Beritabatavia.com -
JAKARTA. Kerusuhan berdarah di Tanjungpriok, Jakarta Utara yang menelan korban jiwa Rabu (14/4) lalu menimbulkan trauma hebat bahkan sejumlah anggota Satpol PP yang berhasil lolos dari maut mengalami depresi. Sebagian dari mereka, hingga saat ini belum berani keluar rumah dan menonton televisi, meskipun mereka sudah selamat dan berada di rumah sendiri.
Sementara anggota Satpol PP lainnya yang juga lolos dari amuk massa, mengaku kesal, dan ketakutan jika melihat tayangan peristiwa berdarah itu di televisi. Guna mengurangi rasa takut, mereka menghindar dari berita-berita dan tayangan di televisi terkait peristiwa berdarah di makam Mbah Priuk di Tanjungpriok, Jakarta Utara, pertengahan pekan lalu. Bayangan ketakutan yang masih terus menghantui pikiran dan perasaan para anggota Satpol yang lolos dari maut itu diungkapkan Dede dan Untung anggota Satpol PP yang ikut penertiban di makam tersebut. Selama tiga hari terakhir sejak peristiwa bentrokan di makam mbah Priok hingga saat ini mereka terpaksa pulang kampung untuk menenangkan diri.
Saya benar-benar masih trauma, setiap kali lihat televisi dan melihat ada tayangan itu tiba-tiba tubuh saya gemetar, takut dan negeri. Hampir setiap malam saya nggak bisa tidur tiap kali ingat peristiwa itu. Waktu itu dalam pikiran saya hanya dua pilihan hidup atau mati,kata Dede.
Dia mengaku dirinya bersama tiga orang temannya Syam, Selamat dan Supri, selamat dari amukan warga setelah ditolong oleh anggota Lantamal Serka TNI AL
Hendrik dan dibawa ke kantornya yang lokasinya tak jauh dari lokasi bentrokan. Di tempat itu keempat anggota Satpol PP tersebut langsung dibawa keluar dari lokasi dan pulang ke rumahnya masing-masing.
Alhamdulillah beruntung ada pak Hendrik yang menolong kami. Jika tidak ada dia entah apa jadinya kami-kami ini mungkin sudah seperti teman-teman lainnya,jelas Dede dengan nada sedih mengikat teman seprofesinya yang tewas akibat peristiwa tersebut.
Dede juga mengatakan, sejak peristiwa itu terjadi hampir setiap malam selalu mengigo teriak-teriak minta tolong. Untuk menenangkan hati dan pikirannya dia bersama istri dan kedua anaknya pulang ke kampung halaman di daerah Cirebon.
Saya mau menenangkan diri dulu di kampung, karena peristiwa itu sampai saat ini saya masih sedih dan ngeri. Bukan hanya lihat televisi, tapi setiap ada orang berkumpul rasa takut itu muncul,tambah suami dari Ade ini.
Hal senada juga diungkapkan oleh Untung, anggota Trantib lainnya.Setelah dirinya berhasil lolos dari lokasi bentrokan itu dia langsung pulang ke rumah. Tanpa banyak nanya lagi dengan pakaian seadanya anggota Satpol PP yang sudah mengabdi selama lima tahun itu memutuskan pulang ke kampung halamannya Brebes, Jawa Tengah.
Meski sudah jauh dari hiruk-pikuk kota Jakarta maupun Tanjung Priuk, perasaan pria 37 tahun itu masih trauma berat. Selama empat hari dirinya tidak berani keluar dari rumah karena hatinya masih was-was dan takut akan dikroyok seperti teman-temannya.
Yang saya ngeri ketika melihat anggota Satpol PP kepalanya dihantam pakai balok besar hingga terjatuh. Saat pingsantubuh teman saya itu dihujani bambu runcing hingga tewas di lokasi. Tiap kali ingat itu saya langsung merinding dan takut,jelasnya.
Pria itu mengaku, sebenarnya dirinya hanyalah menjalankan tugas. Tapi karena dalam tugasnya selalu berkaitan dengan pedagang kecil akhirnya dibanyak dimusihi orang. Sebenarnya kata Untung dalam setiap kali melakukan penertiban dirinya sedih karena melihat para pedagang yang mencari makan untuk menyambut hidup harus digusur.
Namun, karena ada kebijakan pemerintah yang mengatur hal itu dan dirinya sebagai bawahan akhirnya apapun resikonya dia siap hadapi. Saya punya anak istri, jika tidak bekerja istri dan kedua anak saya mau makan apa,ungkapnya sedih.
Dia berharap beratnya dan tingginya resiko yang dihadapi para Satpol PP pemerintah juga memperhatikan dirinya maupun kawan-kawan seprofesinya untuk masa depan. O
ndi