Beritabatavia.com -
Maraknya produk tekstil dan garmen impor asal China yang membanjiri pasar Indonesia, juga penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, berdampak daya saing tekstil produk Indonesia, semakin tergeser. Bahkan, terancam melemahkan produk tekstil dalam negeri.
Kita jelas akan kehilangan daya saing karena asumsi kita selama ini perdolar AS itu 9.500 tetapi sekarang 8.500 per dolar AS, dampaknya tentu pelemahan daya saing. papar Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat di Jakarta, Jumat (12/8).
Ditambah lagi, maraknya produk tekstil dan garmen impor yang semakin menyerbu pasar Indonesia sekaligus pasar didominasi barang impor. Kondisi ini, diperkirakan akan terus meluas pada akhir tahun di mana ekspor tekstil Indonesia terancam menurun, dibandingkan angka impor tekstilnya.
Ini jelas-jelas membahayakan produksi dalam negeri, di mana produk impor akan mendominasi apalagi menjelang lebaran seperti sekarang ini, katanya.
Pantauan API, kini peredaran produk tekstil dan garmen impor di pasar lokal sudah mencapai 50-60 persen. Sementara sikap pemerintah belum berbuat untuk tekstil Indonesia. Seharusnya, pemerintah segera bertindak merespon kondisi tersebut untuk melindungi industri tekstil dalam negeri dari tekanan produk impor.
Pemerintah harus cepat tanggap memberlakukan berbagai hal untuk memproteksi pasar dalam negeri, salah satunya memberlakukan labeling untuk garmen impor, mereka harus menggunakan label dalam bahasa Indonesia sehingga masyarakat kita tidak dirugikan, tegasnya.
Selain itu, ia juga meminta agar seluruh pihak secara sadar meningkatkan konsumsi produk tekstil dan garmen dalam negeri agar industri lokal dapat terus berproduksi. Kreativitas anak bangsa harus terus diapreasiasi dan terus dipupuk, karena kreativitas kita tidak terkalahkan dengan produk impor baik dari segi batik, distro, dan produk lain, sarannya, o end