Beritabatavia.com -
Keempat calon walikota Depok boleh saja memberikan visi dan misinya. Namun warga Depok menantikan apakah apa yang dijanjikan saat masa kampanye tersebut bisa direalisasikan jikalau mereka nantinya menjabat walikota Depok.
Berjanji mah gampang, tapi realisasinya sulit. Nanti pasti berbenturan dengan berbagai macam kepentingan. Kami butuh walikota yang tegas dan bisa berpihak pada pembangunan Depok yang lebih manusiawi,ujar Narti, warga Pancoran Mas, Depok, Selasa (12/10).
Harapan Narti sebenarnya tidak muluk, ia hanya ingin Depok tidak macet, semrawut dan tidak memperhatikan lingkungan. Ia juga ingin agar warga mendapat kesempatan bekerja dan berusaha untuk bisa menopang hidupnya.
Dalam debat kandidat calon walikota Depok di Studio Jak TV, kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (12/10), keempatnya sepakat menelurkan kebijakan yang kelihatannya lebih berpihak pada rakyat.
Gagah- Dery Drajat, pasangan nomor urut 1 menginginkan agar pendidikan gratis dari SD sampai SMA, juga membangun akar budaya masyarakat Depok agar lebih mencintai daerahnya.
Sementara Yuyun-Pradi Supriyatna, pasangan nomor2 mengiginkan agar pembangunan berwawasan lingkungan diperhatikan. Yang menarik, Pradi Supriyatna sempat menelurkan ide agar pendidikan di Depok diarahkan untuk mendidik warga agar menjadi mandiri, atau menjadi entrepreneur. Saya yakin dengan adanya pendidikan entrepreneurship ini nantinya masayarakat bisa mandiri dan bahkan bisa mempekerjakan orang, dibanding hanya berharap pada lowongan kerja, ujarnya.
Selanjutnya, pasangan no3 dan 4, Nurmahmudi-Idris Abdul Shomad dan Badrul Kamal-Agus Supriyanto yang notabene sedang dan pernah menjadi walikota Depok, lebih menekankan pada akses transportasi ke kota Depok. Jalan tol Cinere Jagorawi digadang-gadang oleh mereka berdua dapat menjadikan Depok lebih maju. Keduanya juga berjanji, pembangunan jalan tol yang terkatung-katung selama 3 tahun dan baru tahun ini dilakukan pembebasan tanahnya bisa cepat selesai agar dapat memacu perkembangan kota Depok. O brn