Kamis, 14 November 2019

Suara dari Gambir, Ada Menteri Ingkar Janji

Suara dari Gambir, Ada Menteri Ingkar Janji

Beritabatavia.com - Berita tentang Suara dari Gambir, Ada Menteri Ingkar Janji

Pukul 16.30 Selasa 22 Oktober 2019 seseorang meminta untuk bertemu pada pukul 20.00 di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.
Pertemuan di lantai dua ...

Ist.
Beritabatavia.com - Pukul 16.30 Selasa 22 Oktober 2019 seseorang meminta untuk bertemu pada pukul 20.00 di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.
Pertemuan di lantai dua sebuah cafe, pria yang didampingi istri dan dua temannya menceritakan tentang seorang calon menteri yang dipanggil ke istana negara. Pria yang menjadi menteri itu diduga terkait dugaan praktik korupsi di perusahaan pertambangan milik negara. Tidak hanya itu, sang calon menteri juga dituding menipu rekan bisnisnya.

Setelah menyampaikan penjelasan secara singkat, kemudian menyodorkan dua buku. Buku satu berjudul Penipuan sedangkan buku dua  Dugaan Tindak Pidana Korupsi pada proyek Jasa Penambangan dan Pengangkutan/pemuatan Bijih Nikel ke Kapal Ekspor antara PT Aneka Tambang (Persero), TBK (BUMN) dan PT Yudistira Bumi Bhakti (pihak swasta).
Dugaan praktik penipuan bermula  dari memorandum of understanding (MoU) yang ditanda tangani antara Yulius Isyudianto dengan Agus Suparmanto tentang penambangan dan pengangkutan/pemuatan bijih nikel ke kapal ekspor di provinsi Maluku Utara, pada 13 Januari 2000.
Keduanya bersepakat, Yulius Isyudianto melalui PT Yudistira Bumi Bhakti berkewajiban untuk memenangkan tender proyek yang diselenggarakan PT Aneka Tambang. Setelah memenangkan tender Yulius Isyudianto wajib menyerahkan kepengurusan PT YBB kepada Agus Suparmanto. Sedangkan Agus Suparmanto wajib menanggung seluruh biaya dari mulai proses tender, biaya investasi, operasi dan produksi.  Dan Yulius Isyudianto berhak memperoleh 30 persen dari keuntungan yang diperoleh PT YBB.

Kemudian kesepakatan direalisasikan pada 2 Mei 2000. Yulius menyerahkan PT YBB kepada Agus Suparmanto lalu menunjuk Juandy Tanumiharja,Msc sebagai Dirut dan pemegang saham 50 persen sedangkan Miming Leonardo ditunjuk sebagai komisaris dan pemegang saham 50 persen.

Kemudian pada 5 Mei 2000, PT YBB mengikuti tender di PT Aneka Tambang.  Selanjutnya, pada 6 September 2000 PT Antam menyatakan PT YBB sebagai pemenang tender proyek penambangan dan pengangkutan/pemuatan bijih nikel ke kapal ekspor di Maluku Utara.
Pada 13 Maret 2001, keduanya menanda tangani kesepakatan bagi hasil yang akan diperoleh Yulius Isyudianto sebesar 30 persen dari keuntungan PT YBB, sedangkan PT YBB mendapat 70 persen.

Pada 11 Juli 2001 kontrak pertama antara PT Aneka Tambang (Antam) dengan PT Yudistira Bumi Bhakti. Dilanjutkan dengan kontrak kedua pada 19 juli 2004 dan kontrak ketiga pada 19 Juli 2007. Lalu pada 16 Juli 2010 dilakukan amandemen 1 atas kontrak III dan 29 Oktober 2010 amandemen 2 atas kontrak III.

Belakangan, kesepakatan antara Yulius dengan Agus Suparmanto berbuah perseteruan. Hingga Agus Suparmanto dan kawan-kawan dilaporkan ke Bareskrim Polri dengan tuduhan melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan, pada 8 Nopember 2013.
Tengah proses pemeriksaan berlanjut di Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Ditpideksus) Bareskrim.  Agus Suparmanto merubah haluan dan meminta agar Yulius bersedia berdamai serta mencabut laporan polisi. Kemudian pada 3 April 2014 dihadapan notaris, Agus Suparmanto memberikan hak Yulius sebesar Rp30 miliar. Sedangkan kekurangannya akan diberikan setelah Juandy Tanumihardja melaporkan pertanggungjawaban keuangan PT YBB. Sayangnya, Agus Suparmanto, hanya membaca klarifikasi dan konfirmasi yang telah dikirim beberapa kali, tetapi tidak merespon.O son

Berita Lainnya
Selasa, 26 November 2019
Senin, 25 November 2019
Minggu, 24 November 2019
Minggu, 24 November 2019
Jumat, 22 November 2019
Rabu, 20 November 2019
Selasa, 19 November 2019
Senin, 18 November 2019
Sabtu, 16 November 2019
Jumat, 15 November 2019
Jumat, 15 November 2019
Kamis, 14 November 2019