Beritabatavia.com -
Prof Sri Edi Suwarsono, analis ekonomi dari Universitas Indonesia mengatakan ia mendukung sistem ekonomi yang tidak liberal, berdasarkan asas kooperatif atau kesejahteraan untuk segala lapisan masyarakat.
'Saya lihat pola ekonomi Indonesia sekarang cenderung liberal, memihak yang punya uang. Padahal dunia sudah mengakui bahwa penyebaran kesejahteraan pada semua lapisan bisa memberantas krisis ekonomi,' ujarnya saat peluncuran buku 'Moerdiono Sang Konseptor' di Jakarta, Minggu (18/11).
Dalam peluncuran buku ini hadir beberapa tokoh yang mengenal almarhum Moerdiono secara pribadi, misalnya Ketua Umum partai Hanura, Wiranto, pengusaha Sofyan Wanandi, serta pengusaha Mooryati Soedibyo, mantan anggota DPR, Permadi, serta kakak almarhum, Margono dan keluarga Presiden Soeharto, Mamiek.
Menurut Sri, dulu dia sering berdiskusi dengan almarhum Moerdiono mengenai hal ini.
'Moerdiono berpendapat sama, bahwa masyarakat grass root harus diberdayakan agar bisa mandiri. Juga agar jurang antara kaya dan miskin tidak terlalu lebar,' lanjut dia.
Setiap kebijakan ekonomi yang berhubungan dengan dalam dan luar negeri, Sri bersama Moerdiono selalu menjadi teman diskusi almarhum Presiden Soeharto. 'Saat pemilihan presiden AS antara Ronald Reagan dan Jimmy Carter, beliau bertanya siapa yang akan menang, agar Presiden bisa menetapkan kebijakan ekonomi mana yang akan diambil,' kenag Sri.
Demikian juga saat pembubaran IGGI (negara donor bagi Indonesia jaman Soeharto).
'Presiden merasa tersinggung karena dikaitkan dengan unsur politik,' ujar Sri.
Namun saat krisis ekonomi 1998, saat Indonesia terpaksa menerima bantuan IMF, Sri bersama Moerdiono merasa kasihan melihat Pak Harto yang terlihat disepelekan oleh Direktur IMF kala itu, Michel Camdessus.
Sementara pengusaha Sofyan Wanandi merasa bahwa Moerdiono adalah orang yang bisa menerjemahkan kemauan Pak Harto. 'Tidak banyak orang yang bisa menerjemahkan sekaligus mengerti kemauan Pak Harto,' ujar Sofyan.
Bahkan diakhir hayatnya, Moerdiono juga diminta pendapatnya oleh Kabinet Presiden SBY, karena dianggap berpengalaman menangani masalah luar negeri.
Wiranto Pernah Mengkritik MoerdionoSebagai ajudan Moerdiono, mantan panglima TNI, Wiranto adalah orang yang berani mengkritik atasannya itu. Wiranto ditanya pendapatnya mengenai penampilan Moerdiono di televisi.
'Terus terang saya katakan, bapak kalau bicara tidak lugas, banyak bilang 'ehm' terlalu lama,' ujarnya. Wiranto mengira Moerdiono akan marah, namun ternyata tidak.
'Bagus, kamu jujur, tapi saya lakukan itu karena apa yang saya ucapkan harus bisa diinterpretasikan dengan baik oleh publik,' tandas Wiranto meniru ucapan Moerdiono ketika itu. O brn