Jumat, 25 Januari 2019

Ruang Terbuka Hijau Jakarta masih Terbatas

Ruang Terbuka Hijau Jakarta masih Terbatas

Beritabatavia.com - Berita tentang Ruang Terbuka Hijau Jakarta masih Terbatas


Ketersediaan lahan terbatas menjadi kendala utama dalam mengembangkan ruang terbuka hijau. Hingga kini ruang terbuka hijau di jakarta, masih ...

Ist.
Beritabatavia.com -
Ketersediaan lahan terbatas menjadi kendala utama dalam mengembangkan ruang terbuka hijau. Hingga kini ruang terbuka hijau di jakarta, masih sangat rendah, terbatas dan belum berkembang sesuai harapan. Padahal, ruang terbuka hijau sangat dibutuhkan di daerah urban dengan kondisi padat penduduk.

Anggia Murni, Core Founder Green Building Council Indonesia (GBCI) & Principal of Tropica Greeneries, mengatakan dari total keseluruhan ruang di Jakarta, ruang terbuka hijau tidak mencapai 30%.

"Berdasarkan UU [UU No. 26 tahun 2007 tentang ruang terbuka hijau], harus mencapai 30% ruang hijau, 20% dari pabrik dan 10% dari privat, tapi di Jakarta 30% saja tidak tercapai," kata Anggia kepada Bisnis, Jumat (25/01/2019).

Dia mengatakan tidak hanya menghemat energi dan air, ke depan, masyarakat sudah harus memikirkan bagaimana cara untuk hidup sehat. Dengan memiliki banyak ruang terbuka, oksigen yang dihasilkan bisa lebih banyak, mereduksi setres, dan orang-orang tidak perlu ke luar kota untuk melihat pepohonan.

Menurutnya, untuk menambahkan lahan baru, bisa memaksimalkan fungsi ruang atap rumah untuk dijadikan taman (rooftop garden). Banyak keuntungan yang bisa didapatkan dari rooftop garden, di antaranya jika tinggal di hunian vertikal, orang-orang bisa memanfaatkan ruang di atap untuk beraktivitas, dan lebih aman bagi anak, untuk bermain sementara apartemen tidak banyak yang menyediakan taman bermain anak.

Selain itu, masyarakat juga bisa membuat urban farming, menanam buah dan sayur sendiri tanpa kena toxic, juga mengurangi carbon food print. "Tanaman bisa menyerap air sampai 30% sebelum air terbuang ke saluran kota karena tamanam memiliki akar yang bisa menyimpan air. Kemudian juga berdasarkna riset, tanaman bisa menyerap 30.000 partikel debu," paparnya.

Menurutnya, Indonesia sudah tertinggal jauh, sementara Singapura sudah memiliki komitmen akan menambah 200 hektare ruang terbuka hijau pada 2030. Dengan adanya teknologi roof garden, Singapura berhasil menambah 100 hektare ruang hijau sampai saat ini sehingga mereka yakin pada 2030 akan mencapai 200 hektare.

Washington DC sudah memiliki lebih dari 1 juta m2 roof garden. Sedangkan di Jakarta pemerintah masih menghimbau setiap bangunan memiliki green roof atau roof garden, bukan mengharuskan. 0 BIS


Berita Lainnya
Rabu, 17 April 2019
Selasa, 16 April 2019
Selasa, 09 April 2019
Senin, 08 April 2019
Minggu, 07 April 2019
Minggu, 14 April 2019
Jumat, 05 April 2019
Kamis, 04 April 2019
Rabu, 03 April 2019
Selasa, 02 April 2019
Senin, 01 April 2019
Minggu, 31 Maret 2019