Beritabatavia.com -
Menjelang peringatan Hari Bhayangkara, 1 Juli, institusi kepolisian kembali tercoreng. Seorang perwira polisi wanita (Polwan) yang bertugas di Direktorat Narkoba Poldasu yang berinisial Kompol Elisabet telah diadukan dua orang Pembantu Rumah Tangga (PRT) karena melakukan penganiayaan terhadap kedua korban.
Kedua PRT Ngatinem (56), warga Kampung Manggelaten, Magelang, dan Ropiah (14) warga Kampung Kaleng Pandan Brebes itu, melaporkan tindakan oknum polisi ke Unit Renakta (Remaja, anak dan wanita) Direktorat Reskrimum Poldasu.
Kedua korban membuat laporan di Mapoldasu, ditemani salah seorang pegawai Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia Keadilan (LBH APIK) Medan. Penganiayaan dan penyiksaan terhadap kedua pembantu tersebut, hingga meninggalkan bekas luka di sekujur tubuhnya.
Salah satunya, di bagian mata kanan Ngatinem yang hingga saat ini matanya merah dan di bagian pipi serta keningnya, yang masih lebam atau bekas luka pukulan.
Ropiah mengatakan, mereka sudah enam bulan bekerja di kediaman Komisaris Polisi (Kompol) Elisabeth Siahaan di Jl. Pabrik Tenun, Medan. Selama masa bekerja itu, keduanya kerap diperlakukan secara tidak manusiawi. Sering dipukul dan tidak pula diberi gaji.
Jika melakukan kesalahan sedikit saja, akan langsung dipukul, kata Ropiah saat memberikan keterangan di kantor LBH Apik, Jl. Sisingamangaraja, Medan, kemarin.
Selain menganiayaan secara fisik berupa pukulan, keduanya juga mengaku sering di sekap di kamar dengan kedua tangan diborgol. Mereka tidak tahan dengan perlakuan ini, dan meminta agar dipulangkan ke kampung. Namun permintaan itu tidak dipenuhi. Cuma ingin pulang kampung saja, tidak usah gaji juga tidak apa, ucap Ropiah.
Kabid Humas Polda Sumut, AKBP Heru Prakoso mengatakan yang bersangkutan kini masih dimintai keterangan.Kalo memang terbukti, ya kita serahkan ke proses pidana umum, kata Heru Prakoso.
Kasus main tangan ini, bukan yang pertama kali. Sebelumnya, Kompol Elisabet pernah melakukan penganiayaan. Sayang kasusnya sempat ditutup-tutupi. Ketika dikonfirmasi wartawan, sang polwan justru emosi dan mengancam. o end