Beritabatavia.com -
Sekitar dua ribu karyawan Telkomsel di Jakarta, akhirnya melakukan mogok massal. Aksi ini di gelar di gedung Telkomsel Gatot Soebroto, Jakarta Selatan, Kamis (10/11), sebagai bentuk kekecewaan berat terhadap management Telkomsel yang mengabaikan tuntutan karyawan.
Mogok karyawan operator plat merah ini, tidak hanya mengganggu lalu lintas di kawasan Gatot Soebroto karena mereka longmarch menuju gedung Telkom, setelah menyampaikan aspirasi ke manajemen di gedung Telkomsel, Wisma Mulia, namun juga mengganggu pelayanan Telkomsel.
Karyawan sudah memperkirakan dampak aksi ini yang mengakibatkan terganggunya pelayanan konsumen. Dia mengungkapkan, secara logika akan terjadi penurunan kualitas, papar Kepala Bidang Humas Serikat Pekerja Telkomsel (sepakat) Rizaldi.
Aksi demonstrasi tersebut merupakan akumulasi kekecewaan karyawan pada manajemen yang tidak menepati Perjanjian Kerja Bersama (PKB) 2 yang disepakati tahun 2010 lalu.
Massa yang mengenakan baju warna merah ini berteriak-teriak menuntut kesejahteraan, penerapan good corporate governance, terutama pada implementasi Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Di dalam PKB ini ada hak dan kewajiban perusahaan dan karyawan.
Sejauh ini kesepakatan dalam PKB belum dilaksanakan sepenuhnya. Hingga sampai diajukan ke pengadilan hubungan industrial (PHI), jelasnya.
Tuntutan lainnya, agar aspirasi karyawan dimasukkan dalam penentu kebijakan strategis perusahaan.
Karyawan jangan cuma dianggap sekadar buruh yang tidak bisa menyuarakan aspirasi. Kita sudah tahunan bekerja di sini, sedangkan direksi cuma beberapa tahun. Jadi kami punya rasa memiliki yang sangat besar kepada perusahaan. Sekarang belum ada mekanisme untuk menampung itu, lanjutnya.
Juga Managemen Telkomsel dituntut untuk memperlakukan SDM sebagai aset dan memiliki nilai strategis. "Karena dampaknya itu berdampak ke performa perusahaan dan karyawan. Intinya kita ingin pengelolaan yang lebih profesional dan bebas interfensi. o end