Kamis, 27 Juni 2019 13:32:44

Warga Jakarta Enggan Demo, Anak-anak Dikerahkan

Warga Jakarta Enggan Demo, Anak-anak Dikerahkan

Beritabatavia.com - Berita tentang Warga Jakarta Enggan Demo, Anak-anak Dikerahkan

Warga Jakarta nampaknya sudah enggan turun ke jalanan untuk melakukan aksi demo sengketa Pilpres 2019. Pengalaman sebelumnya saat aksi demo 22 Mei ...

 Warga Jakarta Enggan Demo, Anak-anak Dikerahkan Ist.
Beritabatavia.com - Warga Jakarta nampaknya sudah enggan turun ke jalanan untuk melakukan aksi demo sengketa Pilpres 2019. Pengalaman sebelumnya saat aksi demo 22 Mei berbuntut rusuh, kacau dan tak ada manfaatnya malah merugikan warga Jakarta. Semakin minimnya orang yang demo akhirnya anak-anak dikerahkan untuk melakukan aksi unjuk rasa menjelang putusan sengketa Pemilu di gedung MK Jakarta.

Padahal Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memberikan ultimatum agar tidak melibatkan anak-anak dalam proses pengawalan keputusan sidang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilpres 2019 yang akan digelar Mahkamah Konstitusi (MK) pada Kamis (27/6)

Hanya ingin ikut keramaian. Di sana (Tangerang) bosan, ujar Andriansyah saat aksi mengawal putusan sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Kamis (27/6). Alasan itu juga diiyakan sejumlah temannya.

Anak berusia 16 tahun itu merupakan siswa jurusan multimedia di salah satu sekolah menengah kejuruan (SMK) di Tangerang. Bersama ketujuh temannya, Andriansyah nekat berangkat ke Jakarta dengan menyetop mobil bak.

Mereka tiba di Jakarta pada Rabu (26/6) malam pukul 19.30 WIB. Andriansyah dan sejumlah temannya tidur mengemper di luar Monas dengan beralas sarung sembari menunggu matahari terbit keesokan hari.

Delapan anak dengan kaos hitam seragam bertuliskan Keluarga Besar Pecinta Habib Bahar itu tiba di Jalan Medan Merdeka Barat sejak pagiĀ  tadi, sekitar pukul 06.30 WIB.

Andriansyah mengatakan dirinya dan ketujuh temannya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA ingin memanfaatkan liburan kenaikan kelas dengan terlibat di dalam keramaian aksi.

Mereka menyatakan sudah mendapat izin dari orang tua. Orang tua sudah izinin, mereka bilang, Ya sudah hati-hati, ucap Andriansyah menirukan ucapan ibunya.

Bermodalkan uang Rp5 ribu, mereka nekat berangkat ke Jakarta. Beruntung, di lokasi aksi mereka mendapat logistik makanan dan minuman dari para peserta aksi Halalbihalal dan Tahlil Akbar 266.

Andriansyah mengatakan keterlibatan mereka atas kehendak sendiri. Tidak ada koordinator yang memerintahkan mereka. Tuntutan mereka tak tanggung-tanggung, MK mendiskualifikasi pasangan Joko Widodo-Maruf Amin dan meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai presiden dan wakil presiden terpilih.

Menurut Andiansyah, dengan penetapan Prabowo-Sandiaga sebagai presiden dan wakil presiden, Rizieq Shihab bisa dipulangkan ke Indonesia dan Bahar bin Smith dapat dibebaskan dari segala tuntutan hukum. Kalau Prabowo menang, guru besar bisa pulang dan Habib Bahar bebas, tuturnya.

Di Jalan Medan Merdeka Barat, mereka bersua dengan enam orang yang berasal dari Bogor Jawa Barat yang juga merupakan pengagum Bahar bin Smith. Keenam orang dari Bogor tersebut sebelumnya juga terlibat dalam aksi Rabu (26/6) kemarin. Seperti halnya sejumlah anak dari Tangerang, keenam orang dari Bogor itu juga menyambangi Jakarta dengan menyetop mobil bak.

Seorang anak yang bergaya khas Bahar bin Smith dengan rambut panjang dan peci putihnya, Muhammad Jefry Pratama (15) berharap MK memutus sengketa dengan adil. Adil, menurutnya adalah mengabulkan semua gugatan tim kuasa hukum 02. Aksi bertajuk Halalbihalal dan Tahlil Akbar 266 bukanlah kali pertama yang diikuti sejumlah anak yang berasal dari Tangerang dan Bogor tersebut.

Jefry menyatakan dirinya dan beberapa kawan pernah terlibat dalam demonstrasi 21-22 Mei 2019 lalu di sekitar Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Tanahabang. Saya ikut juga 22 Mei di Tanahabang. Malah ikut rusuh juga, aku Jefry sembari tertawa.

Komisioner KPAI, Jasra Putra mengatakan, pada 22 Mei 2019 lalu anak-anak yang sejatinya mendapatkan perlindungan, malah menjadi korban dari penyalahgunaan kepentingan politik. Hingga kini ada sebanyak 41 anak dari korban kerusuhan tengah mendapat penanganan dari Kementerian Sosial (Kemensos), kata Jasra Putra saat dikonfirmasi pada Rabu (26/6/2019).

Jasra menerangkan, KPAI bersama pihak terkait lainnya tengah mendorong penyelesaian kasus itu dan melakukan pengawasan bersama agar tidak terjadi kembali peristiwa seperti 22 Mei 2019 lalu.KPAI bertemu dengan Komnas HAM, Ombudsman, LPSK dan Komnas Perempuan terkait permasalahan ini, terangnya.

Terakhir KPAI mengimbau bagi seluruh orang tua agar tidak acuh saat anak meninggalkan rumah, guna meminimalisir terjadinya kejadian serupa, apalagi saat ini anak-anak sedang berada pada masa libur sekolah.Diharapkan orang tua juga membantu mengingat saat ini sedang masa liburan, ucapnya.

Sidang sengketa pilpres yang dilayangkan kubu Prabowo-Sandi diregister MK dengan nomor 01/PHPU-PRES/XVII/2019. Permohonan sengketa pilpres ini dilayangkan kubu Prabowo-Sandi yang menuding ada kecurangan bersifat terstruktur, sistematis, masif (TSM) dalam pelaksanaan pemilu.

Dalam sidang sengketa pilpres ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadi pihak termohon, paslon nomor urut 01 Jokowi-Maruf menjadi pihak terkait, dan Bawaslu RI hanya menjadi pihak pemberi keterangan. Setelah menggelar Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH), pembacaan putusan sengketa hasil Pilpres 2019 akan dilakukan dalam sidang pleno pada 27 Juni mulai pukul 12.30 WIB. 0 CIO





Berita Lainnya
Rabu, 12 Agustus 2020
Jumat, 07 Agustus 2020
Kamis, 06 Agustus 2020
Sabtu, 25 Juli 2020
Kamis, 23 Juli 2020
Rabu, 22 Juli 2020
Minggu, 19 Juli 2020
Kamis, 16 Juli 2020
Rabu, 15 Juli 2020
Senin, 13 Juli 2020
Senin, 13 Juli 2020
Jumat, 10 Juli 2020