Beritabatavia.com -
Ambruknya jalan RE Martadinata,Jakarta Utara 16 September lalu merupakan salah satu kejadian memalukan dan tragis dari sekian banyak bencana yang terjadi sebelumnya. Hal ini setidaknya dipicu karena Jakarta tidak lagi berimbang. Sekarang dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah DKI, tahun 2000-2010 hanya memproyeksikan 13,94% atau 96,6km2 dari luas keseluruhan Jakarta yang 661,52km2. Prosentase ini sangat berpengaruh pada kualitas dan kuantitas lingkungan hidup Jakarta, yaitu minimnya resapan dan tangkapan air. Sebanyak 266 situ dan dan danau di Jabodetabek terbengkalai, sekarang hanya 33 buah yang berfungsi maksimal, sisanya rusak atau hilang menjadi bangunan atau bisnis.
Ahli tata kota Universitas Tarumanegara, Darundono mengatakan bahwa hal ini akibat kebijakan pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan hidup. Air menjadi barang mahal, dan solusi praktis yang dilakukan adalah mengambil sebesar-besarnya air tanah karena pencakar langit sangat rakus menyedot air. Dampaknya, setiap tahun Jakarta mengalami defisit air tanah sebesar 66,6 juta m3 pertahun, ujarnya pada wartawan Rabu (22/9).
Darundono yang pernah menjadi birokrat selama 14 tahun dan pernah mengerjakan proyek Mohamad Husni Thamrin (MHT) ini mengaku bahwa intrusi air laut akibat pembangunan sembrono dan abrasi di Jakarta Utara sekarang bisa jadi sudah sampai wilayah Setiabudi, Jakarta Selatan.
Sementara Direktur Eksekutif Institut Hijau, Selamet Dariyoni mengatakan bahwa upaya penanggulangan bencana dengan rencana tata ruang harus diintegrasikan, dengan memprioritaskan daya dukung dan saya tampung lingkungan hidup secara keseluruhan.Artinya pembangunan jangan hanya milik segolongan orang yang hanya memikirkan keuntungan materi bagi kelompoknya sendiri, tanpa memperhatikan lingkungan sekitarnya, tegasnya. O brn