Rabu, 28 Januari 2026 15:56:30

Komjen Prof. Chryshnanda Terima Kitab Ma Ha Is Ma Ya dari Tokoh Spiritual

Komjen Prof. Chryshnanda Terima Kitab Ma Ha Is Ma Ya dari Tokoh Spiritual

Beritabatavia.com - Berita tentang Komjen Prof. Chryshnanda Terima Kitab Ma Ha Is Ma Ya dari Tokoh Spiritual

JAKARTA - Di tengah kebisingan zaman yang sering menempatkan rasio di atas nurani, sebuah peristiwa hening namun sarat makna berlangsung di ...

Komjen Prof. Chryshnanda Terima Kitab Ma Ha Is Ma Ya dari Tokoh Spiritual Ist.
Beritabatavia.com - JAKARTA - Di tengah kebisingan zaman yang sering menempatkan rasio di atas nurani, sebuah peristiwa hening namun sarat makna berlangsung di Jakarta, Selasa (27/1). Sri Eko Sriyanto Galgendu menyerahkan Kitab Spiritual Ma Ha Is Ma Ya kepada Komjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si, sebagai ikhtiar merawat dimensi batin dalam kehidupan kepemimpinan dan kebangsaan.

Penyerahan kitab tersebut disaksikan Karodalops Stama Ops Mabes Polri Brigjen Pol Benni Iskandar Hasibuan, anggota Dewan Pakar PWI Pusat Raldy Doy, Bendahara PWI Jaya Dar Edi Yoga, serta wartawan senior Jacob Ereste. Kehadiran para tokoh lintas profesi ini memperlihatkan bahwa spiritualitas bukan ruang eksklusif, melainkan denyut yang menyatu dengan kehidupan sosial dan negara.

Kitab Ma Ha Is Ma Ya lahir dari proses batin yang panjang. Sri Eko menyusunnya bukan dari imajinasi, melainkan dari bahasa Bhumi, bahasa simbolik semesta yang ia tangkap melalui kehadiran, laku hidup, dan keteladanan berbagai tokoh Indonesia. Rapalan atau paritta dari bahasa Bhumi itu kemudian dirangkai menjadi Ayat-Ayat Bhuwana, yang menjadi inti kitab tersebut.

Sri Eko dikenal memiliki kemampuan membaca dan menafsirkan bahasa Bhumi, bahasa yang diyakini menyimpan pesan tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan tanah air.

"Kitab ini tidak mengajarkan siapa yang paling benar, tetapi mengajak manusia kembali jujur pada batinnya," ujar Sri Eko. "Bahasa Bhumi mengingatkan saya bahwa hidup akan kehilangan makna ketika manusia tercerabut dari Tuhan, lupa pada sesama, dan abai pada tanah yang menghidupinya."

a menegaskan, Ma Ha Is Ma Ya bukanlah kitab untuk dipuja, melainkan untuk direnungkan.

"Ayat-Ayat Bhuwana adalah cermin. Ia hanya memantulkan kembali apa yang sebenarnya sudah ada di dalam diri manusia, nurani, kesadaran, dan tanggung jawab," tuturnya.

Komjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana memaknai penyerahan kitab tersebut sebagai pengingat penting bagi seorang pemimpin dan aparat negara.

"Kekuatan hukum dan kewenangan negara tidak akan pernah cukup tanpa kejernihan batin,” kata Chryshnanda. “Spiritualitas memberi arah, agar kekuasaan tidak kehilangan kemanusiaannya dan ketegasan tidak berubah menjadi kekerasan."

Menurutnya, kepemimpinan sejati bertumbuh dari kesadaran akan makna pengabdian.

"Ketika batin tertata, maka tindakan akan lebih adil. Ketika nurani hidup, maka hukum akan hadir sebagai pelindung, bukan sekadar alat," ujarnya.

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering melupakan kedalaman makna, Ma Ha Is Ma Ya hadir sebagai laku sunyi, sebuah titipan nilai yang menjembatani spiritualitas dan pengabdian, agar manusia Indonesia tetap berpijak pada bumi, menengadah kepada Tuhan, dan setia memuliakan kemanusiaan.

Berita Lainnya
Jumat, 30 Januari 2026
Kamis, 29 Januari 2026
Rabu, 28 Januari 2026
Selasa, 27 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Jumat, 16 Januari 2026
Rabu, 14 Januari 2026