Beritabatavia.com -
Batavia dan Jakarta dibedakan dengan kemajuan pembangunan dan kelestarian lingkungan yang mencolok, membuat Jakarta menjadi sesak dan penuh polusi maupun kolusi.
SULIT dibayangkan, bagaimana kehidupan di tangsi militer pada masa penjajahan Belanda di Batavia kini Jakarta.
Glodok yang begitu hidup dengan Pecinannya, tempat-tempat ibadah dan pelesiran khas Hindia, hingga kondisi masyarakat Batavia. Meskipun harus meminjam mata Brousson yang sarat dengan ideologi kolonial. Namun, berguna untuk panduan mengetahui masa silam Batavia. Karena, mampu membawa kesadaran bahwa Batavia tempo dulu masih memperlihatkan sebagian kesamaan dengan Jakarta saat ini.
Tempo Dulu dan Sekarang
Batavia bukanlah Jakarta, keduanya tidak sama. Karena sudah dibedakan dengan kemajuan pembangunan dan kelestarian lingkungan yang sangat mencolok. Batavia pada jaman Belanda jauh dari polusi, sementara jaman reformasi saat ini, Jakarta sesak dan penuh dengan polusi dan kolusi.
Maka, tak mungkin lagi terulang atau ada potret Jakarta seperti situasi dan kondisi pada jaman Batavia. Dimana saat jaman Belanda, Kali Ciliwung terlihat jernih, bersih dan jauh dari polusi.
Bahkan Belanda dan warga sekitar menggunakan Kali Ciliwung menjadi sumber air bersih termasuk untuk mandi dan mencuci. Kini, jaman reformasi, perbedaan kian jauh seperti siang dan malam. Tidak ada lagi orang yang berani mandi di Kali Ciliwung, apalagi menggunakan airnya sebagai sumber air bersih. Karena, airnya sekarang hitam, kotor, bau dan penuh dengan polusi.
Mengenang Batavia
Batavia yang dibangun GubernurJenderal VOC Jan Pieterszoon Coen pada tahun 1619, menjadi cikal bakal sejarah kota Jakarta yang pada 2011 dirayakan sebagai HUT ke 484 kota Jakarta.
Gedung-gedung tua di Jakarta Kota menjadi saksi bisu berbagai kisah sejarah dan peradaban manusia. Daerah yang dulu bagian dari pusat Kota Batavia, kini menjadi kawasan pengembangan Cagar Budaya Kota Tua di DKI Jakarta.
Dahulu, Batavia dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Kastil, Pusat Kota yang dikelilingi tembok pertahanan, dan kota di luar tembok. Sementara di kawasan kota tua Jakarta itu terdapat museum yang menarik dijadikan tempat menimba ilmu.
Ada lima gedung museum yang letaknya saling berdekatan, yaitu Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta), Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, serta Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia.
Benda-benda bersejarah yang ada di sana menambah wawasan kita tentang sejarah Kota Jakarta. Suasana di dalam bangunan museum yang sudah berusia ratusan tahun itu pun membuat kita seperti berada pada zaman kolonial.
Museum Fatahillah dulunya adalah Balaikota (Stadhuis), pusat pemerintahan VOC di Batavia. Di museum ini kita bisa melihat banyak prasasti, juga penjara bawah tanah yang masih terlihat kokoh dan terawat.
Memasuki Museum Wayang, kita akan disambut oleh pasangan ondel-ondel khas Betawi. Di museum ini ada ribuan koleksi jenis wayang dari seluruh Indonesia dan beberapa negara lain, seperti Malaysia, Suriname, Perancis, Kamboja, India, Pakistan, Vietnam, Inggris, Amerika Serikat, dan Thailand, termasuk peralatan musik tradisional yang biasanya melengkapi pertunjukan wayang.
Kemudian di Museum Keramik, mata kita akan dimanjakan oleh berbagai kerajinan keramik, mulai dari yang kuno sampai yang modern. Bangunan yang dulunya menjadi Gedung Pengadilan (Raad Van Justitle) Belanda ini terlihat masih megah.
Sedangkan di Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia, kita akan diajak menyusuri tapak sejarah dunia perbankan di Indonesia.
Setelah menikmati benda-benda bersejarah di museum, sambil bersantai kita bisa berkeliling Kawasan Kota Tua dengan sepeda. Tidak usah membawa sepeda dari rumah, karena di area itu banyak penyewa sepeda lengkap dengan aksesori, seperti topi bulat gaya prajurit Belanda.
Ratu dari Timur
Pada masa penjajahan Belanda, Batavia terkenal dengan sebutan Ratu dari Timur (Koningen van het Oostenb). Kota Batavia dilintasi banyak kanal dengan pemandangan yang indah. Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen membangun belasan kanal (gracht) untuk mencegah banjir. Rumah-rumah besar pun dibangun di tepi kanal, lengkap dengan pepohonan yang rimbun. Suasananya dibuat mirip seperti di Kota Amsterdam.
Salah satu kanal yang cukup lebar adalah Kali Besar (de Groote Rivier). Kanal lebar ini membelah kawasan kota Batavia sekaligus menjadi jalur transportasi utama para pedagang maupun masyarakat Batavia. Kali Besar dulu berair jernih, menjadi muara kanal-kanal kecil di dalam kota. Penduduk sekitar menggunakan air kanal untuk kehidupan sehari-hari, mulai dari air minum hingga mencuci.
Dari seberang Kali Besar tampak sebuah bangunan bertingkat dua berwarna merah. Gedung itu disebut Toko Merah. Awalnya bangunan ini persis berada di tepian muara Ciliwung.
Menurut Thomas B Ataladjar dalam buku tentang Toko Merah, bangunan ini rumah tinggal mewah pertama yang dibangun pada 1730. Pemiliknya adalah Gustaaf Willem Baron van Imhoff, pejabat VOC berkebangsaan Jerman, yang menjadi Gubernur Jenderal VOC tahun 1743. Sekarang Toko Merah menjadi salah satu dari delapan monumen warisan VOC yang berada di dalam kawasan tembok pertahanan kota asli Batavia.
Rumah ini berupa rumah kembar dalam satu atap. Jendela dan pintunya besar-besar. Zaman dulu, di dalam rumah ini juga tinggal ratusan budak.
Dulu, bangunan ini bercat putih. Tetapi 1851 sejak dimiliki keluarga Oey. Seluruh bagian gedung ini di cat dengan warna merah hati, sehingga disebut Toko Merah.
Ajang Atraksi
Setiap hari Sabtu atau Minggu, di Taman Fatahillah ada atraksi kesenian tradisional. Salah satu atraksi adalah kuda lumping yang dibawakan oleh seniman jalanan.
Dalam pertunjukan itu ada pemain yang menyemburkan api dari mulut, makan kaca, mengupas kelapa dengan mulut.Serta pertunjukkan keterampilan seorang anak kecil yang bisa melepaskan diri dari ikatan yang kuat.
Banyak orang datang ke Kawasan Kota Tua untuk berfoto dengan latar belakang gedung-gedung tua. Gambar yang dihasilkan jadi terlihat klasik dan unik. Sayangnya, kawasan ini tidak terawat dengan baik, dan masih banyak gedung tua yang kondisinya memprihatinkan.Untuk merasakan kehidupan hingga pernik-pernik keunikan Batavia bisa dilakukan dengan mengoptimalkan semua panca indra. 0 berbagai sumber/son