Minggu, 21 Agustus 2011 09:41:27

Kemerdekaan Nan Fitri

Kemerdekaan Nan Fitri

Beritabatavia.com - Berita tentang Kemerdekaan Nan Fitri

UNTUK kesekian kalinya peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia bersamaan saat umat Islam sedang melaksanakan ibadah Puasa ...

Kemerdekaan Nan Fitri Ist.
Beritabatavia.com - UNTUK kesekian kalinya peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia bersamaan saat umat Islam sedang melaksanakan ibadah Puasa Ramadhan.

Sebagai umat beragama, kita percaya dan yakin bahwa segala sesuatu tidak akan pernah terjadi, jika tanpa seijin Tuhan. Maka, makna dari kesamaan bulan suci Ramadhan dengan perayaan kemerdekaan RI adalah atas ridho Nya.
 
Merayakan peringat HUT Kemerdekan hendaknya tidak hanya dijadikan seremonial belaka. Namun, menjadi  momentum untuk mengevaluasi jika perlu merevisi arah perjalanan pembangunan bangsa Indonesia.

Banyak kemajuan dan perkembangan yang telah di capai oleh bangsa ini. namun kekurangan juga masih terlihat dan terjadi disana-sini. Di bidang politik proses demokratisasi masih bertarung dengan politik dagang sapi dan primodialisme sempit. Dalam bidang ekonomi mayoritas penduduk Indonesia masuk dalam kategori keluarga ‘miskin’ meski sumber daya alam melimpah di sekeliling kita. Dalam bidang sosial, budaya, dan kemasyarakatan yang berkembang ditengah masyarakat  justru disibukan dengan hiruk pikuk gaya gaya hidup hedonis, egois, serta mulai terkikisnya moral dan etika dari jatidiri bangsa Indonesia.

Dibidang hukum, keadilan yang diharapkan lahir dari proses hukum yang jujur, adil, dan transparan di kotori oleh praktik mafia hukum yang mewarnai dunia hukum kita.Termasuk maraknya praktik korupsi yang sulit diberantas.

Dalam bidang pendidikan, minimnya infrastruktur dan fasilitas pendukung menjadikan pendidikan di Indonesia adalah merupakan salah satu barang langka yang sulit terbeli oleh masyarakatnya. Banyak cendikiawan muda, berhasil meraih medali kejuaraan olimpiade sains dan teknologi. Tetapi tidak mendapat apresiasi dan dukungan semestinya. Sehingga mereka lebih memilih melanjutkan pendidikan hingga meraih karier di luar negeri yang lebih menjanjikan masa depan mereka.

Dalam kehidupan beragama,  intoleransi dan penyalahgunaan ajaran suci agama oleh segelintir orang maupun kelompok masih banyak terjadi. Sehingga, Indonesia beberapa kali dijadikan target praktik kejahatan terorisme dan berbagai tindakan melawan hukum lainnya dengan menggunakan symbol-simbol agama tertentu. Sederat persoalan-persoalan lain masih  akrab disekitar kita dewasa ini. Inilah perjuangan yang harus dilanjutkan oleh generasi muda saat ini.

Presiden Soekarno dalam acara HUT Kemerdekaan pada 1955 mengatakan, semangat Proklamasi adalah semangat rela berjuang, berjuang mati matian dengan penuh idealisme dan dengan mengesampingkan segala kepentingan diri sendiri.

Semangat Proklamasi adalah semangat persatuan yang bulat mutlak dan tidak  mengecualikan sesuatu golongan dan lapisan.
Kemerdekaan adalah proses pencapaian sejarah pembebasan kehidupan manusia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dari segala bentuk tirani dan penindasan. Kemerdekan adalah sesuatu yang tidak pernah final selagi masih ada bentuk-bentuk penindasan dan penjajahan sekecil apapun dan dalam bentuk apapun.
 
Sementara, makna kemerdekaan dalam konteks bulan Ramadhan adalah terbebasnya jiwa dari belenggu nafsu yang menjajah diri kita. Seperti arogansi, kebohongan, iri, marah, dengki, penindasan, kesewenang-wenangan, ketidakteraturan dan sejumlah penyakit hati lainnya yang melekat pada diri manusia.

Kemerdekaan pada Bulan Ramadhan

Sudah jamak diketahui, proklamasi kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan bulan Ramadhan.
Momentum itu diketahui ketika para pemuda menjemput Soekarno-Hatta menuju Rengasdengklok pada 16 Agutus 1945 adalah waktu sahur. Ketika itu pula, Ibu Fatmawati yang masih menyusui Guntur Soekarno Putra mungkin saja memanfaatkan keringanan sesuai agama untuk tak berpuasa dan diganti dengan membayar fidyah.

Kemudian, saat penyusunan naskah proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda, seorang perwira Jepang yang bersimpati pada kemerdekaan Indonesia. Saat itu Maeda memerintahkan pembantunya untuk memasak nasi goreng guna makan sahur golongan tua dan muda yang jumlahnya cukup banyak. Meskipun, Maeda tidak berpuasa.
Dalam sebuah riwayat lain, menjelang selesainya naskah proklamasi,  Hatta sahur dengan sarden dan berbagi nasi dengan Soekarno. Siang harinya, sekitar jama 10.00  proklamasi itu berkumandang, disaksikan para hadirin yang tak seberapa banyak namun bergaung lebih luas berkat kreativitas dan keberanian dua juru potret IPPHOS, Alex dan Frans Mendoer serta Bachtar Lubis dan Jusup Ronodipuro yang menerobos ketatnya kempetai di studio Radio Domei. Bahkan, Bachtar dan Jusup nyaris  dihabisi oleh kempetai kalau saja tak diselamatkan perwira senior Jepang.

Saat proklamasi dikumandangkan,  bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H, artinya puasa masih memasuki sepuluh hari pertama.  Jelaslah bahwa 17 Agustus 1945 tak bertepatan dengan 17 Ramadhan.
Idul Fitri pertama setelah Indonesia Merdeka adalah pada 8 September 1945. Saat itu perayaan dilaksanakan  dalam suasana euphoria kemerdekaan. Karena, Lebaran yang tak lagi dicengkeram oleh penjajahan Jepang yang secara de jure tinggal angkat kaki dari bumi nusantara.
Meskipun, Secara de facto mungkin saja masih ada nuansa ketakutan yang dialami oleh rakyat Indonesia karena tentara Jepang yang terkenal kejam dan rakus perempuan (ingat jugunianfu) masih berkeliaran.

Semangat Kemerdekaan

Sebelum Ramadhan 1364 hampir selesai, pengumuman dan maklumat mengenai hari raya Idul Fitri pertama setelah proklamasi disiarkan melalui surat kabar. Salah satu diantaranya adalah seruan Komite Nasional Indonesia Daerah Djakarta Raja yang dipimpin Mr. Moehamad Roem yang dimuat di Asia Raja tertanggal 07 September 1945 di halaman pertama.  Pimpinan Komite Nasional Daerah Djakarta Raja mengandjoerkan kepada segenap anggota Poesat, tjabang dan Ranting dari K.N.I jang ber-Agama Islam, supaja besok hari Sabtoe tanggal 8 September berdoejoen-doejoen membandjiri lapangan Ikada Gambir oentoek sembahjang Idoel Fitri. Adjaklah keloearga dan kawan kawan oentoek bersama sama sembahjang ‘Ied. Sembahjang dimoelai djam 8.30 pagi.

Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) yang kini menjadi lapangan Monas dijadikan tempat  Shalat Idul Fitri saat itu. Hendaknya, momentum  hari kemerdekaan RI dan bulan Ramadhan  memiliki keistimewaan bagi seluruh bangsa Indonesia. Dengan harapan menjadi landasan membangun kebersamaan dan meningkatkan semangat perjuangan untuk mengisi kemerdekaan. Jayalah Indonesia ku. 0 berbagai sumber/edison



 

Berita Lainnya
Selasa, 12 Mei 2026
Selasa, 12 Mei 2026
Selasa, 12 Mei 2026
Senin, 11 Mei 2026
Senin, 11 Mei 2026
Minggu, 10 Mei 2026
Sabtu, 09 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Kamis, 07 Mei 2026
Selasa, 05 Mei 2026