Jumat, 17 Mei 2019

Utang Online buat Lebaran Bergeming, Masyarakat Jangan Terpancing

Utang Online buat Lebaran Bergeming, Masyarakat Jangan Terpancing

Beritabatavia.com - Berita tentang Utang Online buat Lebaran Bergeming, Masyarakat Jangan Terpancing


Masyarakat diminta lebih hati-hati mengajukan pinjaman online. Pasalnya, kebutuhan jelang lebaran berpotensi membuat masyarakat tergiur melakukan ...

Ist.
Beritabatavia.com -
Masyarakat diminta lebih hati-hati mengajukan pinjaman online. Pasalnya, kebutuhan jelang lebaran berpotensi membuat masyarakat tergiur melakukan pinjaman online dari layanan keuangan berbasis teknologi (fintech). Tawaran pinjaman online dari lembaga pinjam-meminjam (peer to peer lending/P2P) fintech relatif mudah dan cepat, tanpa prosedur panjang layaknya lembaga keuangan perbankan.

"Namun bagi yang menerima Tunjangan Hari Raya (THR), sehingga dapat menopang banyak kebutuhan. Tetapi, potensi risiko akan muncul sehabis lebaran, dana bisa berkurang. Untuk itu, masyarakat wajib lebih hati-hati dalam meminjam di fintech," papar
Pengamat Keuangan Paul Sutaryono di Jakarta, Jumat (17/05)

Sementara Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi Andi Nugroho menyarankan agar masyarakat memastikan kemampuan membayar sebelum mengajukan pinjaman. Sebab, kendati prosesnya mudah dan cepat, ia menuturkan bahwa pinjaman online menawarkan bunga yang jauh lebih tinggi dari lembaga keuangan lain, seperti perbankan atau multifinance.

Melihat karakteristik bunga yang tinggi, Andi mengingatkan agar masyarakat hanya mengambil pinjaman online sebagai alternatif terakhir ketika melakukan usaha pinjaman ke keluarga dan teman gagal diperoleh.

Selain itu juga pinjaman hanya dilakukan atas kebutuhan yang mendesak saja. Misalnya, menalangi pembelian tiket untuk mudik, yang jika tidak dilakukan segera akan habis atau semakin mahal harganya.

Jangan sampai, pinjaman dari fintech digunakan hanya untuk kebutuhan yang sebenarnya bisa ditunda seperti baju baru lebaran maupun kue-kue lebaran.

"Menurut saya, daripada ditagih utang melulu pascalebaran, lebih baik mendengar nyinyiran orang-orang yang memberikan komentar karena kita tidak mengenakan baju baru atau tidak punya kue lebaran. Toh, mereka yang nyinyir tidak akan ikut ditleponin oleh debt collector-nya nanti kalau kita gagal bayar," imbuh Andi.

Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah membenarkan bahwa permintaan pinjaman jelang lebaran meningkat. Peningkatannya diperkirakan mencapai 20 persen dibandingkan hari-hari biasanya.

Meskipun permintaannya sedang tinggi, pelaku fintech, sambung Kus, tetap akan hati-hati dalam menyalurkan pembiayaan. Upaya itu dilakukan untuk mengurangi kemungkinan pinjaman bermasalah.

"Setiap platform hadir di pasar untuk alasan bisnis. Proses pinjaman dilakukan tetap dengan mempertimbangkan kehati-hatian dengan memanfaatkan kecerdasan buatan dalam penilaian (scoring) yang dilakukan masing-masing platform," tegas dia.

Toh, Kus menambahkan pelaku fintech pada akhirnya memiliki kepentingan agar debitur bisa melunasi pinjaman yang diberikan oleh kreditur. Mengingat karakter dasar operasi P2P lending adalah transparansi untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat, maka setiap platform akan menjaga tingkat kesuksesan bayar (TKB) 90 hari tetap tinggi.

Per Maret 2019, rasio pinjaman yang sukses dibayar maksimal 90 hari mencapai 97,38 persen. Sedangkan, pinjaman dengan keterlambatan bayar lebih dari 90 persen hanya 2,62 persen. 0 CNN
Berita Lainnya
Senin, 01 Juli 2019
Jumat, 28 Juni 2019
Rabu, 26 Juni 2019
Selasa, 25 Juni 2019
Selasa, 25 Juni 2019
Senin, 24 Juni 2019
Minggu, 23 Juni 2019
Jumat, 21 Juni 2019
Kamis, 20 Juni 2019
Rabu, 19 Juni 2019
Senin, 17 Juni 2019
Sabtu, 15 Juni 2019