Minggu, 10 April 2011 13:25:01

Kondisi Sosial Era Belanda= Kondisi Sosial Saat Ini

Kondisi Sosial Era Belanda= Kondisi Sosial Saat Ini

Beritabatavia.com - Berita tentang Kondisi Sosial Era Belanda= Kondisi Sosial Saat Ini

Sejarah bisa dijadikan sebagai cermin untuk mengetahui jati diri sebuah bangsa, sekaligus untuk perbandingan saat melakukan perbaikan kualitas bangsa ...

Kondisi Sosial Era Belanda= Kondisi Sosial Saat Ini Ist.
Beritabatavia.com - Sejarah bisa dijadikan sebagai cermin untuk mengetahui jati diri sebuah bangsa, sekaligus untuk perbandingan saat melakukan perbaikan kualitas bangsa itu sendiri.
Sejumlah catatan, buku, novel membuktikan kondisi sosial  di jaman penjajahan saat itu Jakarta masih bernama Batavia,  masih memiliki kesamaan dengan kondisi sosial saat ini. Sebuah  tulisan dagboek, dagelijks journaal menggambarkan pola kehidupan masyarakat Eropa di Hindia Belanda. Khususnya karakter orang Eropa golongan elite yang berkuasa, pejabat tinggi pemerintah, insinyur, sipil, perwira tentara, hakim, pengusaha, pemilik perkebunan, atau dokter. Masih sangat relevan, dengan kondisi sosial saat ini.
Misalnya, tentang kelompok  bangsa Eropa hidup terpisah dari penduduk pribumi. Penduduk pribumi biasanya tinggal di kampung sedangkan orang Belanda memiliki rumah atau tinggal di pondokan di blok Eropa yang terletak di kota seperti Rijswijk, Noordwijk, Weltevreden, dan Koningsplein. Pria kulit putih biasanya menikah dengan perempuan kulit putih atau Eurasia dari keluarga berada. Sementara para bujangan kebanyakan terlibat asmara bahkan kumpul kebo dengan perempuan pribumi atau Eurasia jelata.
Bila disimak, kisah  berjudul Indisch-gasten of Nederlandsch-Indiers yang muncul di Bataviaasch Nieuwsblad pada 1890. Terungkap, bahwa mereka tinggal di Hindia Belanda hanya untuk selingan, menuju hidup enak dan saat pulang ke tanah airnya setelah  pensiun penuh kemakmuran. Untuk itu, mereka harus bertahan di Hindia Belanda sedikitnya 10 tahun, paling lama 20 tahun.
Tulisan Gerard Termorshuizen Paul Daum  bertajuk Tentang Kehidupan Kolonial di Batavia menyebutkan, aktivitas dan ambisi kebanyakan kaum totok (Belanda) diarahkan menurut perencanaan karier mereka, bahkan kalau mungkin didukung oleh nepotisme tak bermoral, mencari banyak uang, hidup enak dan tidak ketinggalan, menarik perhatian semua orang.

Khususnya di Batavia, kedudukan sosial ditentukan oleh kekayaan dan hasrat untuk menonjolkan diri lewat penampilan luar, dalam kelompok orang lain. Penggambaran tentang mentalitas tersebut diturunkan dalam novel berjudul Nummer Elf lewat karakter bernama Lena Bruce yang datang ke Batavia, dari kota lain.
Pameran mentalitas materialistis melalui ukuran dan keindahan rumah serta taman mereka, jumlah dan jenis kereta yang mereka miliki, sampai pada kemegahan resepsi dan pesta yang mereka gelar. Termasuk, dalam hal pendapatan seseorang dan prospek bagus seorang pria akan menentukan apakah orang tua akan melepas anak gadisnya saat dilamar.
Paul Daum, lahir di Den Haag pada 1850, bekerja di Jawatan Kereta Api Belanda sebelum akhirnya memilih karier sebagai wartawan dan novelis di kota kelahirannya. Pria itulah yang menorehkan cerita tentang perilaku para totok di Batavia.
Di tahun 1878 ia diangkat sebagai redaktur di surat kabar De Locomotief di Semarang dan dalam waktu setahun, ia menyabet jabatan pemimpin redaksi. Setelah bekerja di De Locomotief, Paul Daum digaet Het Indisch Vaderland (juga di Semarang) sampai akhirnya ia berlabuh di Bataviaasch Nieuwsblad sejak Desember 1885.

Daum tak lupa menceritakan realitas kehidupan bangsa Eropa di Batavia yang tak terlalu peduli pada seni. Dia menggambarkan tokoh-tokoh saat itu lebih suka berpesta, mencari jodoh, main biliar, kartu, dan mabuk berat, pokoknya bersantai di De Harmonie atau Concordia. Tapi tak pernah dijumpai di teater Batavia di Passer Baroe ketika sebuah konser atau peristiwa budaya dipentaskan. Sebagai wartawan, ia tak lelah meneriakkan miskinnya kehidupan budaya di Batavia.
Dalam sebuah artikel di surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad edisi Mei 1886, Daum bahkan mempertanyakan, Apa yang pasti ditangkap orang asing ketika tiba di Batavia, adalah nihilnya hiburan publik. Ada kelab tempat orang berkumpul untuk membaca, ngobrol, atau bermain biliar tapi itu hanya untuk tuan-tuan terhormat. Ada teater bagus, tapi untuk apa? Jarang dipakai.
Rupanya, mentalitas seperti yang digambarkan Daum melalui proses pengamatan dan presentasi realistis dalam novel-novelnya masih terjadi hingga kini. Kondisi sosial saat ini adalah cermin kemiripan dengan kondisi yang terjadi pada masa penjajahan silam.
Saat ini, selain miskin budaya, juga masih memiliki   mentalitas seperti kaum Totok di era kolonial Belanda dulu. Bahkan, semakin di pertajam dengan minimnya pemahaman tentang kebudayaan bangsa sendiri, minimnya kegiatan kebudayaan, terlebih dengan kebijakan pemutaran sinetron tak bermutu, juga program televisi yang makin merusak mental bangsa ini. Praktik Nepotisme  dan Korupsi masih kerap dilakukan bahkan cenderung menjadi budaya, dengan alasan demi kehidupan yang nyaman hingga anak, cucu, dan cicit serta kroni-kroni. Sehingga, kemerdekaan yang diraih dengan mengorbakan jiwa dan raga para pejuang bangsa, belum memberikan kesejahteraan dan perubahan yang signifikan. 0 berbagai sumber/son

Berita Lainnya
Selasa, 12 Mei 2026
Selasa, 12 Mei 2026
Selasa, 12 Mei 2026
Senin, 11 Mei 2026
Senin, 11 Mei 2026
Minggu, 10 Mei 2026
Sabtu, 09 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Kamis, 07 Mei 2026
Selasa, 05 Mei 2026