Rabu, 09 Oktober 2019

Sindikat Perdagangan Manusia Bermodus Beasiswa Disikat

Sindikat Perdagangan Manusia Bermodus Beasiswa Disikat

Beritabatavia.com - Berita tentang Sindikat Perdagangan Manusia Bermodus Beasiswa Disikat

SINDIKAT perdagangan manusia ke Abu Dhabi dan Taiwan, disikat Mabes Polri. Ada ribuan orang yang sudah dikirim ke kedua negara itu dengan ilegal ...

Ist.
Beritabatavia.com - SINDIKAT perdagangan manusia ke Abu Dhabi dan Taiwan, disikat Mabes Polri. Ada ribuan orang yang sudah dikirim ke kedua negara itu dengan ilegal termasuk modus baru dengan iming-iming beasiswa di Taiwan. Kasus ini diungkap sejak bulan lalu. Modus untuk Abu Dhabi juga klasik dimana jaringan pelaku menjanjikan pekerjaan terhadap para korban.

"Mereka beroperasi dengan berkedok perusahaan penyalur tenaga kerja ke luar negeri. Mereka sudah beroperasi sejak tahun 2006 sampai dengan sekarang. Mereka dirikan PT yang inisialnya AIM,"papar Wadir Tipidum Polri Kombes Agus Nugroho  di Mabes Polri Rabu (9/10/2019).

Dari operasionalisasi PT tersebut mereka sudah memberangkatkan pekerja migran sejumlah 14.400 orang ke Abu Dhabi. Padahal ada peraturan moratorium menteri tenaga kerja sejak 2015 yang melarang pemberangkatan tenaga kerja Indonesia ke Timur Tengah.

Mekansime pemberangkatan para TKI yang direkrut dijanjikan pekerjaan di sana. Mereka kebanyakan dari NTB dan Jawa Barat dengan dijanjikan pekerjaan bergaji 1200 real atau Rp 4,5 juta. Namun prakteknya banyak yang tidak menerima gaji. Ada lima tersangka yakni AS (sponsor), SSI (Dirut AIM), MI, HE, dan MA. Mereka dijerat UU 21 2007 tentang tindak pidana perdagangan orang.

Sedangkan untuk Taiwan ada modus operandi baru yaitu menjanjikan beasiswa kuliah di luar negeri, dalam hal ini di Taiwan, sambil bekerja. Sudah ada sekitar 40 orang WNI yang menjadi korban. Mereka rata-rata berasal dari wilayah Lampung, Jawa Barat, ada juga dari Jawa Tengah.

Tindak pidana ini dilakukan tersangka R dan L. Modus operandinya para tersangka menawarkan calon korban untuk kuliah dengan diberi beasiswa sambil bekerja. Modalnya uang administrasi sebesar Rp 35 juta.

"Orang tua korban yang tidak mampu menyediakan uang Rp 35 juta tersebut akan diberikan penalangan oleh para tersangka dengan catatan sesudah para korban berkuliah sambil bekerja di Taiwan, penghasilannya sebagian akan digunakan untuk melunasi uang administrasi yang dibayarkan di muka tadi," urai Agus.

Para korban atau calon korban direkrut untuk ditampung lebih dulu selama beberapa waktu di Jakarta. Selama di penampungan ada kamuflase dengan menghadirkan perwakilan dari Taiwan yang mewawancarai para calon korban untuk meyakinkan mereka maupun keluarga korban.

Namun sesampai di Taiwan mereka diperas dan dipekerjakan dari Senin sampai Sabtu untuk kemudian di hari Minggu para korban akan dipertemukan perwakilan—yang sebetulnya bagian dari jaringan ini—untuk seolah seperti kuliah.

"Padahal hanya belajar bahasa Taiwan dan itu untuk memudahkan pekerjaannya itu sendiri. Permasalahan muncul setelah mereka bekerja dan tinggal di Taiwan selama 18 bulan, ternyata janji yang ditawarkan saat di Indonesia tidak sesuai kenyataannya," lanjutnya.

Mereka hanya kuliah satu minggu satu kali dan dijanjikan menerima uang sekira 27 ribu New Taiwan Dollar tapi ternyata hanya menerima sekira Rp 2 juta. Ada pula yang lebih parah karena tidak mendapatkan uang sama sekali sehingga melaporkan ke pihak yang berwajib. 0 BSO





Berita Lainnya
Selasa, 01 Oktober 2019
Senin, 30 September 2019
Sabtu, 28 September 2019
Jumat, 27 September 2019
Kamis, 26 September 2019
Selasa, 24 September 2019
Jumat, 20 September 2019
Kamis, 19 September 2019
Rabu, 18 September 2019
Minggu, 15 September 2019
Sabtu, 14 September 2019
Rabu, 11 September 2019