Beritabatavia.com -
Kasus penganiyaan aktivis ICW yang diduga dianiaya 'oknum' terkait aktivitasnya yang banyak membongkar dugaan 'rekening gemuk' milik petinggi Polri, Tama Satrya Langkun mendapat perhatian dari Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Usman Hamid. Dia menyatakan prihatin dengan keberadaan Tama. Saya sebenarnya sedang cuti, sambil mengurus kelahiran anak saya. Tapi tiba-tiba saya dapat SMS tentang kabar ini, langsung saya batalkan cuti saya, ujarnya pada wartawan. Jumat (9/7). Usman menggangap kasus ini perlu ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian.Apalagi dugaannya kasus ini dilakukan oleh orang profesional. Cara-caranya sangat profesional, sangat cepat. Preman kelas teri tidak mampu melakukan hal itu, jelasnya.
Usman sempat meragukan kinerja Polri dalam mengungkap kasus tersebut. Kalau kasus yang menyangkut institusi Polri, langsung mereka kebakaran jenggot. Misalnya kasus pelemparan bom moltov di Kantor tempo,kasus 'rekening gemuk' serta kasus ini. Kami pun pernah punya pengalaman pahit, ketika kantor kami dijalan Mendut dirusak, sampai sekarang kasusnya tidak selesai, lanjutnya.
Belum lagi kasus Munir yang sudah puluhan tahun tak jelas kabarnya. Usman menduga mungkin Polri 'terlalu banyak' kasus yang dihadapi, sehingga tidak sempat mengurus kasus-kasus diatas.
Namun Usman mengaku sebenarnya Kapolri Jendral Bambang Hendarso Danuri adalah orang yang sebenarnya mau untuk memperbaiki citra Polri yang pasang surut. Polri sempat dipuji berkat kebrhasilannya mengungkap jaringan teroris, namun lagi-lagi ternoda oleh kasus internal. Saya kenal Kapolri sejak dia masih menjabat Kabareskrim. Saya yakin dia orang yang mau memperbaiki citra Polri. Cuma saya akui, pekerjaan itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Banyak sekali yang harus dibenahi Kapolri, pungkasnya. O brn