Selasa, 14 Mei 2019

Waspada, Jalan Berlubang di Jalan Rasuna Said

Waspada, Jalan Berlubang di Jalan Rasuna Said

Beritabatavia.com - Berita tentang Waspada, Jalan Berlubang di Jalan Rasuna Said

Pengguna jalan raya di Ibu Kota tampaknya harus hati-hati melintas di jalur cepat yang ada di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. ...

Ist.
Beritabatavia.com - Pengguna jalan raya di Ibu Kota tampaknya harus hati-hati melintas di jalur cepat yang ada di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Pasalnya, sejumlah jalan berlubang terlihat di sepanjang jalan itu.

Salah satu pengguna jalan yang kerap melintas kawasan itu, Yugo (35 tahun), sekaligus pengemudi ojek daring. Ia mengatakan, kondisi Jalan HR Rasuna Said banyak yang berlubang mulai dari perempatan lalu lintas Kuningan.

Menurut dia, jalan berlubang itu disebabkan air hujan yang belakangan ini menggenang hingga jalan berlubang. Ditambah dengan hilir mudik kendaraan besar dan alat berat dari proyek lintas rel terpadu (LRT) Jabodebek.

"Kondisi jalan banyak yang berlubang sebagian karena tergantung dengan pengerjaan LRT. Ya memang mungkin faktor cuaca juga memengaruhi, banyak genangan air jadi jalan-jalan banyak yang berlubang," kata Yugo, Selasa (14/05/2019)

Sebagai pengguna jalan kendaraan roda dua yang lalu lalang di jalan itu, Yugo merasa tak nyaman. Terkadang ia pun masuk ke lubang yang cukup dalam itu yang bisa saja merusak motornya di kemudian hari.

Jalan berlubang itu terdapat di beberapa titik, di antaranya di depan XL Axiata Tower. Bahkan, jalan berlubang terlihat dari atas jembatan penyeberangan orang (JPO) di jalur cepat ke arah Kuningan.

Ada juga jalan berlubang yang masih terdapat air menggenang di dekat SPBU Pertamina Kuningan. Hingga jalan berlubang yang diberi rambu-rambu berupa pembatas jalan berwarna oranye.

Sementara itu, di depan Gedung Cyber 2 tampak beberapa Satuan Petugas (Satgas) Suku Dinas (Sudin) Bina Marga Jakarta Selatan. Mereka sedang melepas lelah usai memperbaiki pembatas markah jalan antara jalur cepat dan jalur lambat yang sebagian hancur.

Selain itu, petugas satgas, Romi (29), mengatakan, ia pun kerap mendapatkan tugas menambal jalan berlubang. Saat lalu lintas mulai lengang sekitar pukul 21.00 atau 22.00 WIB, ia dan pasukan kuning lainnya mulai bekerja menambal lubang-lubang di jalan.

Menurut dia, kondisi jalan berlubang karena hujan yang terus-menerus. Serta ditambah dengan beban alat berat dan kendaraan dari proyek pembangunan LRT.

"Memang kerjaan kita nambal jalan. Sering kalau di sini. Dalam seminggu sih bisa sekali. Musim hujan doang sih dikarenakan ini juga ada pembangunan LRT juga. Jadi memang kayak gini, sering. Kebanyakan kendaraan gedenya itu," ujar Romi.

Ia mengatakan, sebelum adanya proyek LRT, kondisi kerusakan jalan tak sesering dan separah ini. Ia menyebut, lubang itu bervariasi ada yang tiga sentimeter dengan lebar setengah meter sampai satu meter.

Menurut Romi, pihaknya juga menerima aduan dari masyarakat yang aktif atau citizen relationship management (CRM) terkait jalan tersebut seperti lubang-lubang ini. Setelah mendapatkan aduan, pimpinannya segera menugaskan pasukan untuk memperbaiki.

"Kalau ada kerusakan kayak trotoar atau jalan aktif masyarakat, kadang-kadang lapor, kita langsung ibratanya dapat CRM dari warga kita langsung kerjain, kalau sudah berbahaya atau apa kita langsung kerjain," kata dia.

Sementara itu, Kepala Seksi Prasarana Jalan dan Jaringan Utilitas Sudin Bina Marga Jakarta Selatan Agus Indroyono mengatakan, pihaknya telah mengirimkan surat ke PT Adhi Karya selaku pelaksana proyek LRT Jabodebek. Surat itu intinya meminta Adhi Karya memperbaiki jalan berlubang di areal kerjanya yang menjadi tanggung jawab.

Hal itu lantaran alat berat proyek dinilai menjadi salah satu penyebab kerusakan jalan. Menurut Agus, sebelum ada proyek, kondisi jalan tak seperti sekarang ini yang cepat rusak.

"Sebelum ada proyek itu enggak seperti ini. Sekarang kok jadi banyak jalan yang cepat rusak, sampai berlubang di Rasuna Said dan setelah ada pemantauan memang diutamakan sebabnya karena alat berat dari LRT itu," kata Agus yang dihubungi Republika, Senin (13/5).

Ia mengatakan, pelaksana proyek seharusnya memperhatikan cara membawa alat berat itu. Menurut dia, kalaupun pakai roda ban harus dilihat seberapa beratnya kemudian dibagi di beberapa garda. Sebab, jarak dari ban ke jalan itu menentukan distribusi dayanya.

Surat itu baru pertama kalinya dikirimkan Sudin Bina Marga Jakarta Selatan ke PT Adhi Karya. Ia berharap Adhi Karya bertanggung jawab di area pengerjaan proyek LRT. Selain itu, pihaknya juga yang berkala memperbaiki jalan.

"Artinya selama mereka bekerja artinya areal kerja di bawahnya itu harusnya jadi tanggung jawab dia. Kan kalau ada proyek itu sebenarnya ada serah terima areal lahan dulu dengan pelaksana pekerjaannya," ujar dia. 0 REP



Berita Lainnya
Jumat, 25 Oktober 2019
Kamis, 24 Oktober 2019
Rabu, 23 Oktober 2019
Selasa, 22 Oktober 2019
Minggu, 20 Oktober 2019
Jumat, 18 Oktober 2019
Senin, 14 Oktober 2019
Jumat, 11 Oktober 2019
Kamis, 10 Oktober 2019
Rabu, 09 Oktober 2019
Senin, 07 Oktober 2019
Minggu, 06 Oktober 2019