusahaan dapat meraup untung lebih besar.

Revolusi industri 4.0 merupakan peluang bagi sektor manufaktur AS untuk mengembalikan posisi yang membutuhkan skill ke dalam ekonomi nasional, kata pengamat industri Aaron Ahlburn dari JLL seperti dilansir jilrealviews.com . AS memiliki keuntungan ketika berbicara tentang buruh yang memiliki skill tinggi, sambungnya. 0 SIN





Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Rabu, 08 Juli 2020
Rabu, 13 Mei 2020
Rabu, 22 April 2020
Jumat, 17 April 2020
Jumat, 27 Maret 2020
Kamis, 12 Maret 2020
Sabtu, 01 Februari 2020
Kamis, 23 Januari 2020
Rabu, 22 Januari 2020
Senin, 20 Januari 2020
Sabtu, 18 Januari 2020
Kamis, 16 Januari 2020