Jumat, 11 Februari 2011

Harga Kedelai Naik, 5000 Perajin Tahu Tempe Bangkrut

Harga Kedelai Naik, 5000 Perajin Tahu Tempe Bangkrut

Beritabatavia.com - Berita tentang Harga Kedelai Naik, 5000 Perajin Tahu Tempe Bangkrut

Sedikitnya 115.000 perajin tahu tempe di seluruh Indonesia berteriak menuntut harga kedelai diturunkan. Saat ini harga kedelai yang mendekati Rp7.000 ...

Ist.
Beritabatavia.com - Sedikitnya 115.000 perajin tahu tempe di seluruh Indonesia berteriak menuntut harga kedelai diturunkan. Saat ini harga kedelai yang mendekati Rp7.000 perkg, dinilai sangat mencekik perajin tahu tempe yang umumnya pengusaha rumahan dengan modal pas-pasan. Jika kondisi ini dibiarkan jumlah industri kecil ini semakin banyak yang bergelimpangan alias gulung tikar.

"Saat ini sudah 5000 perajin tahu tempe yang menghentikan produksi, gulung tikar, bangkrut karena tingginya harga kedelai yang dinilai tak mampu menghasilkan keuntungan. Jika pemerintah membiarkan dan tidak ada kemauan untuk menstabilkan harga kedelai, jumlah perajin tahu tempe semakin banyak," ungkap Aep Syarifuddin, Ketua Gabungan Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia (GAKOPTTINDO), di Jakarta, Jumat (11/2).

Aep melanjutkan Syarifuddin, 5000 perajin tahu tempe yang mengalami gulung tikar, kebanyak perajin dengan modal kecil yang mempekerjakan dua sampai tiga orang karyawan. Umumnya usaha perajin tahu tempe bukan mencari kekayaan, namun mengisi waktu ketimbang menjadi penggangguran. Dan penghasilannya cuma cukup untuk bisa buat makan.

Menurutnya, naiknya harga kedelai karena permainan importir dan tidak melalui Badan Urusan Logistik (Bulog). Akibatnya sejak November sampai Desember 2010 harga kedelai terus merangkak naik, dari Rp3.800 per kilogram menjadi Rp4.500 per kilogram. Kondisi itu diperburuk dengan adanya pemberlakukan pajak bea masuk kedelai sejak awal Desember 2010 sebesar lima persen, sehingga harga kedelai melonjak lagi pada level Rp6.800- Rp7.000 per kilogram.

Untuk itu, perajin berharap pengadaan kacang kedelai kembali ditangani Bulog. Sebab, jika tetap dikuasai para importir, harga kedelai akan naik terus dan imbasnya dapat mematikan usaha para perajin.  

Kebutuhan kedelai untuk 115.000 perajin di Indonesia setiap tahun mencapai 1,2 juta ton sampai 1,5 juta ton. Artinya setiap tahun mencapai satu setengah miliar kilogram. Jika kenaikan mencapai Rp2.000 per kilogram berarti Rp3 triliun per tahun yang seharusnya menjadi pendapatan perajin tahu tempe setiap tahun menjadi berkurang.

Ketua Primer Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Primkopti) DKI Jakarta, Suharto, mengaku tidak hanya kedelai saja yang menjadi penyebab kenaikan harga tempe dan tahu di pasaran. Bahan-bahan lain seperti plastik, ragi, kayu bakar dan lain sebagainya, menjadi beberapa faktor tambahan meroketnya harga makanan berbahan dasar kedelai itu.

Akibat kenaikan tersebut, kata Suharto, para perajin tempe terpaksa harus mengurangi produksinya. Karena kenaikan harga kedelai tidak bisa diikuti dengan kenaikan harga jual tempe yang tinggi. Selain itu, daya beli masyarakat juga tidak tinggi. Karena tahu dan tempe lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke bawah. "Mau tidak mau para perajin tempe harus menelan pil pahit karena keuntungan yang mereka dapatkan merosot," tambah Suharto.

Ia berharap, ada campur tangan pemerintah agar harga kedelai bisa stabil kembali dan para perajin tempe tidak kehilangan pekerjaan. Karena menurutnya, jika harga kedelai terus merangkak naik, produksi tahu tempe terancam terhenti.

Akibat melonjaknya harga kedelai, harga tempe dan tahu di sejumah pasar di Jakarta Pusat seperti pasar Serdang dan pasar Senen mengalami kenaikan hingga Rp 5.000 dari harga sebelumnya yang hanya Rp 3.000. o end


Berita Lainnya
Senin, 01 Juli 2019
Jumat, 28 Juni 2019
Rabu, 26 Juni 2019
Selasa, 25 Juni 2019
Selasa, 25 Juni 2019
Senin, 24 Juni 2019
Minggu, 23 Juni 2019
Jumat, 21 Juni 2019
Kamis, 20 Juni 2019
Rabu, 19 Juni 2019
Senin, 17 Juni 2019
Sabtu, 15 Juni 2019