Beritabatavia.com -
Suasana di Tarakan, Kalimatan Timur masih mencekam. Dua kubu terus berkonsentrasi di beberapa titik. Untuk menghindari jatuhnya korban jiwa, Warga dari etnis lain yang tidak turut dalam bentrokan antara dua kelompok etnis itu, terpaksa diungsikan.
Sejumlah warga diungsikan ke Pangkalan Angkatan Laut setempat. Lokasi pengungsian ini merupakan tempat pengungsian yang sama, saat bentrokan antara etnis Tidung, Tarakan dan Bugis, Sulawesi pecah, Senin (27/9) lalu.
Saat ini, warga terus mendatangi Pangkalan Angkatan Laut. Beberapa dari mereka membawa sejumlah barang-barang yang diperlukan. Para pengungsi berharap, kedua kubu saling menahan diri dan berdamai demi keamanan dan kenyamanan bersama.
Selain Pangkalan TNI AL, sekitar seribu warga juga mengungsi ke Mapolres Tarakan. Jumlah pengungsi di Mapolres Tarakan sekitar 1.000 orang, kata Suwandi Idris, asisten staf khusus presiden bidang Bencana Alam dan Bantuan Sosial, yang berada di Tarakan saat dihubungi melalui telepon, Rabu (29/9).
Menurut Suwandi, lokasi pengungsian tersebut dijaga ketat aparat keamanan. Selain personel polisi, sejumlah anggota TNI dari Yonid 631 juga diberbantukan untuk mengamankan Mapolres Tarakan.
Bentrokan yang kembali meletus semalam membuat kami lebih berkonsentrasi mengurus masyarakat yang semakin ketakutan, ujar Suwandi.
Suwandi mengungkapkan, semalam terjadi bentrokan terbuka antara dua kelompok warga. Mereka saling serang dengan menggunakan berbagai senjata tajam. Situasi sedikit mereda saat petugas gabungan TNI dan Polri berhasil melokalisir masing-masing kelompok.
Namun hingga pagi tadi, masih ada konsentrasi massa di sejumlah titik. Suasana memang sudah tidak terlalu mencekam dibandingkan semalam, namun belum bisa dikatakan kondusif, ujar Suwandi.
Sebelumnya kronologi yang dilansir Mabes Polri menyebutkan, bentrokan di Tarakan itu melibatkan kelompok warga dari Suku Bugis dan Suku Tidung. Kejadian itu dipicu perkelahian dua kelompok pemuda dari masing-masing suku di Kampung Juata Permai, Tarakan pada Minggu (26/9), sekitar pukul 22.30 Wit
Bentrokan pagi ini dipicu karena ada ketidakpuasan dari kubu korban tewas saat bentrokan pertama. Kubu korban tewas, Abdullah, merasa tuntutan yang diajukan belum terpenuhi oleh kubu etnis Bugis.
Menurut Marwoto, Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri, petugas belum bisa mengamankan mereka-mereka yang diduga menjadi provokator dalam bentrokan susulan ini. Kalau kami melakukan upaya paksa. Itu tidak mungkin. Kami tidak mungkin menangkap orang saat sedang terjadi kejadian saat ini, tegas Marwoto. o nor