Beritabatavia.com -
Ratusan massa yang terkumpul di depan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya menimbulkan kericuhan dengan aparat kepolisian. Massa yang datang bergelombang dari kelompok yang berbeda-beda ini bentrok dengan polisi karena dianggap melakuakn tindakan anarkis.
Kali ini, polisi kembali membekuk dua demonstran. Sebelumnya, dua demonstran dari HMI MPO juga sudah ditangkap polisi dan dibawa ke Polrestro Jakarta Selatan. Dua demonstran yang ditangkap yakni Pandapotan Lubis dari Rakyat Bergerak dan Laode Kamaludin dari Fraksi Kapak. Pandapotan mengatakan, saat dirinya membentangkan baliho, polisi justru menyergapnya.
Sudah ada lima baliho kami disita polisi, padahal kami hanya ingin menyuarakan aspirasi. Keinginan kami hanya satu, SBY Jatuh! ucap Pandapotan, Kamis (9/12/2010), saat diamankan aparat ke gedung Jasa Raharja, sebagaimana dilansir kompas.com.
Sesaat setelah Pandapotan diamankan, massa yang masih berkumpul di depan gedung KPK kembali ricuh. Kali ini kericuhan terjadi karena aksi pembakaran yang dilakukan massa dari Fraksi Kapak. Akibatnya, satu orang demonstran, yakni Laode Kamaludin, diamankan polisi.
Laode berusaha berkelit dari polisi, namun polisi tetap berhasil menangkapnya dan kemudian diamankan juga di Gedung Jasa Raharja. Apa-apan ini saya seperti binatang, diseret-seret seperti ini. Saya akan lapor polisi! ungkap Laode.
Dia pun mengaku menderita luka di bagian bibir akibat pukulan dari aparat kepolisian. Saya akan visum dan laporkan ini. Bagi saya, membakar itu bukan anarkis. Yang anarkis itu kelakuan para koruptor, ucap Laode.
Dalam peringatan Hari Antikorupsi Sedunia itu pelataran KPK diramaikan aksi demonstrasi dari berbagai elemen massa, yakni Universitas Bung Karno, Front Persatuan Mahasiswa Indonesia, Front Rakyat Antikorupsi (Kapak), dan Rakyat Bergerak.
Kemacetan tak bisa dihindarkan hingga dari shelter busyway Setiabudi Utara. Jalur lambat di depan KPK, Jalan HR Rasuna Said pun ditutup akibat banyaknya massa. o nor (foto: kompas.com)