Selasa, 05 Maret 2019

Temu Alumni IKA-PIMNAS, Wapres JK Ungkap Kelemahan dan Kelebihan Para Presiden

Temu Alumni IKA-PIMNAS, Wapres JK Ungkap Kelemahan dan Kelebihan Para Presiden

Beritabatavia.com - Berita tentang Temu Alumni IKA-PIMNAS, Wapres JK Ungkap Kelemahan dan Kelebihan Para Presiden

Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai semua Presiden di Indonesia memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing dalam memimpin negeri ini. Juga ...

Ist.
Beritabatavia.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai semua Presiden di Indonesia memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing dalam memimpin negeri ini. Juga kepemimpinan kepala negara sesuai dengan perkembangan zaman yang dipimpinnya. Era Pak Harto beda dengan Era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) apalagi sangat beda era Joko Widodo (Jokowi)

"Saya ini punya [jabatan] tiga pos Presiden, Megawati Soekarnoputri, SBY, dan Jokowi. Kalau Bu Mega itu sangat kuat menjaga stabilitas. Kalau ada masalah di demo, demo saja silakan," kata Wapres membuka acara temu alumni Ikatan Pendidikan dan Latihan Kepemimpinan Nasional (IKA PIMNAS) Lembaga Administrasi Negara (LAN), Jakarta Pusat, Selasa (5/3).

Wapres JK melanjutkan era kepemimpinan Pak Harto mulanya sangat demokratis. Hal ini tercermin adanya partai dan Pemilu yang berjalan baik. Namun, iklim demokratis perlahan sirna setelah munculnya kepentingan-kepentingan. Setelah itu, terjadi praktik monopoli dan nepotisme untuk memperebutkan proyek. 33 tahun era kepemimpinan Pak Harto berakhir dan menimbulkan krisis ekonomi akibat adanya monopoli dan nepotisme.

"Dalam kondisi seperti itu, Pak Harto menjadi lebih otoriter. Tetapi memang tiga pemimpin di Asean, misalnya Mahatir, Lee Kuan Yew, dan Marcos di Filipina hampir sama. Kita tahu mereka sangat dekat, tetapi tak sesuai prinsip demokrasi yang terbuka," ungkapnya.

Sementara pola kepemimpinan Presiden SBY, lanjut dia, kepemimpinan SBY sangat demokratis karena berasal dari TNI dan melaksanakan proses demokrasi. Ide-ide dwi fungsi ABRI dihilangkan jadi segala proses transisional demokrasi sangat terbuka.  "Dan Pak SBY  menghindari pola kepemimpinan yang otoriter dan nepotisme," ungkap Mantan Wapres SBY periode 2004-2009

Dilanjutkan, gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo sangat jauh dari dua hal tersebut. "Pak Jokowi ini pas, karena dia apa saja masalah di kabinet selalu dirapatkan. Setahun rapat lebih dari 200 kali. Beliau selalu ingin mendapat undangan dari sekjen dan kementerian," jelasnya.

Bukti nyata Jokowi tak nepotisme, lanjutnya, terlihat dari karier anak-anak. JK mengatakan anak Jokowi tertua yaitu Gibran Rakabuming berbisnis katering, sementara putra bungsu Kaesang Pangarep justru menjual pisang goreng. Keduanya tidak ada hubungan dengan pemerintahan.

JK juga mencontohkan Presiden Jokowi suka blusukan untuk meninjau keluhan masyarakat. "Pemimpin yang kalau Pak Jokowi menjalankannya apa pergi sendiri melihat blusukan. Ada pemimpin juga di situ, jadi bukan hanya pemimpin yang hanya di kantor saja. Itu kadang-kadang menggabungkan," kata JK.

Wapres JK menilai ada beberapa perbedaan antara pemimpin dan kepala. Jika pemimpin memberikan inspirasi, sedangkan kepala diberikan amanah. "Pemimpin juga memberikan inspirasi beda antara pemimpin dan kepala. Kalau kepala diangkat karena SK, kalau pemimpin karena perilaku. Anda bisa kepala sekaligus pemimpin bisa. Tapi juga Anda bisa jadi kepala tapi tidak bisa jadi pemimpin. Karena kepemimpinan itu suatu cara bagaimana menggerakan anak buah," lanjut JK.

Dia juga menjelaskan tidak hanya pemimpin yang memberikan inspirasi, karyawan pun bisa memberikan inspirasi kepada atasannya. "Jadi kadang-kadang anak buah memberikan inspirasi tanpa diperintah dan menjalankan," ungkap JK. 0 END





 
Berita Lainnya
Rabu, 10 April 2019
Selasa, 09 April 2019
Senin, 08 April 2019
Sabtu, 06 April 2019
Selasa, 02 April 2019
Senin, 01 April 2019
Senin, 01 April 2019
Kamis, 28 Maret 2019
Rabu, 27 Maret 2019
Selasa, 26 Maret 2019
Jumat, 22 Maret 2019
Rabu, 20 Maret 2019