Beritabatavia.com -
Bank Indonesia keberatan terhadap hasil stress test yang dilakukan International Monetary Found (IMF) yang menyatakan Perbankan Indonesia berpotensi mencapai rasio kredit bermasalah (NPL) hingga 31,5 persen pada kuartal III/2010.
BI menuturkan, dalam penyusunan awal skenario dan metode stress test, telah ada pembicaraan di level teknis antara BI dan IMF. Dalam diskusi penyusunan skenario tersebut, BI sudah keberatan apabila skenario risiko yang dipilih adalah sangat ekstrim negatif.
BI beranggapan skenario anjloknya ekonomi yg diusulkan tim IMF tidak realistis dengan kondisi ekonomi Indonesia ke depan. Selain itu pemerintah dan BI tentunya tidak akan tinggal diam jika ekonomi sudah gawat, karena pasti akan mengambil langkah langkah penyelamatan untuk mencegah hancurnya perekonomian.
Artinya Pemerintah dan BI pasti bertindak preemptif utk mencegah skenario krisis tersebut terjadi. Selain itu, BI juga berkeberatan kalau nantinya hasil stress test ini disalahartikan di kemudian hari, ujar Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah dalam rilisnya di Jakarta Senin 20 September 2010.
BI berpendapat hasil stress test yang dilansir IMF bukanlah suatu prediksi namun gambaran yang terjadi jika ekonomi sudah sangat gawat. Hasil NPL yang terjadi akan sangat berbeda kalau baseline skenarionya juga berbeda. Kalau skenarionya lebih positif maka NPL yg dihitung juga akan semakin baik. Dan BI sendiri dalam melakukan stress test menggunakan skenario yang lebih sesuai dengan kondisi perekonomian ujarnya.
Dalam laporan Financial System Stability Assessment (FSSA) yang dirilis IMF pekan lalu, menyebutkan Kenaikan kredit bermasalah ini bisa terjadi jika ada goncangan terhadap kondisi makroekonomi.
Sistem perbankan Indonesia, meski sudah memiliki modal yang cukup, tapi masih rentan terhadap risiko kredit bermasalah, terutama untuk bank kelas menengah dan besar. Stress test ini dilakukan terhadap 121 bank dengan menggunakan analisis to down, sementara terhadap 12 bank besar menggunakan top up.
o vnc/nor