Beritabatavia.com -
Sebelum dimakamkan di pemakaman keluarga di Srumen, Glagaharjo, Cangkringan, jenazah Mbah Marijan terlebih dahulu disalatkan di Masjid Kampus Universitas Islam Indonesia (UII), Kamis (28/10).
Dalam perjalanan dari RS Sardjito ke kampus UII di kaki Merapi, ambulan yang mengangkut Mbah Marijan dikawal sekitar seribu sepeda motor. Masyarakat Jogja terlihat berdiri di sepanjang jalan, untuk memberikan penghormatan terakhir dan melepas kepergian juru kunci Gunung Merapi itu selama-lamanya. Beberapa dari mereka terlihat meneteskan airmata.
Sekitar pukul 10.00 WIB, peti mati Mbah Maridjan tiba di Kampus Terpadu UII. Tak hanya disambut para civitas akademika, sang kuncen juga disambut para pangeran Keraton Yogyakarta.
Ada adik-adik Sultan Hamengkubuwono X, seperti GBPH Yudhaningrat, GBPH Cakraningrat, dan GBPH Adi Suryo.
Nanti di pemakaman, kalau tidak Sultan, Gusti Kanjeng Ratu Hemas yang hadir, kata Yudhaningrat.
Bagi keraton Jogja, Mbah Marijan adalah abdi dalem yang setia. Ia pribadi mulia dan bertanggung jawab. Ia rela mengabdi sebagai juru kunci hingga akhir hayat, tambah dia.
Mbah Marijan wafat pada Selasa (26/10) petang, saat awan panas Merapi 'wedhus gembel' menerjang Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Yogyakarta. 'Amuk' Merapi menghancurkan segala sesuatu di Kinahrejo.
Pada Rabu (27/10), pria yang mengabdi di Merapi sejak 1982 itu ditemukan tewas di rumahnya dalam posisi bersujud. o nor