Jumat, 21 Oktober 2022 14:42:56

Sumber Maritim Indonesia Kaya Tapi Komsumsi Sangat Rendah

Sumber Maritim Indonesia Kaya Tapi Komsumsi Sangat Rendah

Beritabatavia.com - Berita tentang Sumber Maritim Indonesia Kaya Tapi Komsumsi Sangat Rendah

Luas lautnya mencapai 5,8 juta kilometer dan panjang pantainya nomor dua terpanjang didunia yaitu lebih dari 97.000 kilometer. Tetapi karena ...

Sumber Maritim Indonesia Kaya Tapi Komsumsi Sangat Rendah Ist.
Beritabatavia.com - Luas lautnya mencapai 5,8 juta kilometer dan panjang pantainya nomor dua terpanjang didunia yaitu lebih dari 97.000 kilometer. Tetapi karena keterbatasan pemodalan dan sumber daya manusia Indonesia yang memberikan perhatian kepada dunia maritim. Sehingga wilayah maritim Indonesia yang sangat luas masih belum ditangani secara optimal. Padahal selama dua periode pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mencanangkan menjadi poros maritim dunia. 

Hal tersebut diungkapkan Capt.Marcellus Hakeng pengamat Maritim dari Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas Strategic Centre (IKAL SC) kepada media pada Kamis 20/10 di Jakarta. 

Menurut Marcellus Hakeng, memperjuangkan Indonesia menuju Poros Maritim Dunia sangat realistis. Karena Indonesia bisa menjadi poros maritim dunia melalui sumber daya protein ikan atau yang diistilahkan Gubernur Lemhannas sebagai protein biru (blue protein). 

"Indonesia memiliki sebelas Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI), yang meliputi antara lain perairan Selat Karimata, Laut Natuna, dan Laut China Selatan, perairan Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Seram, dan Teluk Berau, perairan Laut Aru, Laut Arafuru, dan Laut Timor bagian Timur. Ini seperti memiliki Emas Biru yang mahal harganya tapi sayang belum dikembangkan secara maksimal," katanya.

Untuk saat ini lanjut Capt. Hakeng, Indonesia berada dalam posisi keempat di dunia sebagai negara produsen ikan. Padahal Indonesia dapat berada di posisi ketiga atau bahkan nomor satu dunia sebagai produsen ikan jika WPPNRI itu digarap secara serius dan berkesinambungan.

Memang, lanjut Capt. Hakeng, untuk dapat mengoptimalkan kawasan WPPNRI tidak semudah membalikkan telapak tangan, dibutuhkan kerjasama antara semua pihak, baik di tingkat pusat maupun di daerah guna bisa mewujudkannya.

"Bukan hanya hasil tangkapan yang melimpah tapi juga dibutuhkan pelabuhan terpadu untuk perikanan tangkap. Di pelabuhan perlu juga dibangun pabrik pengolahan ikan, sehingga hasil ikan dapat langsung diolah. Dibutuhkan juga Gudang-gudang penyimpanan Ikan ber-pendingin (Cold Storage) untuk menjaga kesegaran ikan sebelum sampai ke konsumen serta untuk memperkecil biaya pengiriman hasil laut tersebut," ujar Capt. Hakeng.

Dia berharap pemerintah mau mengadakan kapal-kapal penampung atau kapal pengumpul ikan yang berdimensi lebih besar (Feeder ships to ships) di tengah laut. Kapal penampung atau pengumpul ikan ini nantinya juga bisa menyediakan bahan bakar, kebutuhan pokok, fasilitas pendinginan dan kebutuhan air tawar secara regular bagi kapal-kapal nelayan yang dilayaninya. Sehingga kapal dapat difungsikan sebagai kapal penampungan hasil tangkapan bagi para nelayan di titik–titik kapal nelayan atau kapal ikan tersebut biasa beroperasi di WPPNRI dan kapal-kapal nelayan tidak perlu lagi pulang pergi hanya untuk mengisi bahan bakar di darat. 

Capt. Hakeng menjelaskan,Indonesia memang kaya akan sumber ikan lautnya. Namun berdasarkan parameter,laut sebagai sumber pangan dalam rentang penilaian 0 sampai 100, nilai dari parameter laut Indonesia teramat rendah, hanya 34. Pengelolaan pangan perikanan di tanah air masih dinilai jauh dari praktik berkelanjutan.

"Artinya, dari parameter itu konsumsi ikan laut masyarakat Indonesia masih rendah," ujarnya.
Menurut Capt. Marcellus Hakeng, rendahnya konsumsi ikan masyarakat Indonesia karena beberapa hal, pertama, paradigma berpikir yang masih kontinental atau masih memiliki pola pikir Indonesia ini negara agraris. Kedua, sudah berlangsung lama sektor perikanan dimasukkan ke dalam sektor pertanian sehingga kurang mendapatkan perhatian dimana fokus lebih diberikan bagi sektor pertanian yang ada di daratan. Ketiga, sektor perikanan dimasukan ke kategori pangan. Sementara kebanyakan masyarakat kita dominan memahami pangan itu adalah beras serta bahan makanan karbohidrat lainnya yang ada di darat serta daging hewan ternak. Untuk ikan dan sumber pangan laut lainnya baru belakangan ini dapat perhatian.

"Saya mengusulkan, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dimana dua pertiga wilayahnya merupakan lautan, tentu tak berlebihan bila memposisikan laut menjadi pusat pemecahan dari berbagai persoalan bangsa Indonesia seperti pengentasan kemiskinan, penurunan angka pengangguran hingga pada persoalan kelaparan," kata Capt. Marcellus Hakeng. 0 red/son

Berita Lainnya
Rabu, 17 April 2024
Senin, 15 April 2024
Senin, 15 April 2024
Senin, 15 April 2024
Sabtu, 13 April 2024
Sabtu, 13 April 2024
Jumat, 12 April 2024
Selasa, 09 April 2024
Selasa, 09 April 2024
Minggu, 07 April 2024
Sabtu, 06 April 2024
Jumat, 05 April 2024