Beritabatavia.com -
Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapolda Sumut) Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro dinilai sangat arogan. Bahkan, tidak etis karena memarahi wartawan yang disertai ancaman. Sikap seorang Kapolda bukan merupakan bagian dari cerminan sikap seorang pemimpin institusi dengan semboyan mengayomi masyarakat.
Ini merupakan bagian dari kelalaian seorang Kapolri Jenderal Timur Pradopo yang mempromosikan Wisjnu. Wijsnu semakin arogan ketika ditempatkan di daerah kelahirannya. Wisjnu bakal membawa masalah baru buat masyarakat nantinya. Dia itu pemimpin yang tidak mengayomi bawahan dan masyarakat, ujar pengamat kepolisian, Agus Yohanes di Medan, Sumatera Utara (Sumut), Selasa (23/8).
Agus mengatakan, belum ada gebrakan yang dilakukan Wisjnu selama memimpin daerah iniu. Pemberantasan segala bentuk perjudian yang didengungkannya tidak membuat judi lenyap dari dari Sumut. Bahkan, perjudian semakin marak di daerah tersebut. Begitu juga dengan penanganan kasus korupsi yang melibatkan pejabat daerah dinilai sangat lambat. Bahkan, banyak oknum polisi melakukan penyimpangan selama Wisjnui menjabat Kapolda.
Wisjnu tidak layak menduduki jabatan sebagai kapolda. Bukan mengayomi, dia malah bisa membuat situasi di daerah tersebut menjadi tidak kondusif. Wisjnu tidak perlu mengurusi urusan rumah tangga institusi lain, apalagi sampai menantang wartawan untuk memberitakan ketidakbenaran dari aparat satuan samping. Ungkapan Wisjnu sangat bisa memancing emosional, katanya.
Karena itu, Agus memintas Kapolri Timur Pradopo untuk mengevaluasi jabatan Wisjnu sebagai Kapolda Sumut. Selain itu, DPR pun diharapkan turut berperan serta mengingatkan pemimpin Polri atas sikap Kapolda Sumut. Sebab, jika jabatan tersebut tidak dievaluasi maka bisa berimplikasi buruk buat masyarakat. Situasi kondusif di tengah masyarakat diharapkan jangan sampai berubah.
Agus mengaku sangat menyesalkan sikap Wisjnu yang bisa memperkeruh keadaan di daerah ini. Soalnya, hubungan antara Polri dengan masyarakat dan TNI dirasakan sangat harmonis sebelum Wisjnu menjabat sebagai Kapolda Sumut. Bahkan, meski tidak ada diminta TNI terlibat langsung dalam melakukan penangkapan terhadap perampok bersenjata saat penyergapan di Diolok Masihol.
Sebelumnya, Direktur Lembaga Bantuan Hukum Medan, Nuriyono menyampaikan, sikap arogansi seorang pemimpin Polri akan membuat masyarakat semakin tidak percaya dengan petugas berseragam cokelat tersebut. Sikap tersebut dipastikan merugikan institusi itu sendiri jika pemimpin Polri tidak segera mengambil langkah untuk melakukan evaluasi kinerja bawahannya.
Tidak bisa dipungkiri, tugas Polri banyak terbantu dengan pemberitaan yang disiarkan wartawan melalui media. Sebab, bila mengharapkan informasi dari bawahan maka sulit untuk sepenuhnya dapat diketahui. Bila memang tidak mau dikritik maka tidak usah menjadi pemimpin. Pemimpim Polri harus menyadari bahwa media sebagai filter yang membantu menjalankan fungsi keamanan dan ketertiban di masyarakat, imbuhnya.
Bahkan, Nuriyono menilai pernyataan Kapolda Sumut sangat tidak arif jika menyebutkan institusi lain. Wisjnu tidak perlu menantang wartawan untuk memberitakan ketidakbenaran jika dilakukan institusi lain. Tantangan tersebut membuat institusi lain yang menjadi pengamban pertahanan keamanan dalam negara ini bisa tersinggung. Untung saja, pemimpin institusi yang disingguing tersebut, sangat arif dan bijaksana.
Ancam Wartawan
Pada Jumat siang pekan lalu Kapolda Sumut itu marah-marah terhadap sejumlah wartawan di markas Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Mapoldasu). Sikap Kapolda tersebut sudah sering dilakukannya kepada wartawan. Bahkan, saat melakukan pertemuan pertama dengan kalangan pers di Hotel Emeral Garden, Wisjnu juga memperlihatkan itikad tidak baik. Dia juga memarahi seorang wartawan saat bertanya kepadanya.
Jumat lalu itu, Wisjnu menuding wartawan selalu mencari kesalahan-kesalahan polisi. Merasa kesal dengan wartawan, Wisjnu memerintahkan petugas provost untuk memeriksa identitas wartawan. Ini bisa dimaklumi, sebab Wisjnu beralasan banyak wartawan tidak jelas.
Wisjnu merasa kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan wartawan karena dianggap memojokkan institusi yang dipimpinnya. Kenapa harus saya yang kalian temui. Ini kan ada struktur organisasi, ingat loh, jadi kalau ada humas ya humas, nanti kalau nggak dikasih laporkan ke saya. Saya banyak kerjaan, bukan kalian saja. Itu diingat baik-baik. Jadi, tidak harus saya, katanya seperti dilansir SP.com
Dia mengungkapkan, banyak wartawan tidak jelas yang kerjanya hanya menakut - nakuti. Saya nggak takut, kucari kalian kalau macam-macam. Sama kita anak Medan, aku juga anak Medan. Sampai ke lubang semut saya cari kau, saya lepas pangkat saya, saya cari kamu. Itu loh, jadi mari kita sama-sama saling menghargai, ujar Wisjnu yang mengarahkan wajahnya pada semua wartawan yang berada di situ saat itu. o end