Minggu, 05 Juli 2020 16:49:35

Kesadaran & Kepedulian Sebelum Kemerdekaan di RS 'Jang Seng Le'

Kesadaran & Kepedulian Sebelum Kemerdekaan di RS 'Jang Seng Le'

Beritabatavia.com - Berita tentang Kesadaran & Kepedulian Sebelum Kemerdekaan di RS 'Jang Seng Le'

Dalam peringatan hari Pahlawan 10 Nopember 1961, Presiden pertama RI Soekarno lewat pidatonya  mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa ...

Kesadaran & Kepedulian Sebelum Kemerdekaan di RS 'Jang Seng Le' Ist.
Beritabatavia.com -

Dalam peringatan hari Pahlawan 10 Nopember 1961, Presiden pertama RI Soekarno lewat pidatonya  mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya dan mau belajar dari tokoh bangsa dimasa lalu untuk membangun generasi muda Indonesia yang lebih baik. Lima tahun kemudian, saat HUT RI 17 Agustus 1966, Soekarno kembali menyinggung pentingnya sejarah, lewat pidato bertajuk Jasmerah atau Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.  

Sejarah mencatatkan langkah awal perjalanan dan peristiwa penting, untuk diketahui oleh generasi selanjutnya. Selain menjadi warning tentang apa yang sesuai atau yang tidak layak, sejarah mengungkap tentang sesuatu yang penting dan pernah terjadi, sehingga dapat menjadi inspirasi dan inovasi untuk melangkah selanjutnya.

Sejarah juga dapat meluruskan sengketa masa lalu agar tidak terus menjadi polemik. Sejarah seperti akte kelahiran yang menjelaskan tentang kisah awal dan asal usul seorang anak manusia. Semua punya cerita meskipun ada yang terlupa menuliskannya.

Begitu juga cerita tentang sebuah bangunan di ujung Jalan Manggabesar Raya Jakarta, yang dikenal luas sebagai Rumah Sakit (RS) Husada. Sebelumnya RS Husada itu bernama Rumah Sakit "Jang Seng Ie", yang merupakan sumbangan dari warga Tionghoa terhadap orang-orang miskin di Jakarta. Lalu pada tahun 1965, Prof Dr Satrio sebagai Menteri Kesehatan, mengganti nama rumah sakit Jang Seng Ie menjadi RS Husada.

Rumah Sakit Jang Seng Ie berdiri sejak tahun 1924 dipimpin oleh  Dr Kwa Tjoan Sioe sekaligus inisiator untuk mewujudkan rasa kemanusiaan masyarakat Tionghoa terhadap kondisi penanganan kesehatan masyarakat Betawi (Jakarta) yang amat buruk dari penjajah Belanda saat itu. Saat itu, negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) belum merdeka dari tangan kolonial Belanda. Tetapi keajaiban di RS Jang Seng Ie terus terjadi dan terlihat dengan mata telanjang. Puluhan ribu masyarakat dari berbagai kalangan, terutama penduduk Betawi, diobati secara cuma-cuma alias gratis di rumah sakit ini. Keajaiban lainnya, para tenaga medis dokter dan perawat saat itu tidak mau menerima bayaran.Justru mereka menanggung sendiri biaya transportasi dan keperluan lainnya.

Keajaiban yang sulit diucapkan dengan kalimat, tetapi menjadi nyata dan luar biasa setelah diwujudkan dengan tindakan. Sayangnya, sejarah tidak mencatat secara lengkap sosok-sosok dan peran yang luar biasa saat mendirikan rumah sakit bersejarah itu. Sejarah hanya mencatat sejumlah dermawan warga Tionghoa yang menyumbangkan dana untuk membiayai keberlangsungan rumah sakit tersebut. Di antaranya yang dapat kita catat adalah:

1. Auw Boen Hauw 38.000 Gulden
2. Khouw Ke Hien 18.000 Gulden
3. Liem Gwan Kwie 22.000 Gulden
4. Thung Tjien Pok 10.000 Gulden

Luar biasa dan yang menariknya, dana juga diperoleh dari iklan undangan pernikahan kalangan Tionghoa, setiap uang sumbangan (angpao) untuk mempelai akan disumbangkan kepada Rumah Sakit Jang Seng Ie.

Sang Pendiri

Dr. Kwa Tjoan Sioe (1893-1948) adalah pendiri RS Jang Seng Ie. Dr Kwa lulusan Kedokteran dari Universiteit van Amsterdam dan Tropen Institute of Tropical Hygiene. Menempuh pendidikan di Belanda dari tahun 1913 sampai 1921.Tahun 1922, Dr Kwa sudah membuka praktek untuk menolong orang-orang miskin, ibu hamil dan anak-anak.
Tahun 1924, bersama tokoh-tokoh Tionghoa lainnya seperti Liem Tiang Djie, Tan Boen Sing, Injo Gan Kiong, Ang Jan Goan, Lie Him Lian, Tan Eng An dan Lie Tjwan Ing, mendirikan Jang Seng Ie.

husada

foto: sejarah RS Husada

Pada 19 Maret 1948, Dr Kwa meninggal terjatuh dalam keletihan akibat pengabdiannya yang begitu hebat kepada rakyat. Meninggal dalam perjuangan untuk bangsanya, Indonesia!

Pasien biasanya bayar dokter, tapi dokter yang satu ini sebaliknya, lebih sering memberi uang kepada pasiennya yang susah. Kehebatan dan ketenaran dokter Kwa tidak hanya dikenal di Batavia, tapi juga ke daerah-daerah lainnya, seperti Serang dan Cirebon. Mengobati pasien di mana pun berada, sejauh yang bisa dicapai. Tak jarang ia harus tidur dalam mobil.

Jika sebagian dokter menjauhi arena politik, tidak dengan beliau, kemampuannya menulis artikel di surat kabar dibarengi dengan keberaniannya mengecam praktek penjajahan Belanda.

Berdasarkan informasi yang disampaikan langsung oleh Ibu Myra Sidharta, tokoh senior peneliti Peranakan Tionghoa di Indonesia. Diperkuat oleh keterangan dari buku karangan Prof Leo Suryadinata yang berjudul Prominent Indonesian Chinese.Disebutkan sikap dan pendirian Dr Kwa Tjoan Sioe hanya bisa meleleh bila menyangkut kepentingan masyarakat miskin. Sehingga Dr Kwa akhirnya menerima setelah beberapa kali menolak sumbangan orang sangat kaya saat itu seperti pemilik balsem Cap Macan, Auw Boen Hauw, yang selalu merayu Dr Kwa Tjoan Sioe, sebagai pendiri R.S Jang Seng Ie (Husada) agar mau menerima sumbangan darinya.

Hati Dr Kwa luluh setelah Auw Boen Hauw memberikan pandangan, dengan menerima sumbangannya, maka Dr Kwa dapat membangun paviliun, agar orang kaya dapat datang dan mau berobat di rumahsakitnya. Lalu uang biaya pengobatan dari orang-orang kaya tersebut dapat dipakai untuk mengobati lebih banyak lagi orang-orang miskin. Catatan sejarah Rumah Sakit Husada mengingatkan dan membangunkan kesadaran agar melahirkan kepedulian terhadap kemanusiaan ditengah pandemi virus corona atau covid-19. O son /berbagai sumber

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Kamis, 02 Januari 2020
Selasa, 31 Desember 2019
Senin, 30 Desember 2019
Rabu, 25 Desember 2019
Selasa, 24 Desember 2019
Minggu, 22 Desember 2019
Jumat, 20 Desember 2019
Rabu, 11 Desember 2019
Selasa, 10 Desember 2019
Senin, 09 Desember 2019
Sabtu, 07 Desember 2019
Kamis, 05 Desember 2019