Beritabatavia.com -
Bentrokan antaretnis yang kembali meletus di Tarakan, Kalimantan Timur ternyata dipicu akibat ketidakpuasan dari pihak korban yang tewas dalam insiden serupa, Senin (27/9) lalu. Dalam bentrokan tersebut, seorang warga bernama Abdullah tewas. Abdullah adalah warga asli setempat dari etnis Tidung.
Demikian disampaikan Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Marwoto Soeto saat dihubungi, Rabu (29/9). Menurut Marwoto, suasana di Tarakan masih mencekam dan massa masih berkonsentrasi di beberapa titik.
Bentrokan dipicu ketidakpuasa dari pihak korban. Mereka tetap menuntut balas, meski sudah beberapa kali ada pertemuan untuk perdamaian, kata Marwoto.
Kubu korban menuntut macam-macam. Meski tokoh masyarakat sudah dikumpulkan, mereka tidak puas dan tetap menuntut balas, ujarnya.
Bentrokan yang terjadi antara etnis Tidung dengan etnis Bugis, pendatang dari Sulawesi, ini berawal dari pengeroyokan anak korban Abdullah, Abdul Rahmansyah, oleh lima orang pada Minggu (26/9) malam lalu.
Saat itu Abdul Rahmansyah sedang melintas di kompleks Korpri. Tiba-tiba, Abdul Rahmansyah dihadang lima orang tak dikenal. Korban lantas dikeroyok hingga mengalami luka-luka dan terpaksa mendapat perawatan di RSUD Tarakan.
Pada Senin (27/9) dini hari, Abullah, orang tua korban, lantas mendatangi lokasi bersama enam orang suku Tidung. Mereka hendak menanyakan alasan anaknya dikeroyok. Namun, kedatangan mereka tidak menyelesaikan masalah, tetapi malah menimbulkan masalah baru. Keributan pun pecah dan Abdullah tewas ditusuk. o nor