Jumat, 14 Desember 2018

Pedagang Pasar Induk Kramatjati Dipungli Aparat Pasar

Pedagang Pasar Induk Kramatjati Dipungli Aparat Pasar

Beritabatavia.com - Berita tentang Pedagang Pasar Induk Kramatjati Dipungli Aparat Pasar

Pungutan Liar (Pungli) masih menghantui wilayah Jakarta. Kini, Pedagang kopi di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, mengeluhkan pungutan liar ...

Ist.
Beritabatavia.com - Pungutan Liar (Pungli) masih menghantui wilayah Jakarta. Kini, Pedagang kopi di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, mengeluhkan pungutan liar (pungli) yang dikelola pihak pasar. Pasalnya, mereka harus membayar uang sewa lapak sebesar Rp800 ribu perbulan, demi menempati area seluas 1 x 2 meter.

Andi (33), seorang pedagang mengatakan, mahalnya sewa lapak itu terjadi setelah kepala pasar berganti. Pasalnya, ia bersama puluhan pedagang lainnya dipaksa membayar Rp800 perbulan agar bisa tetap jualan. "Sebelumnya mah minta Rp1 juta, cuma nggak lama turun jadi Rp800 ribu," katan Andi seperti dikutip Poskotanews, Jumat (14/12).

Menurut Andi, karena ketentuan baru itu, ia dan 42 pedagang kopi yang ada di pasar, mau tidak mau harus membayar. Pasalnya, mereka diancam kalau tidak membayar, akan diganti dengan pedagang lain yang sudah mengantri. "Ya karena ini pemasukan satu-satunya jadi harus nurut bayar," ujar pedagang yang biasa berjualan di lapak cabe itu.

Besarnya harga yang harus dibayarkan itu, kata Andi, dinilai sangat memberatkan. Pasalnya, untung dari berjualan kopi yang didapat selama ini juga dinilai tak seberapa. "Ya sejak ada tarif baru ini, pendapatan menurun karena harus bayar sewa yang besar. Karena untung jualan kopi berapa sih? Ya paling cuma bisa buat makan," keluhnya.

Atas masalah ini, sambung Andi, ia pun berharap dari direksi PD Pasar Jaya segera mengambil tindakan. Pasalnya, harga sewa untuk lahan berukuran 1×2 meter itu dinilai sangat mencekiknya. "Ya ini pengurus barunya cari untung kelewatan. Coba saja ditotal, Rp800 ribu dikali 42 pedagang, bisa dapat Rp33 juta sebulan," ungkapnya.

Nilai sewa lapak itu, lanjut Andi, dianggapnya tak akan masuk ke retribusi PD Pasar Jaya. Pasalnya, selama ini mereka berjualan di setiap sudut pasar dan dianggap sebagai pedagang kaki-5. "Kalau dulu bayar sewanya sama yang punya lapak di depan, tapi kalau sekarang harus bayar ke pengelola pasar. Padahal kan ini lahannya sudah beda," terangnya.

Terkait hal itu, Manager Pasar Induk Kramatjati, Agus Lamun mengaku tak mengetahui adanya pungutan liar itu. "Saya belum tahu adanya hal itu, terima kasih infonya kita akan selidiki hal ini," katanya. Menurutnya, saat ini justru pihaknya sedang memerangi pungli yang ada di Pasar Induk Kramatjati. 0 PKN

Berita Lainnya
Senin, 12 Agustus 2019
Minggu, 11 Agustus 2019
Sabtu, 10 Agustus 2019
Jumat, 09 Agustus 2019
Jumat, 09 Agustus 2019
Kamis, 08 Agustus 2019
Rabu, 07 Agustus 2019
Selasa, 06 Agustus 2019
Selasa, 06 Agustus 2019
Senin, 05 Agustus 2019
Sabtu, 03 Agustus 2019
Jumat, 02 Agustus 2019