Kamis, 12 September 2019

Polda Metro Bongkar Penyelundupan Pakaian Bekas dari China

Polda Metro Bongkar Penyelundupan Pakaian Bekas dari China

Beritabatavia.com - Berita tentang Polda Metro Bongkar Penyelundupan Pakaian Bekas dari China

PENYELUNDUPAN pakaian bekas dari Tiongkok terus membanjiri Indonesia. Akibatnya industri tektil nasional terancam gulung tikar. Bahkan pendapatan ...

Ist.
Beritabatavia.com - PENYELUNDUPAN pakaian bekas dari Tiongkok terus membanjiri Indonesia. Akibatnya industri tektil nasional terancam gulung tikar. Bahkan pendapatan negara karena penyelundupan itu berkurang drastis. Tak ingin penyelundupan ilegal pakaian bekas ini merusak tatanan ekonomi nasional,  Polda Metro Jaya bergerak cepat dan berhasil membongkar sindikat penyelundupan tekstil dan pakaian bekas asal China.

Enam orang ditangkapdi Pantai Marunda  Jakarta Utara dan sudah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka berinisial PL (63), H (30), AD (33) EK (44), NS (47), dan TKD (45). Ternyata aksi penylundupan mereka dijalankan bisnis ilegal selama bertahun-tahun dan selama ini aman-aman saja.

"Mereka aman karena menjalankan bisnisnya dengan main kucing-kucingan dengan petugas. Bahkan memasukan barang ilegal melalui jalan tikus sehingga aksi kriminalnya tak terpantau. Namun sepandai-pandai menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga. Mereka pun kita tangkap," papar Kapolda Metro Jaya, Irjen Gatot Eddy Pramono di Mapolda Metro Jaya, Kamis (12/09/2019).
.
Dilanjutkan, jika dihitung potensi kerugian negara untuk tekstil, balpress, serta sepatu berbagai merek kurang lebih Rp4,9 miliar hampir Rp5 miliar. "Bayangkan aja sekali datang negara rugi sebesar itu, bagaimana jika dijalankan selama bertahun-tahun, anda bisa menghitung sendiri kerugian negara akibat ulah para penyelundup. Menurut hemat saya bisa truliunan rupiah," sambungnya.

Selain kerugian negara, masuknya barang-barang impor ilegal dari Cina mengakibatkan stabilitas keuangan terganggu. Konsumen juga bisa terkena penyakit karena barang barang bekas ini membahayakan kesehatan (sakit kulit), tambah Kapolda Metro Jaya.

Para tersangka dalam menyelundupkan barang ilegal itu memanfaatkan jalur laut. Rute yang dilalui dari China melalui Pelabuhan Pasir Gudang Johor, Malaysia. Selanjutnya barang dikirim ke Pelabuhan Kuching Serawak dan dibawa menggunakan truk ke perbatasan Indonesia, yaitu Jagoi Babang, Kalimantan Barat.

"Isi barang selundupan itu kemudian diangkut menggunakan truk fuso dari Pontianak melalui Pelabuhan Dwikora dikirim menggunakan kapal angkut Fajar Bahari dan masuk ke Pelabuhan Tegar Marunda Center Kabupaten Bekasi," ucapnya.

Beruntung, aksi para penyelundup terendus pihak kepolisian, sehingga beberapa orang tersebut berhasil diamankan di beberapa tempat, yaitu Pelabuhan Tegar Marunda Center Terminal, Tarumajaya, Kabupatan Bekasi, Jawa Barat, kemudian di Jalan Dahlia, Kramat, Senen, Jakarta Pusat dan di sebuah Gudang Rukan Permata Ancol, Pademangan, Jakarta Utara.

"Berhasil kita sita barang bukti 438 gulungan tekstil (bahan kain), 259 koli balpress berisi pakaian baru, pakaian bekas dan tas bekas, 5.668 koli sepatu berbagai merek kurang lebih 120 ribu pasang sepatu," tutur Kapolda.

Direktur Reserse Kriminal Khusus PMJ Kombes Iwan Kurniawan mengatakan para tersangka  sudah melakukan kegiatannya antara 2 hingga 10 tahun.  "Mereka merupakan pelaku di hulu. Jadi, kita upayakan memutus mata rantai dari hulu ke hilir, sehingga nantinya pedagang pedagang eceran tidak bisa memasarkan barang yang dilarang ini," kata Iwan menanggapi pertanyaan tentang maraknya penjual barang bekas impor di Pasar Senen, dan kota kota lainnya.

Perwakilan dari Kementerian Perdagangan mengatakan  untuk mencegah masuknya baranng barang ini, pertama harus dibiasakan budaya malu. Artinya, masyarakat harus dibiasakan jangan menggunakan barang bekas impor, apalagi ilegal.  Karena selain membahayakan kesehatan juga mematikan produksi dalam negeri.

"Kalau masyarakat memahami, dan tidak ada yang beli barang impor ilegal, pasti distributornya rugi dan tidak jual lagi. Tapi selama pasar mereka laku dan disukai masyarakat, ya bisnis ini akan berkembang terus," katanya.

Akibatnya, tersangka bakal dijerat pasal berlapis, yaitu Pasal 104, Pasal 106, Pasal 111, Pasal 112 ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Ancamannya, pidana penjara lima tahun dan denda maksimal Rp5 miliar dan Pasal 62 ayat 1 dan 2 UU Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Ancamannya pidana penjara lima tahun dan denda maksimal Rp2 miliar. 0 end






Berita Lainnya
Rabu, 11 September 2019
Senin, 09 September 2019
Minggu, 08 September 2019
Sabtu, 07 September 2019
Sabtu, 07 September 2019
Jumat, 06 September 2019
Kamis, 05 September 2019
Rabu, 04 September 2019
Rabu, 04 September 2019
Selasa, 03 September 2019
Senin, 02 September 2019
Minggu, 01 September 2019