Minggu, 22 September 2019

Berbahaya bagi Kesehatan, Segera Tarik Vape dari Pasar

Berbahaya bagi Kesehatan, Segera Tarik Vape dari Pasar

Beritabatavia.com - Berita tentang Berbahaya bagi Kesehatan, Segera Tarik Vape dari Pasar

DESAKAN melarang peredaran rokok elektrik (vape) di Indonesia terus menguat, menyusul banyaknya negara yang telah mene­rapkannya. Langkah awal ...

Ist.
Beritabatavia.com - DESAKAN melarang peredaran rokok elektrik (vape) di Indonesia terus menguat, menyusul banyaknya negara yang telah mene­rapkannya. Langkah awal bisa dilakukan dengan menarik semua jenis vape dari peredaran. Penegasan itu diutarakan Komisi Nasional Pengendalian Tembakau. Komnas mendorong pelarangan semua kegiatan yang berkaitan dengan vape, mulai konsumsi, penjualan/pembelian, distribusi, hingga impor.

"Kami inginnya pelarangan total karena kalau ada pembatasan-pembatasan, sudah pasti nanti dicari celahnya (regulasi) sama industri yang akan dijadikan jalan keluar mereka jualan," cetus Manajer Komunikasi Komnas Pengendalian Tembakau Nina Samidi.

Nina menilai, pemerintah lamban dalam menangani peredaran rokok elektrik yang kini banyak dikonsumsi anak dan remaja. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan­ Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan nyatanya tidak efektif dalam mengatur vape. Dibutuhkan peraturan presiden sebagai solusinya­. "Ini jalan keluarnya supaya tidak tumpang-tindih aturan," sergahnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Penny K Lukito menyatakan, rokok elektrik ialah barang berbahaya. Badan POM pun menganggap rokok elektrik barang ilegal karena tidak memiliki izin edar. Ia pun bingung ketika vape resmi dikenai cukai sejak 1 Oktober 2018.

Senada, Direktur Jenderal Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono menuturkan, pihaknya menolak vape karena bahayanya sama dengan rokok konvensional. Untuk itu, imbuhnya, Kemenkes akan meminta agar Kementerian Keuangan mengenakan biaya cukai yang tinggi pada vape. "Cukai yang dikenakan dengan tinggi atau bahkan sangat tinggi apabila memungkinan," sahut Anung.

Dalam menyikapi kekosongan aturan, Kemenkes akan merevisi PP 109/2012 dengan memasukkan vape ke dalamnya, sebagai salah satu turunan produk tembakau. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan tidak ada rokok atau pengganti rokok yang tidak berbahaya dan lebih aman dikonsumsi. Penyakit asma dan gangguan paru-paru ialah ancaman serius bagi para pengisap vape. Uap dari rokok elektrik juga sama berbahayanya apabila terpapar pada orang di sekitar.

Adam Hergenreder, 18, me­ngonsumsi­ vape selama dua tahun terakhir. Ia termasuk salah satu dari 27 pasien pengonsumsi vape di Illinois, Amerika Serikat, yang dirawat karena gangguan pernapasan. Dilansir dari Chicago Tribune, Hergenreder mengalami kejang-kejang dan tak bisa bernapas tanpa bantuan tabung oksigen. Dari hasil rontgen, pemuda 18 tahun ini memiliki gambaran paru-paru seperti orang berusia 70 tahun. (Ind/H-2

Terdapat sifat iritatif dan oksidatif yang dihasilkan kandungan vape menjadikan rokok elektrik ini berbahaya bagi kesehatan. "Uap yang dihasilkan oleh rokok elektrik mengandung partikel halus seperti halnya asap yang dibakar oleh rokok konvensional yang dikenal sebagai particulate matter (PM). Partikel halus itu bersifat toksik merusak jaringan atau bersifat iritatif," kata Ketua Departemen Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Agus Dwi Susanto di Jakarta.  

Agus menegaskan bahwa partikel halus tersebut dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan dan dapat masuk ke pembuluh darah hingga menganggu kinerja syaraf.  Dalam laman resmi Environmental Protection Agency/EPA (Badan Kesehatan) Amerika Serikat disebutkan PM 2,5 atau partikel yang berukuran kurang dari diameter 2.5 mikrometer merupakan partikel yang paling berbahaya bagi kesehatan khususnya paru-paru.   

Agus mengatakan bahwa sifat oksidatif juga menjadi alasan vape berbahaya. Adanya pertukaran bahan-bahan cairan vape yang telah berubah menjadi uap dengan oksigen lewat pembakaran tidak dapat disangkal.   

Menurut Agus, kandungan partikel halus uap vape tersebut ditemukan dalam penelitian CDC (Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit AS) terbukti merusak lapisan epitel dan alveola (bagian ujung paru-paru) saluran napas. Kerusakan dua bagian tubuh tersebut menyebabkan acute respiratory distress syndrome (ARDS) atau kerusakan akut pada kedua paru-paru.       

Dalam jangka pendek keluhan yang dapat dirasakan oleh penderita ARDS akibat Vape adalah sesak napas, nyeri dada, mual, dan diare. Hingga saat ini, kata Agus, di AS telah terjadi 400 kasus kerusakan akut paru-paru akibat pengunaan vape. Hal ini menyebabkan enam orang meninggal dunia.   

Bahaya lainnya yang dapat ditemui oleh pengguna vape adalah kecanduan nikotin dan terpapar bahan karsinogen yang merupakan pemicu sel kanker di dalam tubuh. "Beberapa kandungan karsinogen dalam vape yang disinyalir seperti formaldehyide dan nitrosamine yang kalau dikonsumsi secara terus-menerus dapat memicu kanker," kata Agus sambung Dokter spesialis paru-paru itu mengimbau masyarakat lebih baik tidak menggunakan vape untuk mencegah kejadian serupa di Indonesia. 

Pada pekan lalu laporan The Washington Post menyebutkan 354 kasus penyakit paru-paru di 29 negara bagian AS yang dikaitkan dengan perilaku vaping. Akibat hal itu, pemerintah AS mengumumkan rencana larangan penggunaan vape berasal buah dan mentol, atau hanya rasa tembakau yang diperbolehkan beredar. 0 END
Berita Lainnya
Jumat, 25 Oktober 2019
Kamis, 24 Oktober 2019
Rabu, 23 Oktober 2019
Sabtu, 19 Oktober 2019
Jumat, 18 Oktober 2019
Kamis, 17 Oktober 2019
Rabu, 16 Oktober 2019
Senin, 14 Oktober 2019
Jumat, 11 Oktober 2019
Kamis, 10 Oktober 2019
Sabtu, 05 Oktober 2019
Kamis, 03 Oktober 2019