Selasa, 21 Januari 2020 18:12:30

Tragis, 10 Anak Dibawah Umur Dijadikan Bisnis Esek-esek di Rawa Bebek

Tragis, 10 Anak Dibawah Umur Dijadikan Bisnis Esek-esek di Rawa Bebek

Beritabatavia.com - Berita tentang Tragis, 10 Anak Dibawah Umur Dijadikan Bisnis Esek-esek di Rawa Bebek

BUBARNYA prostitusi Kalijodo, mengerakan Wanita Tuna Susila (WTS) membuka prostitusi ilegal di Jakarta. Bahkan meningkat statusnya bukan sebagai ...

 Tragis, 10 Anak Dibawah Umur Dijadikan Bisnis Esek-esek di Rawa Bebek Ist.
Beritabatavia.com -

BUBARNYA prostitusi Kalijodo, mengerakan Wanita Tuna Susila (WTS) membuka prostitusi ilegal di Jakarta. Bahkan meningkat statusnya bukan sebagai pelacur tapi menjadi mucikari, mami alias germo. Untuk menggaet lelaki hidung belang, mantan WTS ini membuka kafe berkedok bisnis esek-esek. Agar pengunjungnya ramai, maminya memajang anak dibawah umur sekaligus membentuk sindikat untuk mengaget anak-anak dibawah umur di beberapa daerah hingga Jawa Tengah.

Setelah beroperasi selama dua tahun, Cafe Khayangan Jl. Rawa Bebek RW.013, Penjaringan, Jakarta Utara yang beromzet sebesar Rp2 miliar, akhirnya dibongkar  Subdit 5 Renakta Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

"Kami menangkap 6 orang pelaku kasus eskploitasi seksual terhadap 10 anak di bawah umur mulai berusia 14 tahun sampai 18 tahun pada 13 Januari lalu," papar Kabid Humas Polda Metro jaya Kombes Yusri Yunus didampingi Kabag Bin Ops Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Pujiyarto di Polda Metro Jaya, Selasa (21/01/2020).

Keenam pelaku, lanjut kabid Humas, mempunyai peran masing-masing dalam kasus perdagangan anak kepada lelaki hidung belang ini antara lain R alias Mami Atun (42), mantan pelacur Kalijodo yang berperan memaksa anak melayani hubungan badan para tamu. Atun sekaligus pemilik Cafe Khayangan yang menyediakan tempat bagi penjahat kelamin.

Pelaku kedua, Mami Tuti alias A (45), juga mantan WTS Kalijodo yang berperan memaksa anak melayani hubungan badan para tamu dan sebagai mucikari. Pelaku ketiga dan Keempat, D alias Febi (30) perempuan dan TW (laki-laki) berusia 28 tahun, berperan mencari anak ke daerah dan menjualnya ke mami. Kedua pelaku juga mencari ABG di media sosial seperti facebook.

"Di media sosial itu, mereka menamwarkan pekerjaan bagi AGB berusia 14-18 tahun dengan gaji tinggi serta jaminan lainnya. Jika ada ABG yang tertarik langsung diseleksi dan dipilih ABG yang berparas cantik serta lugu," sambung Kabid Humas.

Pelaku kelima, A (laki-laki) (30) berperan sebagai calo Mami T dan tersangka keenam E (laki-laki) berusia 31 tahun, berperan calo Mami A sebagai timer, cleaning service, penjaga kamar, pencatat dan pengumpulan bayaran PSK. “Tersangka D dan TW mencari ke daerah dengan harga Rp 750 ribu sampai Rp 1 juta. Korban dijual ke hidung belang dengan harga Rp 150 ribu, namun korban hanya mendapat Rp 60 ribu. Rp 90 ribu buat biaya operasional,” terang Yusri sambil menambahkan Para pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka dan langsung dilakukan penahanan.

Kabag Binopsnal Ditreskrimum PMJ AKBP Pujiyarto menambahkan, sindikat ini melakukan perlakuan sadis terhadap korban. Mereka dipaksa melayani 10 tamu per hari. “Korban kalau tidak memenuhi target akan di denda dan tidak ada istilah haids. Mereka juga tidak ada pemeriksaan kesehatan,” paparnya.

Gaji korban dibayar setelah 2 bulan melakukan pekerjaannya. "Yang menyedihkan sebelum dijadikan pelacur, mereka dikurung dalam asrama yang tidak boleh keluar rumah, tidak boleh menghubungi keluarganya. ABG yang berparas cantik dijual dengan harga yang tinggi. Kemudian baru dikirim ke cafe Khayangan  untuk menemani minum, sekaligus bisa berhubungan badan," tuturnya.

AKBP Pujiyarto menambahkan Anak-anak tersebut juga diancam oleh para muncikari atau mami kafe. Jika mereka ingin keluar dari pekerjaannya sebagai pekerja seks harus membayar uang sebesar Rp1,5 juta. "Kalau anak ini mau keluar dari area kafe boleh, tapi harus menebus dengan uang 1,5 juta," ujarnya.

Dalam kasus ini, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa telepon genggam, buku daftar tamu Cafe Khayangan, buku catatan sewa kamar, ATM, KTP, dompet, dan beberapa alat alat kontrasepsi

Para tersangka dikenakan pasal berlapis. Pasal 76 l Jo Pasal 88 dan atau Pasal 76 F Jo Pasal 83 UU RI No. 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 296 KUHP dan atau Pasal 506 KUHP, dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak Rp200 juta. Pasal 296 KUHP, dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun, Pasal 506 KUHP, dengan pidana penjara paling lama 1 tahun. 0 END

 

 

 

 

Berita Lainnya
Kamis, 06 Agustus 2020
Sabtu, 25 Juli 2020
Kamis, 23 Juli 2020
Rabu, 22 Juli 2020
Minggu, 19 Juli 2020
Kamis, 16 Juli 2020
Rabu, 15 Juli 2020
Senin, 13 Juli 2020
Senin, 13 Juli 2020
Jumat, 10 Juli 2020
Rabu, 08 Juli 2020
Rabu, 08 Juli 2020