Sabtu, 08 Mei 2010 10:43:04

Komjen (Pur) Noegroho Djajoesman: Jangan Mengkhianati Institusi Polri

Komjen (Pur) Noegroho Djajoesman: Jangan Mengkhianati Institusi Polri

Beritabatavia.com - Berita tentang Komjen (Pur) Noegroho Djajoesman: Jangan Mengkhianati Institusi Polri

JAKARTA.Sukses seorang polisi diukur bukan saat dia masih berdinas aktif, melainkan setelah pensiun. Pernyataan ini disampaikan mantan Kapolri ...

Komjen (Pur) Noegroho Djajoesman: Jangan Mengkhianati Institusi Polri  Ist.
Beritabatavia.com - JAKARTA.Sukses seorang polisi diukur bukan saat dia masih berdinas aktif, melainkan setelah pensiun. Pernyataan ini disampaikan mantan Kapolri Jenderal (Pur) Sutanto kepada Komisaris Jenderal (Pur) Noegroho Djajoesman dalam sebuah acara di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Menurut Sutanto, selain sebagai senior Komjen Noegroho adalah guru, sahabat, sekaligus idolanya. Tak heran kalau Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) ini juga berharap para perwira muda Polri bisa menjadikan Noegroho sebagai panutan dalam menjalankan tugas agar dicintai masyarakat. Pak Noegroho itu sangat menguasai wilayah dan masyarakat di tempat dia bertugas, kata lulusan AKPOL 1973 itu kepada Berita Batavia.
Malam ini, Sutanto melanjutkan, jadi bukti nyata kalau Noegroho sukses melaksanakan tugas selama menjadi anggota Polri. Meskipun sudah beberapa tahun pensiun, toh Noegroho tetap menjadi milik banyak orang. Rasa kebersamaan dengan Noegroho tak pernah pudar. Pak Noegroho sangat dikenal di berbagai kalangan, baik itu pejabat aktif hingga kelompok masyarakat biasa, pujinya.
Sutanto mengaku tak pernah meragukan kepedulian Noegroho terhadap Polri. Cintanya kepada Polri dibuktikan dengan ketulusannya menerima setiap kebijakan pimpinan meskipun terkadang merugikannya.
Di tengah pujian, Komjen Noegroho Djajoesman tentu tak lepas dari berbagai tudingan miring. Seperti kedekatannya dengan sejumlah ormas seperti FPI dan organisasi aliran keras lainnya. Soal itu, lulusan AKPOL 1970 ini mengatakan, dia ‘tidak kemana-mana tapi ada dimana-mana’. Jadi seorang polisi itu harus dekat dengan semua orang maupun kelompok atau ormas manapun, tegasnya.
Dengan motto itulah Noegroho sukses memimpin Polda Metro Jaya pada 1998. Saat itu anggota Polda Metro Jaya mengalami krisis kepercayaan diri akibat tekanan masyarakat yang sedang menikmati eforia reformasi. Bahkan, polisi tidak berani menggunakan seragam bila keluar dari markas Polda Metro Jaya. Di masa sulit itulah sosok Noegroho yang sedang menjabat Kapolda Jawa Tengah mendapat kepercayaan dari Kapolri Jenderal Dibyo Widodo untuk memimpin Polda Metro Jaya.
Kehadiran Noegroho di Polda Metro Jaya langsung membawa angin segar. Dia langsung mengunjungi sejumlah tokoh masyarakat dan pemuka agama di Jakarta. Hasilnya, dalam waktu relatif singkat kepercayaan diri para personel Polda Metro Jaya kembali pulih sehingga bisa menjalankan tugas sebagai pelayan, pelindung, pengayom masyarakat, serta penegak hukum.
Didasari kecintaan yang tulus kepada institusi Polri, Noegroho selalu melaksanakan tugas dengan melibatkan masyarakat. Memelihara komunikasi dengan para tokoh masyarakat dan ulama serta berbagai kelompok masyarakat lainnya. Ujungnya, dia tidak pernah mengalami kesulitan memperoleh informasi saat akan mengambil keputusan. Gaya kepemimpinan itu dia lakukan di setiap wilayah tempatnya bertugas, termasuk saat menjabat Kapolres Metro Jakarta Selatan (1986) dan Kapolres Metro Jakarta Pusat (1987). Terkait prestasinya itu, Noegroho pun mendapat penghargaan Bintang Maha Putra Utama dari pemerintah. Padahal, saat itu dia masih berpangkat Inspektur Jenderal (Irjen) atau Jenderal Bintang dua. Biasanya penghargaan Bintang Maha Putra Utama itu diberikan kepada Jenderal berbintang empat, kata Noegroho bangga.
Berlatar seorang anak perwira tinggi Polri, tak heran kalau cinta Noegroho tak pernah pindah ke lain hati. Pria kelahiran Purwokerto, 8 April 1947 ini sudah bercita-cita menjadi polisi sejak masih duduk di bangku SMP di Padang, Sumatera Barat. Untuk mewujudkan cita-citanya, setelah lulus SMA di Padang Noegroho langsung mendaftar AKPOL.
Cinta mati untuk Polri membuat Noegroho tak rela jika ada orang atau kelompok yang berusaha mencoreng citra Kepolisian Republik Indonesia. Meskipun untuk itu dia yang harus menjadi korban lantaran tindakan semena-mena pimpinannya. Seperti saat Kapolri Jenderal Roesmanhadi. Noegroho sempat tidak mendapat jabatan (non job) selama setahun. Toh, hal itu tak sampai membuatnya meradang atau membeberkan ke publik. Saya menerima keputusan Kapolri demi keutuhan Polri, katanya mengenang peristiwa itu.
Memang sikap nrimo Noegroho tak sebangun dengan karakternya yang suka dengan pekerjaan penuh tantangan serta tidak cepat puas dengan hasil kerjanya. Suami Tati Rachmiaty ini tak pernah berhenti mencari inovasi baru untuk meningkatkan pelayanan masyarakat. Berpikir dan bergerak cepat hingga terlihat keras adalah merupakan ciri khas Noegroho. Sikap menentang dan ngotot jika merasa benar, sangat menonjol. Dengan karakter itu Noegroho tidak segan-segan menolak perintah pimpinannya apabila dinilai berlawanan dengan aturan dan hati nuraninya. Tapi, kecintaannya terhadap Polri mengalahkan kekerasan hatinya untuk tidak membeberkan perlawanannya ke publik.
Noegroho dengan lapang dada menyimpan semua ketidaksukaannya dalam hati jika sudah tidak bisa lagi menyelesaikannya di jalur internal. Membeberkan persoalan internal ke publik merupakan tindakan pengkhianatan terhadap institusi, tegasnya.
Dia berharap para perwira muda Polri tidak mengungkapkan ketidakpuasannya ke publik karena akan menyulitkan institusi secara keseluruhan. Selesaikan segala permasalahan internal melalui jalur yang ada meskipun itu membutuhkan waktu yang relatif lama, imbaunya. O Edison Siahaan
Berita Lainnya
Jumat, 25 September 2026
Rabu, 23 September 2026
Senin, 21 September 2026
Kamis, 17 September 2026
Selasa, 15 September 2026
Selasa, 15 September 2026
Senin, 14 September 2026
Senin, 14 September 2026
Sabtu, 12 September 2026
Jumat, 11 September 2026
Jumat, 11 September 2026
Kamis, 10 September 2026