Beritabatavia.com -
Keinginan menjadikan Batavia sebagai mutiara timur jauh, hingga saat ini belum terwujud. Bahkan, keinginan itu kian jauh.
Seandainya kapal Batavia tidak menabrak karang dan tenggelam di perairan lepas pantai Australia. Jakarta (red-Batavia) sudah menjadi Mutiara timur jauh sejak 1628.
Kapal itu bermuatan pintu gerbang berukuran tinggi 7 meter, lebar 4,4 meter, dan tersusun dari 137 balok yang masing-masing berukuran 50 x 90 cm. Gerbang berwarna kuning keputihan, dan memiliki hiasan di setiap sudutnya. Yang akan dipasang di pintu utama pelabuhan Sunda Kelapa. Upaya mempercantik dilakukan Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen setelah berhasil mengusir Portugis dan sekaligus menganti nama menjadi Batavia.
Lalu, Gubernur Jenderal Coen memesan pintu dari negeri asalnya Amsterdam. Pembuatan pintu gerbang itu melibatkan puluhan pemahat ternama di Amsterdam saat itu. Sayang, pintu yang berhiaskan uang perak, dan porselen dan akan diletakakn di palka pintu utama pelabuhan Sunda Kelapa, tenggelam bersama kapal ‘Batavia’ di perairan lean pantai Australia, saat berlayar dari Amsterdam menuju Batava.
Kapal yang mengalami kecelakaan karena menabrak karang juga mengangkut 341 penumpang dan anak buah kapal (ABK), serta 180 prajurit. Berikut 38 penumpang yang terdiri dari anak-anak dan wanita. Guna pertahanan dan antisipasi dari serangan bajak laut, kapal pengangkut gerbang yang dipimpin nakhoda Fransisco Pelsaert dan Adrieaen Jacobs dilengkapi dengan 32 meriam.
Dalam pelayaran yang memakan waktu berbulan-bulan menabrak karang persisnya pada 4 Juni 1629. Peristiwa itu terjadi akibat nakhoda Jacobs mabuk, sehingga tidak mengetahui bahwa kapal sudah memasuki kawasan gugusan pulau karang di lepas pantai Australia. Hal itu terungkap berdasarkan catatan nakhoda Fransisco Pelsaert yang dituangkan dalam Ongeluckige Vojagie Van't Schip Batavia, Nae de Oost-Indien dan terbit 1947.
Dalam buku itu disebutkan, bahwa pada Senin 4 Juni 1929. Kapal Batavia berada pada 28-28,5 derajat Lintang Selatan. Kapal menabrak karang, sebagian dinding jebol, 40 orang hilang, air laut mengalir masuk, Batavia terbelah dan tenggelam.
Pelsaert, bersama 47 penumpang kapal Batavia, segera mencari pertolongan ke Pulau Jawa. Penumpang lainnya ditinggal di lokasi kecelakaan. Ia berlayar selama 22 hari dan mendarat di Nusakambangan, selanjutnya menuju Batavia. Pada 17 September 1629 Pelsaert kembali ke lokasi kecelakaan. Namun ia menemukan 96 anak buahnya tewas dibunuh kelompok pemberontak pimpinan Jeronimus Cornelisz, yang ingin menguasai muatan kapal.
Pelsaert hanya bisa menyelamatkan 154 penumpang, dan membawanya ke Batavia. Sedangkan seluruh isi Kapal Batavia terkubur selama 300 tahun di dasar laut. Jan Pieterzoon Coen menyambut berita ini dengan linangan air mata. Ia tidak pernah lagi berminat mewujudkan gagasannya mendirikan gerbang di pintu pelabuhan. Selama seratus tahun cerita tenggelamnya Kapal Batavia menggerakkan minat pemburu harta karun.
Namun, catatan Pelsaert yang samar-samar menyebabkan lokasi kuburan Batavia tak pernah ditemukan sampai dan setelah PD II.
Adalah sejarawan Henrietta Drake-Brockman yang memecahkan teka-teki lokasi makam Batavia. Setelah mempelajari peta yang diselamatkan Pelsaert, Brockman akhirnya menemukan lokasi makam kapal Batavia. Namun, tidak mudah mengangkat seluruh muatan Batavia. Brockman memerlukan waktu 13 tahun untuk menunggu, atau sampai ditemukan teknologi yang bisa mengangkut barang berat dari dasar laut itu.
Setidaknya terdapat 15 ribu artefak yang berhasil diselamatkan, dan kini tersimpan di Museum Australia Barat. Kisah, tentang upaya Coen mendirikan dan menjadikan Batavia sebagai mutiara timur jauh, hingga kini menjadi keinginan yang menggantung. Entah kapan Jakarta menjadi kota metropolitan layaknya seperti ibukota negara-negara lain di belahan bumi ini. 0 berbagai sumber/son