Beritabatavia.com -
Para nelayan di Desa Lubuk Kertang, Pangkalan Berandan, Langkat, Sumatera Utara mengambil alih lahan mangrove seluas 1200 hektar, yang sebelumnya dikuasai oleh sejumlah pelaku perkebunan sawit. Sebagai tahap awal, masyarakat akan mengupayakan hutan konservasi pesisir seluas 300 hektar.
Kondisi kawasan ini sudah hancur lebur, karena pengusaha sawit menebang mangrove. Tak hanya merusak hutan mangrove, pemilik perusahaan sawit juga melarang para nelayan berkegiatan di wilayah tangkapnya sendiri. Semula nelayan mengandalkan tangkapannya di paluh-paluh (anak sungai). Semuanya terjadi karena paksaan dan intimidasi para pemilik perkebunan sawit.
Dalam pengambilalihan, para nelayan berjuang bahu membahu dengan segala daya upaya untuk penyelamatan secara bertahap. Salah satunya menanami kembali mangrove guna dijadikan hutan konservasi. Upaya ini sudah berlangsung dua kali.
Rencana pengembangan kawasan konservasi mangrove seluas 300 hektar adalah niat kami para nelayan. Pentingnya peran ekosistem mangrove yang membuat kami menjaga konsistensi perjuangan melawan ancaman ekspansi perkebunan sawit hingga sekarang. Kami sadari bahwa apa yang sedang dikerjakan masih langkah awal. Apalagi ada aksi ekspansi sawit di beberapa titik lain, dan kondisi mangrovenya tak kalah hebat kerusakannya, tegas Tajuruddin Hasibuan, Presidium Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Region Sumatera (KNTI) dalam keterangan yang diterima BERITABATAVIA.COM, Senin (24/9).
Menurut temuan lapangan, di Desa Lubuk Kertang ada sekitar 2.000 hektar mangrove telah dialihfungsikan sejak tahun 1990'an, dan sejak itu terjadi penurunan signifikan pada hasil tangkapan nelayan.
Tatkala kondisi lingkungan pesisir hancur dan perekonomian nelayan memburuk, respon perdebatan iklim di kancah negosiasi internasional malah berputar-putar pada pendanaan; dan berkutat pada solusi rumit yang nyaris di luar batas wajar, seperti halnya pasar karbon.
Proposal Pemerintah dalam negosiasi internasional untuk perubahan iklim dan keanekaragaman hayati hendaknya beranjak merangkul inisiatif lokal, serta perlu memasukkan catatan penting urgensi perbaikan kerusakan pesisir di bawah kerangka mitigasi dan adaptasi. Tidak hanya di pesisir Langkat, juga kawasan pesisir lainya. Karena persoalan iklim erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan pangan dan kesehatan ekosistem, pungkas Mida Saragih, Koordinator, Manajemen Pengetahuan KIARA.
Diakuinya, Inisiatif nelayan menjaga lingkungannya perlu mendapat dukungan dari banyak pihak, agar keanekaragaman hayati pesisir dan laut kita terjaga. Kerja konkrit di lapangan menyelamatkan mangrove adalah solusi guna mewujudkan kesejahteraan dan kedaulatan pangan. Meningkatnya hasil tangkapan ikan akan membantu terpenuhinya kebutuhan protein masyarakat setempat. o ep