Beritabatavia.com -
Perbudakan mulai marak setelah Jan Pieterszoon Coen berhasil merebut benteng Jayakarta pada 1619. Sejak itupula sebagian warga pribumi dijadikan budak, selir dan pemuas nafsu, serta disiksa bahkan dibakar hingga tewas.
Tindakan tidak manusiawi itu, sedikit mulai mereda, setelah muncul gerakan anti perbudakan yang dimotori sekelompok orang Belanda yang tinggal di Batavia pada 1845. Sebagian warga Belanda yang menolak perbudakan, kemudian menyebarluaskan kebobrokan bangsanya di negeri asalnya lewat tulisan di media massa dan buku.
Salah satu diantaranya adalah A.R. Van Hoevel, setelah kembali ke ke negerinya, dia menulis ‘De Slavernij in Nederlandsch Indie’ sebuah buku yang cukup jujur dalam membeberkan kebobrokan bangsanya sendiri dalam hal perbudakan. Kemudian penulis lainnya, Willem Van Hogendorp, seorang administratur Pulau Onrust. Kecamannya terhadap perbudakan diterbitkan dalam buku bertajuk ‘ Kraspoekol, of de droevige gevolgen van Eene te Verregaande Strengheid jegen de Slaafen, setebal 43 halaman. Kraspoekol (yang berasal dari kata keras dan pukul) adalah akibat mengerikan dari perlakuan yang terlalu kejam terhadap budak-budak.
Tulisan Bisa Merubah
Seperti juga kisah ‘Rossinna’ karangan Kommer Hogendorp menjelaskan, kata kraspoekol berasal dari kisah sungguhan tentang seorang nyonya yang kemudian dijuluki Nyonya Kraspoekol karena selalu menyiksa budak-budaknya dengan kejam. Dalam kisah Hogendorp Tjampakka, seorang budak perempuannya yang cantik mati karena dihukum bakar. Tapi karena itulah, Nyonya Kraspoekol bersama mandornya juga mati karena keris seorang budak yang lain. Anak Hogendorp, bernama Dirk, kemudian mengubah Kraspoekol dan menulis kembali dalam bentuk sandiwara.
Sandiwara dengan judul yang disederhanakan menjadi ‘Kraspoekul of Slavernij’ lakon Kraspoekol mendapat sambutan hangat. Para kritikus Belanda kemudian menempatkan Kraspoekol sebagai acuan ide yang mengilhami cerita perbudakan lainnya seperti ‘Uncle Tom’s Cabin’ lalu kemudian sangat terkenal.
Konon, di negeri Belanda, Kraspoekol sama populernya dengan buku Multatuli. Karena keduanya, pada akhir abad ke-19 membangkitkan gerakan politik etis untuk tanah jajahan Belanda, Nederlandsche Indie. Tidak ketinggalan, pers cetak di Hindia Belanda saat itu ikut menempatkan diri sebagai pahlawan. Mereka menolak iklan pelelangan atau penjualan budak, setelah gerakan anti perbudakan mendapat angin.
Sempat Meredup
Perlahan, perbudakan mulai redup, disusul dengan larangan perbudakan oleh Komisaris jenderal kerajaan yang menerima penyerahan pemerintahan Inggris atas Pulau Jawa. Bahkan, komisaris jenderla kerajaan mengeluarkan serangkaian peraturan yang mempersulit kedudukan para pemilik budak, meskipun sudah diperhalus dengan sebutan lijfeheer.
Hingga akhirnya tercatat, pada 1 Januari 1860 perbudakan berakhir di Hindia Belanda, khususnya Batavia. Praktik perbudakan dinyatakan terlarang menurut undang-undang. Namun, bila disimak lebih luas, gerakan anti perbudakan yang kemudian lahir larangan, tidak datang dari kesadaran para tuan pegawai VOC. Tetapi, lebih tepat sebagai dampak meluasnya paham anti perbudakan yang berawal di Eropa dan Amerika.
Gerakan Kaum Liberal
Gerakan kemanusiaan ini dimotori kaum intelektual yang dikenal sebagai golongan liberal, juga membuahkan berbagai pikiran baru di bidang politik dan tata negara. Disusul dengan terbukanya Terusan Suez pada tahun 1869, membuat perjalanan Eropa-lndonesia menjadi lebih cepat. Sebelumnya, melalui Tanjung Harapan perjalanan membutuhkan waktu tujuh bulan, sedangkan melalui Terusan Suez cuma tiga minggu. Singkatnya perjalanan ini membuat banyak orang Belanda termasuk dari kelompok liberal, berdatangan ke negeri jajahan yang dikuasai para pedagang VOC. Serta para nyonya dan nona Belanda yang sebelumnya takut dilahap para pelaut beringas.
Sastrawan Indo terkenal, Rob Niuewenhuijs dalam bukunya Over Europeesche Samenleving van Tempo Doeloe menyebutkan kedatangan orang-orang Belanda itu, adalah eksodus untuk mencari keuntungan secara halal, atau ingin berspekulasi mengadu nasib, atau bertualang. Mereka, adalah orang-orang yang lebih berpikir, terdidik, dan berbudaya.
Sementara, para pedagang VOC yang sebelumnya datang dan menjadi penguasa, umumnya orang-orang nekat, berani berkelana jauh mengarungi samudra. Kelompok nekat,dikenal sebagai kelompok Kreol petualang, darahnya sudah kecampuran macam-macam bangsa. Mereka umumnya tak berbudaya dan sulit diterima di kalangan ‘sopan’ Eropa. Bisa dimaklumi kalau mereka cuma kenal ‘hukum rimba’ atau istilah siapa kuat, dia berkuasa. Mereka memanifestasikan kekuasaan dengan pemilikan, termasuk manusia dalam bentuk perbudakan.
Dengan munculnya kelompok ‘sopan’ di Batavia tentunya mengubah total gaya hidup orang-orang Belanda di kota benteng itu. Perbudakan dengan segala manifestasinya segera jadi bahan cemoohan. Iring-iringan budak sebagai pawai kekayaan segera dijuluki rampok partijen atau rombongan garong.
Ejekan itu tak hanya tertuju pada cara pegawai VOC memperlakukan budak, tapi juga sindiran pada sikap korup mereka. Karena, tidak mungkin seorang pegawai bisa punya budak, dan dengan gaya hidup mewah.
Untunglah, ejekan kaum liberal Belanda itu sampai ke telinga pemerintah Kerajaan Belanda di Den Haag. Kemudian, tak lama setelah terusan Suez dibuka, pemerintah pusat mengeluarkan peraturan, bahwa gubernur jenderal Hindia Belanda tak boleh lagi dari kelompok Kreol. Tetapi, harus datang dari keluarga aristokrat Belanda. Termasuk pejabat tinggi di bawahnya. Selain itu, gubernur jenderal yang pensiun tidak diperkenankan menetap sebagai blijvers, agar tidak menghimpun kekayaan dengan jalan tak halal.
Kembali Marak
Munculnya kelompok Liberal di Batavia, sempat membawa perubahan dengan adanya larangan praktik perbudakan. Namun, tidak berlangsung lama.Sejumlah gubernur jenderal yang berasal dari kelompok aristokrat, tetap juga korup dan kaya raya. Bahkan, mereka tak bersedia pulang, setelah pensiun, tapi lebih suka menjadi raja kecil pemilik perkebunan luas, dengan menggunakan ijin ‘bisa diatur’. Untuk melanggengkan keinginannya, praktik suap, atau modus sogok maupun kawin dengan anak pejabat tinggi di Negeri Belanda pun dilakukan.
Anehnya, sejumlah nama bekas gubernur jenderal yang berasal dari kelompok aristokrat tercatat sebagai blijvers diantaranya, Van der Parra, Senn van Bassel, Van Riemsdijk, dan De Klerck, tetap tinggal dan menetap di Batavia. Dan berubah menjadi ’mengkreol’ kembali.
Padahal, mereka mengaku penganut liberalisme, tapi tetap saja melakukan praktik perbudakan. Kendati mereka sudah meninggalkan kebiasaan pergi ke gereja dengan rombongan garong, misalnya, rumah mereka masih saja penuh jongos, babu, dan bon (tukang kebon) yang diperlakukan tak jauh dari budak.
Sehingga, munculnya kelompok liberal di Batavia, yang konon anti perbudakan, nyatanya tak mengubah apa pun. Peraturan yang mereka buat hanya digunakan untuk berkelit oleh para pelaku. Kisah memilukan itu, mewarnai perjalanan bangsa Indonesia yang penuh romantika. Bahkan, ditengah ketidak berdayaan sebagai bangsa jajahan dan tertindas, kerap diperlakukan tidak seperti layaknya manusia. Penggalan dari kisah bangsa ini sungguh memilukan, bekas luka bangsa ini menyayat hati. Anehnya, prilaku serupa masih terasa, meskipun sudah 65 tahun merdeka.0 son