Minggu, 13 Februari 2011

Kinerja Garuda Belum Meyakinkan

Kinerja Garuda Belum Meyakinkan

Beritabatavia.com - Berita tentang Kinerja Garuda Belum Meyakinkan

Anjloknya harga saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, dalam perdagangan hari pertama di Bursa Efek Indonesia Jumat (11/2) pekan lalu diperkirakan ...

Ist.
Beritabatavia.com - Anjloknya harga saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, dalam perdagangan hari pertama di Bursa Efek Indonesia Jumat (11/2) pekan lalu diperkirakan karena kinerja perseroan yang belum meyakinkan di mata investor.

“Jujur saja Garuda tidak siap. Memang kinerjanya akhir-akhir ini membaik, tapi belum cukup meyakinkan,” kata Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM Tony Prasetiantono, di Jakarta, Ahad (13/2).

Saat penawaran perdana saham publik (IPO) Garuda ditawarkan Rp 750 per lembar. Namun hanya diperdagangkan pada angka tertinggi Rp 700, bahkan sempat mencapai titik terendah di harga Rp 580. Pada akhir perdagangan hari itu, saham Garuda ditutup pada harga Rp 620.

Selain itu, rupanya saham Garuda tidak seluruhnya dipesan investor. Meski terserap penuh, sebanyak 47,6 persen saham diambil oleh penjamin emisi.  Dalam catatan yang diterbitkan BEI diketahui jumlah saham yang dipesan investor sebanyak 3,33 miliar lembar saham.

Sedangkan sebanyak 3 miliar lembar saham sisanya diambil oleh penjamin emisi. Total saham Garuda yang ditawarkan adalah 6,33 miliar lembar saham dengan total dana yang dihimpun sebanyak Rp 4,75 triliun.

Menurut Tony, kinerja Garuda yang belum meyakinkan terlihat dari meruginya rute Jakarta-Amsterdam yang dibuka kembali oleh Garuda beberapa waktu lalu, yang kemudian menggerogoti  laba dari rute domestik.

“Laba Garuda paling hanya sekitar Rp300 miliar. Bandingkan dengan laba Bank Mandiri dan BRI yang sekitar Rp 8 triliun. Jauh sekali,” kata Tony.

Selain itu, industri penerbangan juga dinilai tidak menarik dibandingkan industri perbankan, telekomunikasi, dan infrastruktur seperti semen dan baja. Industri penerbangan riskan dan menuntut zero tolerance. Jika terjadi kecelakaan sekali saja, maka reputasi di mata investor akan langsung hancur.

“IPO Garuda tergesa-gesa. Selain kinerja yang belum meyakinkan, juga ada faktor utang ke Mandiri yang harus dibayar dengan sebagian hasil IPO, yang jumlahnya Rp 1,8 triliun. Itu sangat besar, dan investor pasti tidak senang hasil IPO kok dipakai bayar utang,” kata Tony.

Belum lagi masalah waktu pelaksanaan IPO yang berdekatan dengan rights issue Bank Mandiri. Menurut Tony, melihat faktor-faktor di atas maka investor akan cenderung memilih saham Bank Mandiri dibandingkan Garuda.

Menurutnya, itu berbanding terbalik dengan saat pemerintah melepas saham PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dengan harga murah. “Pasar sedang bullish, oversubscribed, malah Krakatau Steel dijual dengan harga konservatif. Jadi Kementerian BUMN dua kali salah. Jual Krakatau Steel terlalu murah, jual Garuda tidak taktis,” kata Tony. o end



Berita Lainnya
Sabtu, 23 Maret 2019
Jumat, 22 Maret 2019
Kamis, 21 Maret 2019
Rabu, 20 Maret 2019
Jumat, 15 Maret 2019
Kamis, 14 Maret 2019
Rabu, 13 Maret 2019
Rabu, 13 Maret 2019
Selasa, 12 Maret 2019
Senin, 11 Maret 2019
Senin, 11 Maret 2019
Jumat, 08 Maret 2019