Jumat, 07 Desember 2018

Lagi, 7 Jenazah Pekerja Dibantai KKB di Papua Dievakuasi

Lagi, 7 Jenazah Pekerja Dibantai KKB di Papua Dievakuasi

Beritabatavia.com - Berita tentang Lagi, 7 Jenazah Pekerja Dibantai KKB di Papua Dievakuasi


Sebanyak tujuh jenazah pekerja pembangunan jembatan yang dibunuh Kelompok Kriminal Bersenjata ( KKB) di Puncak Kabo, Kali Yigi-Kali Aurak, ...

Ist.
Beritabatavia.com -
Sebanyak tujuh jenazah pekerja pembangunan jembatan yang dibunuh Kelompok Kriminal Bersenjata ( KKB) di Puncak Kabo, Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga berhasil di evakuasi ke Timika, Kabupaten Mimika, pada Jumat (6/12/2018). Tujuh jenazah yang baru tiba di Timika tersebut selanjutnya akan dilakukan identifikasi agar bisa segera diketahui identitasnya.

Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih Kolonel Inf. Muhama Aidi menjelaskan, dengan datangnya tujuh jenazah tersebut maka sudah ada 16 jenazah berhasil di evakuasi ke Timika. Selanjutnya seluruh jenazah akan diidentifikasi.

“Sudah ada sembilan orang dikenali. Sedangkan tujuh jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi. Karena kita baru berhasil mengevakuasinya tadi pagi,” ungkapnya melalui telepon seluler ke Kompas.com, Jumat.

Data yang diperoleh, ketika kejadian pembunuhan yang dilakukan kelompok KKB terdapat 28 pegawai PT Istaka Karya berada di camp. Sampai saat ini baru 16 jenazah ditemukan. Sebanyak 19 orang dipastikan meninggal dunia dan dua lainnya masih hilang. “Jadi sudah ada 19 orang kita pastikan meninggal. Lalu masih ada dua orang masih kita cari. Sedangkan korban selamat ada tujuh orang,” pungkasnya.

Sementara Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih Kolonel Inf M Aidi mengajak Sebby Sambom yang mengklaim diri juru bicara (jubir) Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) untuk datang ke Timika guna melihat korban penembakan dari Nduga. "Silakan datang ke Timika, bisa didampingi oleh pihak terkait, misalnya, Komnas HAM, atau institusi manapun, supaya bisa lihat para korban penembakan dari Nduga," kata M Aidi ketika dihubungi dari Kota Jayapura, Papua, Jumat (7/12).

Pernyataan ini disampaikan M Aidi saat menjawab tudingan Sebby Sambom bahwa para pekerja jalan dan jembatan trans-Papua di Distrik Yall, Yigi dan Mbua merupakan anggota TNI. "Kalau memang dia menuding korban yang dibantai itu anggota TNI, saya undang yang bersangkutan datang ke Timika, agar dia bisa membuktikan pernyataanya itu benar atau salah, silahkan cek langsung," ucapnya

Dengan datang ke Timika, kata Aidi, Sebby Sambom bisa membuktikan sendiri pernyataannya disejumlah media massa, sehingga tidak menjadi polemik berkepanjangan. "Saya undang, saya jamin keamanannya (Sebby Sambom, red), ini logika pertamanya yah," katanya.

Logika kedua, TNI dituding bangun jalan dan jembatan trans-Papua di Nduga sehingga dibantailah para pekerja sebagaimana diberitakan. "Jika TNI bangun jalan apakah pantas dibantai? Ini logikanya, pola pikir secara moral. Jika oknum TNI lakukan kejahatan, ada hukum jalurnya. TNI hadir untuk membangun Papua, kesejahteraan rakyat Papua, kok harus dibantai, dibunuh? Ini logika kedua," tuturnya.

"Zeni Kontruksi TNI juga pernah kerja di sana. TNI diberikan sektor yang paling berat, selain itu disitu juga ada perusahaan lainnya yang bekerja seperti Istaka Karya. Salahnya di mana jika TNI dilibatkan membantu pekerjaan tersebut, apalagi itu perintah presiden, perintah negara," ujarnya.

"Membangun untuk membantu proses percepatan pembangunan infrastruktur, di mana TNI selalu berada digarda terdepan untuk mengatasi kesulitan rakyat yang disekitar kita. Contohnya, seperti kasus di Asmat, TNI diterjunkan disana paling duluan," tambahnya.

Bahkan daerah pedalaman saat tak ada guru mengajar disekolah, prajurit TNI dari Babinsa diterjunkan membantu mengajar, bantu bikin rumah ibadah, sekolah, aula kampung. "Ini semua bukan TNI ingin ambil alih tugas pihak lain, tetapi mengisi kekosongan yang tidak bisa dilakukan oleh pihak lain. Jadi, tudingan kepada TNI itu saya kira tidak masuk akal, tidak masuk logika," katanya.

Sebby Sambom pernah diwawancara media internasional, di mana diungkapkan TNI merupakan musuh dari TPN/OPM. "Apalagi dikatakan TNI kerahkan pesawat untuk membom lokasi kejadian. Ini bisa saja kami lakukan kerahkan semua alutsista, tapi tidak lakukan itu. Kami masih punya norma, mereka (TPN/OPM) tidak. Kedaulatan NKRI diakui seluruh dunia, tidak ada satu negara yang menyangkal itu," tegasnya.

Jika ada oknum atau bahkan negara yang menyatakan dukung perjuangan TPN/OPM, Aidi menduga itu hanya suara satu dua oknum yang ingin tidak suka Indonesia, karena hingga kini berbagai hubungan diplomasi dengan negara di dunia tetap berjalan baik dan harmonis.

"Bahkan negara yang belum ada hubungan diplomatik dengan Indonesia seperti Israel mengakui kedaulatan Indonesia. Kalau mereka itu legalitas dari mana, pegang dan angkat senjata saja sudah ilegal, sudah pelanggaran hukum, tidak ada pembenaran dari hukum manapun orang yang tidak berkepentingan angkat senjata," paparnya.

Ditegaskan, tidak ada satupun di dunia ini, negaranya mendukung terjadi pemberontakan pasti akan disikapi. Contoh saja, Amerika yang memahami paham liberal tidak akan menyetuji negara bagiannya untuk memisahkan diri. "Kita NKRI, berpaham demokrasi Pancasila, beda dengan paham liberal yang bebas. Pancasila menganut kebebasan terbatas, hak orang lain dilindungi dan dibatasi, bukan liberal, kita ada hukum dan norma, beda dengan Amerika," tuturnya. 0 DAY








Berita Lainnya
Jumat, 01 Maret 2019
Kamis, 28 Februari 2019
Selasa, 26 Februari 2019
Minggu, 24 Februari 2019
Jumat, 22 Februari 2019
Rabu, 20 Februari 2019
Selasa, 19 Februari 2019
Selasa, 19 Februari 2019
Senin, 18 Februari 2019
Sabtu, 16 Februari 2019
Rabu, 13 Februari 2019
Sabtu, 09 Februari 2019