Beritabatavia.com -
Lotte Cinema, perusahaan asal Korea yang berminat invetasi di Indonesia dengan membuka 100 gedung bioskop baru di penjuru nusantara, ternyata ditolak tanpa syarat. Penolakan ini
karena terbentur aturan investasi sesuai Perpres No.36 tahun 2010 tentang bidang usaha
yang tertutup.
Disebutkan dengan jelas usaha penayangan bioskop atau gedung teater film disebutkan
penyertaan modal dalam negeri masih 100 persen.
Jadi keinginan Lotte Cinema untuk investasi di Indonesia tidak bisa dipenuhi. Jadi tidak
benar dan perlu diluruskan agar tidak menimbulkan persepsi yang kurang baik di
masyarakat, ungkap Direktur Perfilman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Syamsul Lussa dalam dialog dengan wartawan di Jakarta, Kamis (5/1) malam.
Syamsul mengakui Lotte Group telah melakukan pertemuan dengan Pemerintah sejak tahun lalu. Lotte tertarik dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar, peningkatan kelas menengah,dan kurangnya layar bioskop di Indonesia. Dari 525 kota dan kabupaten yang ada, baru 55 daerah yang memiliki bioskop.
Sebenarnya, lanjut dia, ada 49 persen bisnis perfilman yang terbuka untuk asing seperti,
studio pengambilan gambar film, sarana pengisian suara film, dan sarana percetakan film.
Dengan masih tertutup investor asing untuk usaha gedung bioskop di Indonesia, ini berarti
memberikan kesempatan kepada investor Indonesia untuk menanamakan investasinya di usaha ini, tambahnya.
Dikatakan, hingga kini jumlah bioskop di Indonesia hanya 172 gedung, dengan 676 layar.
Jumlah penonton tahun 2011 mencapai 50 juta orang. Jumlah ini sangat minim dibandingkan
dengan jumlah penduduk Indonesia. Apalagi, gedung bioskop itu masih terpusat di kota-kota besar, sementara di Kabupaten dan daerah sudah tidak ada hiburan bioskop lagi.
Ini sangat menyedihkan, dimana rakyat di daerah perlu hiburan namun terbentur belum
adanya gedung bioskop. Karena itu, ini merupakan peluang investasi yang sangat besar untuk membangun sejumlah bioskop, tegasnya.
Syamsul juga menunjukkan hasil survei kharakteristik penonton film Indonesia disimpulkan
kharakteristik demografi pasar potensial penonton film adalah penduduk remaja, pelajar,
mahasiswa, dan belum kawin. Sayangnya penonton daerah belum menikmati film nasional,
padahal jumlah film Indonesia mengalami grafik produksi yang menggembirakan, katanya.
Disinggung ada rencana Parfi membangun 100 gedung bisokop baru, Syamsul berharap hal itu menjadi kenyataan. o endi