Rabu, 12 Oktober 2011 09:48:36

Peran Etnis Tionghoa Untuk Kebangkitan Pers Nasional

Peran Etnis Tionghoa Untuk Kebangkitan Pers Nasional

Beritabatavia.com - Berita tentang Peran Etnis Tionghoa Untuk Kebangkitan Pers Nasional

Berawal dari rasa senasib dan sepenanggungan. Kaum Tionghoa dan pribumi bersatu dan menjadikan Pers sebagai alat ...

Peran Etnis Tionghoa Untuk Kebangkitan Pers Nasional Ist.
Beritabatavia.com - Berawal dari rasa senasib dan sepenanggungan. Kaum Tionghoa dan pribumi bersatu dan menjadikan Pers sebagai alat perjuangan merebut kemerdekaan.

ETNIS Tionghoa ternyata tidak hanya berpartisipasi atau berperan dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga  sangat berperan dalam pertumbuhan pers nasional. Sehingga keberadaan atnis Tionghoa tidak terpisahkan dari  perjalanan sejarah pers nasional. 

Bahkan, dapat dikatakan keberadaan warga Tionghoa di nusantara lebih dulu dari usia pers nasional. Namun, tidak banyak yang mengetahui apa saja peran etnis Tionghoa dalam hal membangkitkan dunia pers di Indonesia.
Sejauh manakah peran mereka dalam membangkitkan pers di Indonesia? Berdasarkan data yang tercatat dalam sejarah dan berbagai sumber yang dihimpun menyebutkan, penerbitan media cetak di Indonesia sudah dimulai sejak penguasaan VOC (1619-1799), tepatnya tahun 1676. Tentu, saat itu hanya kalangan penguasa dari Eropa terutama Belanda dan Inggris yang diizinkan menerbitkan media cetak. Meskipun akhirnya, warga Tionghoa dan kalangan bumiputra diizinkan mengelola media cetak sendiri.

Sejarah Pers di Indonesia

Dr De Haan dalam buku Oud Batavia (G. Kolf Batavia 1923) mengungkapkan, tahun 1676 di Batavia sudah muncul sebuah terbitan berkala bernama Kort Bericht Eropa (berita singkat dari Eropa).
Terbitan berkala yang memuat berbagai berita dari Polandia, Prancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Inggris, dan Denmark ini, dicetak di Batavia oleh Abraham Van den Eede tahun 1676. Setelah itu terbit Bataviase Nouvelles pada bulan Oktober 1744. Kala itu, Bataviasche Nouvelles hanya memuat berita tentang acara resepsi pejabat, pengumuman kedatangan kapal, stok barang dagangan, atau berita dukacita.

Kemudian, media cetak yang berbentuk surat kabar baru muncul tahun 1800 an. Bataviasche Koloniale Courant tercatat sebagai surat kabar pertama yang terbit di Batavia tahun 1810. Ketika armada Inggris menaklukkan Jawa, Thomas Stamford Raffles yang diangkat sebagai Gubenur Jenderal juga sempat menerbitkan koran mingguan bernama Java Government Gazette pada 1812. Lalu, pada  1825 muncul De Locomotief di Semarang.

Namun, pers yang melayani masyarakat pribumi baru lahir pada 1855 di Solo dengan nama Bromomartani. Kemudian disusul Selompret Melajoe di Semarang tahun 1860. Pada era ini, di luar Jawa, juga lahir sejumlah surat kabar. Antara lain Celebes Courant dan Makassar Handelsblad di Ujungpandang, Tjahja Siang di Manado, Sumatra Courant dan Padangsch Handelsblad di Padang.
Sementara di Batavia, lahir sejumlah koran. Yang paling popular adalah Bintang Betawi. Hanya saja, koran-koran yang terbit pada masa awal sejarah pers tersebut kebanyakan dikelola kaum kolonial.

Sampai akhir abad ke-19, koran atau terbitan berkala yang dicetak di Batavia hanya memakai bahasa Belanda. Karena surat kabar di masa itu diatur oleh pihak Binnenland Bestuur (penguasa dalam negeri), kabar beritanya boleh dikata kurang seru.
Karena, isi beritanya cuma hal-hal yang biasa dan ringan, dari aktivitas pemerintah yang monoton, kehidupan para raja, dan sultan di Jawa, sampai berita ekonomi dan kriminal.

Pers Lokal Bangkit

Pers lokal mulai muncul pada awal tahun 1900 an, setelah pemerintah kolonial Belanda mengizinkan kaum Tionghoa dan pribumi mengelola media cetak.
Tahun 1900 Dr Wahidin Soedirohoesodo menangani surat kabar Retno Dhoemilah yang terbit dalam dua bahasa yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Melalui media ini Wahidin mulai mengkampanyekan nasionalisme, pendidikan masyarakat, persamaam derajat dan budi pekerti.
Kendati, surat kabar Retno Dhoemilah ini juga didirikan oleh orang Belanda bernama FL winter, dengan perusahaan penerbit milik kolonial H Bunning Co.

Mendorong Perjuangan Kemerdekaan

Pers Tionghoa muncul di Jawa pada awal abad ke-20 dan bisa dibedakan dalam dua kelompok yakni pers berbahasa Tiongkok dan pers berbahasa Melayu. Pers berbahasa Tiongkok dikelola oleh kalangan Singkek atau yang dikenal dengan sebutan China totok. Sedang pers berbahasa Melayu dikelola kalangan Tionghoa peranakan.

Dari catatan Abdul Wakhid (Lembaran Sejarah, 1999), kemunculan  pers nasional berawal terbitnya surat kabar milik kalangan China totok yang berbahasa asli dari Tiongkok. Kemudian muncul pers berbahasa melayu milik Tionghoa peranakan. Sebab, mereka sudah banyak yang tak paham lagi dengan bahasa asli Tiongkok. Kebiasaan mereka juga sudah berbeda karena banyak yang menyerap dan terserap dalam budaya lokal pribumi.

Surat kabar milik Tionghoa peranakan yang pertama terbit adalah Li Po dicetak di Sukabumi, Jawa Barat.  Tak lama kemudian muncul sejumlah surat kabar lainnya, seperti Pewarta Soerabaia (Surabaya-1902), Warna Warta (Semarang-1902), Chabar Perniagaan (Jakarta-1903), Djawa Tengah (Semarang-1909), dan Sin Po (Jakarta-1910).

Dekade 1920-an, kalangan Tionghoa peranakan menerbitkan sejumlah suratkabar lagi. Antara lain Bing Seng (Jakarta-1922), Keng Po (Jakarta-1923), Sin Jit Po (Surabaya-1924), Soeara Publiek (Surabaya-1925), dan Sin Bin (Bandung-1925).
Lalu pada dekade 1930-an, surat kabar Tionghoa peranakan makin bertambah banyak akibat pengaruh perang anti-Jepang. Namun surat kabar Tionghoa peranakan tidak semuanya anti-Jepang, seperti yang ditunjukkan Mata Hari (Semarang) dan Hong Po (Jakarta).

Dari segi redaksional, susunan staf surat kabar Tionghoa peranankan semula menggunakan tenaga dari Indo Eropa, seperti yang dilakukan Chabar Perniagaan dan Sin Po pada awal terbitnya. Dalam perkembangannya, surat kabar Tionghoa peranankan bisa mandiri. Bahkan, ada yang memberikan kesempatan kepada orang-orang bumiputra (pribumi) sebagai jurnalis atau pengelola. Hal itu ditunjukkan oleh pengelola Keng Po, Siang Po, Sin Po, Pewarta Soersbsis, Mata Hari, dan Sin Tit Po.

Namun, jika dilihat dari spektrum politis yang dipantulkan dari surat kabar Tionghoa, setidaknya bisa dibagi dalam tiga aliran yaitu  kelompok Sin Po, kelompok Chung Hwa Hui, dan kelompok Indonesier (orang Indonesia).
Kelompok Sin Po menolak kewarganegaraan Belanda dan menghendaki tumbuhnya nasionalisme Tiongkok. Sementara kelompok Chung Hwa Hui cenderung pro-Belanda tapi masih ingin mempertahankan identitas etnisnya. Sedang kelompok Indonesier tetap ingin mempertahankan identitas etniknya.

Tetapi, secara politik ingin berasimilasi dengan masyarakat lokal dan bersedia berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Bahkan, ketika kalangan intelektual bumiputra (pribumi) masih kesulitan mengelola pers secara mandiri, surat kabar milik Tionghoa awal abad ke-20 menjadi salah satu sumber dan media penting untuk mendorong pergerakan nasional Indonesia guna melawan penjajah Belanda.

Sikap Belanda

Sikap Belanda terhadap pertumbuhan pers ternyata berbeda. Industri pers yang dikelola kalangan Tionghoa   tidak mendapat tindakan represif atau  pembredelan maupun penangkapan seperti yang dialami jurnalis pribumi.
Sebab, pers Tionghoa dianggap netral. Sikap lunak Belanda ini mungkin tak lepas dari kepentingan Belanda yang ingin memanfaatkan kaum Tionghoa sebagai alat politik dan ekonomi.

Surat kabar Sin Tit Po sebagai wakil pers Tionghoa peranakan yang bersedia menerima penuh ideologi nasionalisme Indonesia. Pengelola surat kabar yang juga menjadi corong resmi Partai Tionghoa Indonesia (PTI) ini menganggap Indonesia sebagai tanah airnya dan bersedia berjuang untuk kemerdekaan.
Mereka merasa, nasibnya telah terikat dengan nasib orang Indonesia pribumi. Tak aneh jika Sin Tit Po ikut menyebarkan ide-ide nasionalisme Indonesia.0 sutrisno/son



Berita Lainnya
Kamis, 25 Juni 2026
Kamis, 25 Juni 2026
Rabu, 24 Juni 2026
Selasa, 23 Juni 2026
Selasa, 23 Juni 2026
Selasa, 23 Juni 2026
Selasa, 23 Juni 2026
Senin, 22 Juni 2026
Jumat, 19 Juni 2026
Kamis, 18 Juni 2026
Rabu, 17 Juni 2026
Selasa, 16 Juni 2026