Kamis, 11 Juli 2024 16:44:33

Minim Partisipasi Publik, Imparsial Desak DPR Jangan Bahas RUU TNI & Polri

Minim Partisipasi Publik, Imparsial Desak DPR Jangan Bahas RUU TNI & Polri

Beritabatavia.com - Berita tentang Minim Partisipasi Publik, Imparsial Desak DPR Jangan Bahas RUU TNI & Polri

Pada Senin, 8 Juli 2024, DPR RI menyatakan  sudah menerima empat Surat Presiden (Surpres), dua diantaranya tentang RUU TNI dan RUU ...

Minim Partisipasi Publik, Imparsial Desak DPR Jangan Bahas RUU TNI & Polri Ist.
Beritabatavia.com - Pada Senin, 8 Juli 2024, DPR RI menyatakan  sudah menerima empat Surat Presiden (Surpres), dua diantaranya tentang RUU TNI dan RUU Polri. 
Kemudian Pimpinan DPR memastikan RUU TNI dan RUU Polri akan dibahas pada sisa masa jabatan sebelum Oktober 2024 nanti, tepatnya pada masa sidang selanjutnya yakni di bulan Agustus 2024. Padahal, DPR belum menerima Daftar Inventaris Masalah ( DIM) dari Pemerintah.   

Terkait hal tersebut pada 11 Juli 2024 Lembaga Sosial Masyarakat Imparsial menyampaikan siaran pers No.013/Siaran-Pers/IMP/WII/2024 sebagai respon surat Presiden tentang RUU TNI dan RUU Polri ke DPR. Siaran pers yang dibuat oleh Direktur Imparsial Gufron Mabruri dan Wakilnya Ardi Manto serta Annisa Yudha koordinator HAM dan Hussein Ahmad koordinator SSR

Disebutkan, pengajuan Surpres RUU TNI dan Polri menunjukan bahwa pemerintah dan DPR mengabaikan kritik dan masukan dari masyarakat sipil untuk tidak melanjutkan pembahasan kedua RUU tersebut. 
Imparsial menilai, langkah tersebut adalah bentuk pemaksaan yang berpotensi berdampak terhadap diabaikannya partisipasi publik mengingat masa bakti DPR Periode 2019-2024 tidak lama lagi akan berakhir. Ditambah lagi, substansi usulan perubahan dalam kedua RUU tersebut memiliki sejumlah persoalan yang serius yang dikhawatirkan akan memundurkan agenda reformasi TNI dan Polri.

Penting dicatat, pembahasan RUU TNI dan RUU Polri berkaitan dengan kepentingan masyarakat secara luas. Karena itu, menjadi penting bagi DPR RI untuk benar-benar mempertimbangkan kritik, saran dan masukan dari masyarakat sipil mengingat mereka yang akan terdampak langsung oleh penerapan kedua UU tersebut. 
“Kami juga sangat khawatir di tengah waktu yang singkat tersebut, pembahasan RUU TNI dan RUU Polri cenderung transaksional sehingga mengabaikan partisipasi dari kalangan masyarakat sipil,” kata Gufron Mabruri.

Menurutnya,  sedari awal rencana revisi UU Polri dan UU TNI telah mengabaikan asas keterbukaan yang diharuskan oleh undang-undang. Tidak ada keterbukaan kepada masyarakat sebagai pihak yang terdampak dari kedua RUU tersebut, dan baru diketahui setelah DPR mengesahkan kedua RUU tersebut sebagai usul inisiatif DPR RI. 

Pelibatan partisipasi publik merupakan aspek penting dalam pembentukan peraturan perundangan-undangan. Pada pasal 5 huruf g UU Nomor 13 Tahun 2022 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Ada tujuh asas yang harus dipenuhi dalam pembentukan UU, salah satunya adalah Asas Keterbukaan. Pada bagian penjelasan, yang dimaksud dengan asas keterbukaan adalah bahwa pembentukan peraturan perundang-undangan, mulai dari perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan, dan pengundangannya (termasuk pemantauan dan peninjauannya), memberikan akses kepada publik yang mempunyai kepentingan dan terdampak langsung untuk mendapatkan informasi dan/atau memberikan masukan pada setiap tahapan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang dilakukan secara lisan dan/atau tertulis dengan cara daring (dalam jaringan) dan/atau luring (luar jaringan).

Apalagi DPR RI periode 2019-2024 akan segera berakhir, sehingga pembahasan keduanya berpotensi mengabaikan partisipasi publik dan berdampak pada lahirnya aturan perundang-undangan yang anti-kritik dan represif. 

Lebih jauh, Imparsial menilai secara substansi RUU TNI dan RUU Polri memiliki usulan perubahan yang bermasalah. Alih-alih mendorong perbaikan dan menjadikan TNI dan Polri lebih profesional, sejumlah usulan perubahan yang ada akan membuat kedua institusi tersebut semakin menjauh dari kepentingan dan mandat reformasi, jika diakomodir oleh DPR. 
Karena itu, penting bagi Pemerintah dan DPR untuk benar-bener mencermati kritik, saran dan masukan dari berbagai kelompok masyarakat sipil. Jangan sampai DPR menghasilkan produk legislasi yang merusak prinsip negara hukum, mengancam demokrasi dan hak asasi manusia.

Berdasarkan pandangan di atas, IMPARSIAL mendesak DPR RI untuk tidak melanjutkan pembahasan RUU TNI dan RUU Polri di sisa masa periode yang tidak banyak. Di tengah masa baktinya yang akan berakhir, sebaiknya DPR dan pemerintah memfokuskan pada upaya evaluasi dan perbaikan terhadap berbagai praktik penyimpangan dalam pelaksana tugas TNI/Polri dan mendorong agenda reformasi yang tertunda. 0 rls/son

Berita Lainnya
Kamis, 27 Juni 2024
Kamis, 27 Juni 2024
Rabu, 26 Juni 2024
Rabu, 26 Juni 2024
Selasa, 25 Juni 2024
Selasa, 25 Juni 2024
Jumat, 21 Juni 2024
Kamis, 20 Juni 2024
Rabu, 19 Juni 2024
Senin, 17 Juni 2024
Sabtu, 15 Juni 2024
Jumat, 14 Juni 2024