Jumat, 18 September 2020 14:05:07

BIN Berupaya Kembalikan Eks Napiter Akui NKRI

BIN Berupaya Kembalikan Eks Napiter Akui NKRI

Beritabatavia.com - Berita tentang BIN Berupaya Kembalikan Eks Napiter Akui NKRI

Pemerintah berkomitmen memerangi paham radikal dan terorisme sekaligus berupaya untuk mengembalikan para eks napi teroris (Napiter) mengakui NKRI. ...

BIN Berupaya Kembalikan Eks Napiter Akui NKRI Ist.
Beritabatavia.com -

Pemerintah berkomitmen memerangi paham radikal dan terorisme sekaligus berupaya untuk mengembalikan para eks napi teroris (Napiter) mengakui NKRI. Meskipun  kelompok teroris di Indonesia semakin berani dengan melibatkan anak-anak maupun perempuan untuk melakukan aksinya,seperti bom Surabaya pada 2018 silam. Serta  berani menyasar pejabat negara seperti penyerangan terhadap Menkopolhukam, Wiranto pada 2019 lalu.


Deputi Komunikasi dan Informasi Badan Intetelijen Negara (BIN), DR Wawan Hari Purwanto, mengatakan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011, BIN merupakan lini pertama dalam sistem keamanan nasional. Dalam hal ini, BIN berkepentingan untuk menjaga keamanan dan ketertiban nasinonal, termasuk terlibat dalam proses rehabilitasi Eks napi teroris (Napiter)agar kembali mengakui NKRI dan dapat kembali diterima masyarakat luas.

"Keberhasilan rehabilitasi mantan tahanan teroris memiliki arti penting bagi keamanan nasional maupun internasional. Selain itu, rehabilitasi Eks Napiter merupakan upaya memanusiakan manusia sekaligus upaya memberikan kesempatan kedua untuk menebus kesalahannya di masa lalu," kata Wawan Hari Purwanto, dalam keterangan tertulis,Kamis (17/9).

Dikatakan, BIN bersama dengan instansi negara lainnya, bekerja keras untuk melakukan rehabilitasi terhadap Eks Napiter. Salah satu contohnya adalah Paimin seorang pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah yang terbukti memimpin sebuah kelompok beranggotakan delapan orang dan berencana meracuni polisi di Polda Metro Jaya sebelum akhirnya ditangkap pada Oktober 2011 silam. Akibat perbuatannya tersebut, Paimin harus menjalani hukuman penjara di Polda Metro Jaya, Mako Brimob, dan Lapas Klas II A Magelang selama 30 bulan sebelum bebas pada April 2014.

Berbeda dengan Paimin, Priyatmo alias Mamo merupakan Eks Napiter yang menjalani hukuman lima tahun penjara atas kepemilikan senjata yang diselundupkan dari Filipina ke Indonesia melalui Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Timur, pada 2011. Meski memiliki latar belakang kasus terorisme dan kelompok yang berbeda, baik Paimin, Priyatmo, Eks Napiter lainnya telah sama-sama kembali kepada pangkuan NKRI, serta mengambil kesempatan kedua yang dimiliki untuk menebus kesalahan masa lalunya.

napiter

Foto : eks napiter ngopi bareng dengan Deputi komunikasi dan Informasi BIN

"Semuanya kini fokus memperbaiki taraf perekonomian keluarga masing-masing maupun lingkungan sekitar rumah mereka dengan berbagai kegiatan positif. Bahkan, Priyatmo menjadi ketua kelompok tani ikan di lingkungan tempat tinggalnya dengan rutin mengadakan latihan budidaya ikan secara mandiri, termasuk dalam membuat pakan ikan agar mendapat keuntungan maksimal saat panen tiba," ujar Wawan.

Pada Agustus 2020, para Eks Napiter juga mengikuti upacara bendera Perayaan HUT RI ke-75. Selain sebagai upaya untuk memupuk nasionalisme, kehadiran Eks Napiter menjadi simbol kembalinya mereka ke NKRI. Penanganan radikalisme harus dapat dilaksanakan dari hulu hingga hilir dan melibatkan semua pihak. Selain Pemerintah, masyarakat juga perlu berperan aktif dalam menerima kembali para Eks Napiter. Mengucilkan Eks Napiter dan para keluarganya justru akan semakin membuat mereka masuk ke dalam lingkaran kekerasan dan dapat kembali menjadi teroris.

BIN juga mengimbau, agar masyarakat terus aktif menangkal radikalisme yang saat in terus berkembang, utamanya di tengah pandemi Covid-19. Selain itu, semua pihak juga diharapkan mampu mengimplementasikan semangat toleransi, nilai-nilai kebangsaan dan konsep beragama sesuai tuntunannya masing-masing.

Menurut Wawan Hari Purwanto, diperlukan strategi kontra terorisme untuk menangkal aksi tersebut, salah satunya melalui program deradikalisasi yang menyasar kalangan Narapidana Terorisme (Napiter) maupun Eks Napiter. Deradikalisasi merupakan upaya menetralisir pemikiran radikal pelaku teror, dari yang awalnya radikal menjadi  tidak radikal. Serta bertujuan untuk merehabilitasi dan mereintegrasi eks napiter kembali ke masyarakat.

Wawan menjelaskan, ditengah ancaman serangan narasi terorisme yang banyak beredar lewat internet, kegiatan deradikalisasi menjadi sangat penting dilakukan. Meskipun dalam praktiknya menemui sejumlah kendala, seperti adanya penolakan masyarakat terhadap eks napiter.Sehingga program deradikalisasi dituding tidak optimal. Padahal, banyak eks Napiter yang telah hidup normal bahkan menjadi duta anti terorisme.
Menurut Wawan, minimnya informasi yang beredar di masyarakat tersebut pada  gilirannya telah membentuk persepsi negatif terhadap kebijakan penanganan  terorisme.Oleh karena itu, pelaksanaannya harus secara terpadu oleh kementerian dan lembaga terkait serta melibatkan partisipasi publik.0 son

Berita Lainnya
Senin, 12 Oktober 2020
Minggu, 11 Oktober 2020
Sabtu, 10 Oktober 2020
Jumat, 09 Oktober 2020
Kamis, 08 Oktober 2020
Rabu, 07 Oktober 2020
Selasa, 06 Oktober 2020
Senin, 05 Oktober 2020
Senin, 05 Oktober 2020
Minggu, 04 Oktober 2020
Sabtu, 03 Oktober 2020
Jumat, 02 Oktober 2020