Minggu, 19 Juni 2011 15:17:24

Perbudakan Berawal Dari Kebodahan & Kemiskinan

Perbudakan Berawal Dari Kebodahan & Kemiskinan

Beritabatavia.com - Berita tentang Perbudakan Berawal Dari Kebodahan & Kemiskinan

PERBUDAKAN merupakan muara dari sebuah kondisi masyarakat yang masih dilanda kebodohan dan kemiskinan serta keterbelangan. Atau karena sebuah sistim ...

Perbudakan Berawal Dari Kebodahan & Kemiskinan Ist.
Beritabatavia.com - PERBUDAKAN merupakan muara dari sebuah kondisi masyarakat yang masih dilanda kebodohan dan kemiskinan serta keterbelangan. Atau karena sebuah sistim sosial tertentu yang sedang berlangsung di tengah-tengah masyarakat itu sendiri.
Seseorang yang tidak mampu membayar hutang, bisa membuat seseorang menjadi mahluk yang diperbudak. Bisa juga karena menerima hukuman,  lantaran seseorang melakukan kejahatan semisal pencurian dan pembunuhan. Tetapi ada juga  karena memang masyarakat itu memiliki nafsu untuk memperbudak manusia. Selain itu, ada juga karena suatu kaum atau bangsa mengalami kalah perang lalu ditawan dan ditindas lalu dijadikan budak. Semua bentuk perbudakan telah terjadi sejak dahulu kala.

Sejak Abad ke 17

Pada abad ke 17 merupakan masa kejayaan dan kemakmuran VOC. Pemerintahan kolonial mengumpulkan hasil tanaman rempah-rempah Nusantara yang saat itu sangat produktif seperti dari Pulau  Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan sejumlah daerah lainnya. Bahkan, kemakmuran Belanda yang di dapat dari hasil perdagangan rempah-rempah itulah digunakan untuk membiayai pembangunan kota Amsterdam dan bendungan pantai Amsterdam yang terkenal hingga saat ini.
Seiring era kemakmuran yang dinikmati kaum penjajah, mencuat pula budaya perbudakan.  Para budak banyak berasal dari penduduk Bumi Putra dan Afrika, mereka dibawa para penjual budak dengan menggunakan kekuatan tentara VOC yang merupakan tentara bayaran perusahaan. Budak  yang berada di Afrika pada umumnya berasal dari Suriname dan Sinegal. Tetapi tidak kalah banyak dengan budak yang berasal dari Pulau Jawa, Sulawesi dan Maluku.
Menurut Markus Vink (2003) pada era kolonial, kerajaan Belanda memiliki tiga jalur utama perdagangan budak yaitu (1) Jalur Afrika Timur yang meliputi Madagaskar, Mauritius dan Reunion
(2) Jalur Asia Selatan yang meliputi Malabar, Caramandel dan Pantai Bengali dan
(3) Jalur Asia Tenggara yang meliputi Malaysia, Indonesia, Papua dan Filipina Selatan.

Budak dari Sulsel Paling Banyak

Secara khusus perdagangan budak yang dilakukan oleh kolonial Belanda di nusantara menguat, ketika kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan kehilangan otoritasnya pada tahun 1669. Sehingga jalur perdagangan budak di Makasar menjadi jalur utama selain Bali. Makasar sendiri menjadi pelabuhan utama untuk transit perdagangan budak yang berasal dari Kalimantan, Sulawesi, Buton, Sumbawa, Lombok Bima, Manggarai, Solor dan dari Kepulauan Maluku. Sedangkan Bali, selain dari penduduk asli Bali sendiri, Bali menjadi transit bagi budak asal Papua.
Tercatat dari sekitar 10.000 budak yang mendarat di Batavia sejak tahun 1653 sampai tahun 1682, sebanyak 41,66 persen berasal dari Sulawesi Selatan, dan 23,98 persen dari Bali, sedangkan 12,07 persen  dari Buton, dan  6,92 persen berasal dari Nusa Tenggara serta 6,79 persen berasal dari Maluku (Ambon dan Pulau Banda). Perdagangan budak pun akhirnya meluas ke nusantara bagian barat pada akhir abad 18. Sehingga melahirkan peluang bagi kelompok pendatang baru lainnya untuk berkuasa, seperti pedagang budak dan perompak Ilanun dari Kepulauan Sulu. (Ricklefs, 2008)

Batavia Pusat Penjualan Budak

Pada masa itu Batavia merupakan pusat perbudakan Belanda yang akan menjadi ‘produk jualan’ yang dilakukan lewat perusahaan atau pribadi bangsa Belanda selama hampir tiga abad lamanya. Batavia sendiri menjadi pelabuhan internasional perdagangan budak pada masa itu atau menurut istilah Markus Vink (2003) sebagai Central Rendezvous. Kemudian budak-budak pribumi itu dijual ke seluruh tempat di Asia hingga ke Srilangka dan Tanjung Harapan di Afrika Selatan.
Sementara, sebagian budak-budak lainnya dipekerjakan di tanah-tanah pertanian dan perkebunan di Pulau Jawa. Ada juga yang bekerja di perusahan ‘Ekspor-Impor Budak’ yang berjumlah ratusan di Pulau Onrust sebagai pekerja di galangan kapal. Memang saat itu, bisnis perbudakan sedang naik daun alias sangat menguntungkan.

Tidak Kembali

Pada umumnya mereka tidak kembali lagi kerumah asalnya walaupun Indonesia telah merdeka tahun 1945. Bahkan salah satu Negara di Afrika, Suriname merupakan Negara yang penduduknya banyak berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Madura dan Nusa Tenggara Barat. Penduduk yang terbanyak berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Banyak perusahaan perkebunan Belanda di berbagai nusantara membeli budak-budak ini untuk dipekerjakan diperkebunan. Pada umumnya budak-budak yang sudah berusia paruh baya sekitar 30 sampai 40 tahun, sedangkan yang muda atau perempuan banyak dipekerjakan di rumah-rumah keluarga Belanda di Batavia dan Bandung. Nasib para pekerja di rumah-rumah sebenarnya malah lebih memprihatinkan kondisinya, karena mereka benar-benar bekerja selama 24 jam.
Sedangkan para budak yang dipekerjakan di perkebunan relatif lebih baik karena para pengawas pekerja itu pada umumnya juga adalah pribumi yang senasib dengan mereka. Tetapi untuk perkebunan-perkebunan yang langsung diawasi oleh bangsa Belanda justru nasib mereka paling mengenaskan.
Budak Berusia Belia Hingga  Berujung Kematian
Banyak diantara mereka masih berusia sangat muda, sekitar 6 " 40 tahun. Tidak berbaju dan hanya bercelana pendek dengan bahankain yang kasar. Berbadan kurus dengan wajah kusut merupakan gambaran para budak-budak tersebut.
Hingga tahun 1942 perbudakan masih terus terjadi sampai akhirnya Belanda bertekuk lutut kepada Jepang, baru para budak bisa menikmati kemerdekaan. Tetapi ada diantara para budak  yang dibawa ke Nederland dan meneruskan nasib buruknya tersebut di Negara kincir Belanda.

Para budak yang yang bernasib paling buruk adalah mereka yang setelah tahun 1942 masih lagi harus terkena kerja rodi masa penjajah Jepang. Ada yang masih mampu bertahan hidup tetapi ada juga yang berujung pada kematian.

Dijadikan Tentara Jepang

Pada saat pembentukan tentara Jepang, para budak pribumi yang masih muda dan tergolong kuat dijadikan tentara. Banyak diantara mereka para pekerja perkebunan Belanda yang diambil alih oleh Jepang dipindahtugaskan ke kemiliteran Jepang. Pada masa masa Jepang mengalami kekalahan perang dunia II, mereka menjadi pejuang kemerdekaan dan bergabung dengan TKR/BKR.
Sementara yang ditinggal majikannya, pada umumnya dapat menghirup udara kebebesan. Mereka menjadi petani, buruh atau nelayan di pulau Jawa dan Sumatera. Setelah tahun 1960 an, sebagian generasi dan keturunan para mantan budak Belanda, mulai mengalami perbaikan nasib. Mereka dipindahkan ke Sumatera atau Kalimantan untuk mengikuti program transmigrasi Pemerintah Soeharto dan pembagian tanah untuk pertanian masa Soekarno. 0 son



Berita Lainnya
Selasa, 12 Mei 2026
Selasa, 12 Mei 2026
Selasa, 12 Mei 2026
Senin, 11 Mei 2026
Senin, 11 Mei 2026
Minggu, 10 Mei 2026
Sabtu, 09 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Kamis, 07 Mei 2026
Selasa, 05 Mei 2026