Sabtu, 29 Januari 2011 14:01:22

Kisah Wanita 'Simpanan' Warnai Sejarah Batavia

Kisah Wanita 'Simpanan' Warnai Sejarah Batavia

Beritabatavia.com - Berita tentang Kisah Wanita 'Simpanan' Warnai Sejarah Batavia

Mungkin hingga akhir jaman, cerita tentang wanita tak pernah usang. Bahkan, sebuah perbincangan kian menarik apabila ditambah ‘bumbu’ ...

Kisah Wanita 'Simpanan' Warnai Sejarah Batavia Ist.
Beritabatavia.com - Mungkin hingga akhir jaman, cerita tentang wanita tak pernah usang. Bahkan, sebuah perbincangan kian menarik apabila ditambah ‘bumbu’ tentang wanita. Anehnya, bukan hanya kaum pria,  para wanita juga tak pernah bosan bila bercerita tentang kehidupan kaummya. Tidak salah, jika wanita itu disebut mahluk penuh misteri.

Kisah tentang wanita tetap menggairahkan. Termasuk kisah wanita-wanita ‘simpanan’ para tuan tanah Eropa dan tauke-tauke  kaya di era penjajahan kolonial Belanda. Begitu juga sebutan untuk wanita, beragam dan terus berkembang sesuai dengan kondisi di eranya. Pada  masa kerajaan dulu, para wanita ‘simpanan’ biasa disebut ‘selir’, mereka biasanya  dikumpulkan disalah satu ruang pendopo khusus. Sehari-harinya, mereka hanya menjalankan tugas sebagai pemuas nafsu atau teman bercerita Raja dan kerabat kerajaan.

Nasib ‘selir’ tak ubahnya seperti budak, hanya terkadang lebih beruntung dari sisi materi. Namun, nasib dan kehidupannya tergantung oleh majikan. Jika majikan merasa jenuh dan tidak lagi menyukainya, ia langsung dibuang layaknya seperti sampah. Sebaliknya, ‘selir’ akan mendapat kehidupan yang bergelimang harta dan kesenangan. Apabila, majikan menyukainya bahkan jatuh cinta padanya.

Lalu, pada penjajahan kolonial Belanda  yang saat itu Jakarta masih bernama Batavia, wanita-wanita simpanan biasa disebut ‘Nyai’. Pada masa itu, atau  sejak pemerintahan J.P Coen memiliki ‘nyai’ menjadi sebuah tren. Bahkan dianggap sebagai ukuran status para kaum bangsawan serta tuan tanah Eropa. Pada saat itu, seorang pengamat sosial bernama  Valentijn mengatakan, nyaris tidak seorang pun yang kedudukannya  terpandang di Jawa tanpa  mempunyai gundik.

Para ‘Nyai’ biasanya berasal dari wanita pribumi berparas cantik, tentu dengan body aduhai. Mereka terpaksa jadi ‘Nyai’ dengan alasan  desakan ekonomi, atau ada juga karena korban kejahatan sindikat perdagangan budak. Sehingga tidak sedikit wanita yang terpaksa menjadi Nyai  atau sebagai  pemuas nafsu para pria Belanda dan tuan-tuan tanah eropa, berujung dengan kisah memilukan.
Sepintas, tampak dari sisi materi kehidupan para ‘Nyai’ lebih unggul. Namun, dalam status sosial kehadiran ‘Nyai’ kerap  dianggap sebagai wanita murahan. Mereka dituding, tidak akan pernah  mendapatkan status ‘istri’ walaupun diantara mereka banyak yang telah memiliki anak dari hasil hubungan dengan majikannya. Justru, mereka di stempel sebagai penjinah oleh masyarakat pribumi sendiri. 

Dari banyak cerita  tentang ‘Nyai’ yang tersimpan di perut bumi Batavia. Ada sejumlah kisah tentang wanita ‘Nyai’ yang sangat popular, hingga era reformasi saat ini. Diantaranya, kisah ‘Nyai’ Dasima yang terjadi pada sekitar 1811-1816. Wanita berparas cantik asal Parung, dikenal sebagai ‘gundik’ seorang warga Inggris yang telah menetap di Batavia bernama Meener Edward William.

Kala itu,  ‘Nyai’ Dasima kabur dari Meener Edward William dan rela menjadi istri kedua pria pujaannya seorang sopir sado (Delman) bernama Samiun. Namun, pilihan Dasima untuk memiliki pria yang sungguh di cintainya berakhir tragis. Karena, beberapa saat setelah Dasima meninggalkan Edward William, warga menemukan  wanita asal Parung itu sudah tidak bernyawa dalam kondisi mengenaskan di sekitar wilayah kali Kwitang.

Kisah  yang tak kalah menarik juga ditorehkan seorang ‘nyai’ bernama Mariam. Disaat Mariam masih dalam dekapan seorang pria sinyo Belanda bernama John. Dia merangkai cinta segitiga dengan seorang sopir sado bernama Husin. Tapi, tidak berapa lama kemudian, Mariam ditemukan tewas di sekitar jembatan Ancol.
Disusul dengan kisah seorang wanita cantik asal Bali bernama Rosiana yang akhirnya di hukum gantung hingga tewas di depan Stadhuis (sekarang Museum Fatahillah ).

Kemudian pada abad ke-18, tercatat seorang putra Gubernur Jendral van Riemsdijk bernama Williem Vincent Helvetius yang menguasai perkebunan di kawasan Cibinong, Cimanggis, Tanah Abang dan beberapa tempat lainnya. Melakukan kombinasi bisnis dengan urusan ‘nyai’. Maka, Williem Vincent memelihara seorang ‘nyai’ di setiap wilayah geray perkebunannya. Dengan tujuan, supaya pengawasan perkebunan miliknya berjalan baik. Berdasarkan catatan, pada akhir hidupnya  Williem meninggalkan  24 anak dari 14 istri dan 10 ‘Nyai’.
Praktik memelihara ‘nyai’ sedikit berbeda dengan Cornelis Chastelein. Pria berdarah Belanda-Prancis yang dikenal sebagai bapak pendiri Depok, berbeda dengan para anggota kelompok terpandang lainnya. Dia tidak memilih pola dagang ‘kue apam’ seperti yang dilakoni para warga Belanda dan tuan tanah di Batavia. Menurut Cornelius, lebih baik beli harga grosir daripada ketengan karena harganya lebih mahal.

Tapi, tidak tanggung-tanggung Cornelis sekaligus mengawini dua perempuan pribumi asal Bali. Meskipun saat itu Cornelis sudah memiliki istri wanita Belanda bernama Cahtarina van Vaalberg. Cornelis Chastelein yang saat itu sebagai  pegawai tinggi VOC, meminta pensiun dini lalu inves di hutan belantara Depok. Kemudian minta merdeka dari VOC, dan mendirikan Depok tanpa pertumpahan darah. Cornelis Chastelein meninggal dunia dan dikebumikan di Depok yang saat ini persis di  belakang RS Hermina Depok.

Lalu, pada akhir abad 18, terjadi sebuah perubahan kehidupan antara budak pribumi dengan budak Cina. Sebagian besar para budak Cina adalah pekerja keras dan tekun, kendati kerap  menghalalkan segala cara, mulai menuai hasil. Sementara, budak pribumi tetap dalam kemiskinan, karena malas, dan kurang memiliki daya juang  serta tidak memikirkan masa depan.

Seiring dengan perubahan itu, muncullah sejumlah budak cina yang menjadi juragan atau tuan tanah dan pengusaha yang mempekerjakan kaum pribumi. Kemudian, melanjutkan budaya Eropa ‘doyan’ memelihara ‘nyai’.
Seperti seorang Mayor (Cina), bernama Khouw Kim An yang memiliki banyak istri. Mereka tinggal di satu rumah yang bernama Sing Ming Hui sekarang Chandra Naya, yang kemudian rumah itu ditempati  Majoor der Chineezen Khouw Kim An pada sekitar 1875-1945. Rumah yang terletak di jalan Molenvliet West atau saat ini Jalan Gajah Mada 188 memiliki 100 buah kamar yang di isi 14 istri dan anak-anaknya.

Disusul dengan Oei Tiong Ham (OTH) seorang kapiten  Cina yang dikenal  sebagai raja Tebu dan Pabrik Gula di Semarang. Oei yang pada masa itu seorang konglomerat papan atas mempunyai banyak isteri. Dengan alasan mengawini banyak wanita hanya untuk mendapatkan anak laki-laki, untuk meneruskan kerajaan bisnisnya. 0 berbagai sumber/son





Berita Lainnya
Selasa, 12 Mei 2026
Selasa, 12 Mei 2026
Selasa, 12 Mei 2026
Senin, 11 Mei 2026
Senin, 11 Mei 2026
Minggu, 10 Mei 2026
Sabtu, 09 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Kamis, 07 Mei 2026
Selasa, 05 Mei 2026