Beritabatavia.com -
Di rumah dirampok, naik motor dirampas, di dalam kereta api dicopet, naik angkot diperkosa, jalan kaki ditabrak,ngesot ditendang satpam. Susah mendapat rasa aman di Jakarta. Padahal, keamanan dan ketertiban syarat mutlak bagi suatu masyarakat agar dapat menjalankan aktivitas untuk memenuhi kehidupanya.Kualitas kejahatan di Jakarta semakin meningkat tajam.Perampokan dengan menggunakan senjata api nyaris terjadi setiap hari. Rasa aman kini menjadi ‘barang mewah’ bagi warga Batavia. Polisi tak mampu antisipasi secara dini ?.
Kolom berita kriminal di Ibu Kota nyaris penuh sesak dengan pemberitaan tentang kejahatan yang sadis. Perampokan dengan menggunakan senjata api, pencurian, jambret hingga pembunuhan, nyaris terjadi setiap hari. Nyawa manusia menjadi kian tak berharga. Sementara, ribuan senjata api (Senpi) ilegal masih bertebaran dimasyarakat. Polisi dinilai tidak serius menarik senjata api ilegal.
Meski bergidik, masyarakat kini tidak akan kaget lagi bila mendengar berita tentang tukang ojek yang tewas ditembak dan dirampas motornya oleh perampok. Hanya demi uang 1-5 juta rupiah dari hasil menjual motor rampasan, para pelaku perampokan dengan enteng memuntahkan peluru untuk menghabisi tukang ojek. Dan dengan nilai sebesar itulah seseorang menilai dan menghargai nyawa orang lain.
Kasus terkini, peristiwa penembakan seorang pengacara bernama Tito Refra Kei ( adik Jhon Kei) di wilayah komplek perumahan Titian Indah, Bekasi. Dalam aksi brutal itu, Tito Refra dan seorang pemilik warung kopi bernama Ratim harus meregang nyawa setelah tubuh dan kepalanya di robek timah panas yang ditembakan dari jarak dekat oleh orang tak dikenal.
Pertanyaannya, adalah kenapa begitu mudahnya masyarakat awam memperoleh senjata api ?. Padahal Skep Kapolri Nomor 1117/VIII/2005 secara tegas menyatakan perihal penarikan senjata api dari tangan masyarakat sipil.
Namun faktanya, berdasarkan data di Mabes Polri, dari 17.541 surat izin penggunaan Senpi yang dikeluarkan Polri, baru sebanyak 9.743 pucuk senpi yang ditarik. Sedangkan sisanya sekitar 7.798 pucuk senpi illegal kini masih beredar dan tidak diketahui keberadaannya.
Begitu juga halnya di wilayah hukum Polda Metro Jaya tercatat surat izin penggunaan senjata api yang dikeluarkan sebanyak 5000 izin. Tetapi, hingga kini baru sekitar 40 persen yang berhasil ditarik. Artinya, untuk wilayah hukum Polda Metro Jaya atau ibukota Jakarta dan sekitarnya masih ada ribuan senpi illegal yang beredar dan tidak diketahui keberadaannya.
Terkait maraknya aksi kejahatan yang menggunakan senjata api di Ibukota dan sekitarnya kemungkinan menggunakan senjata yang belum ditarik ini. Hal itulah yang memicu Ketua Presidium Indonesia Police Wacth, Neta S Pane mendesak Kapolda, Irjen Pol Putut Eko Bayuseno segera menarik senjata yang masih dikuasai oleh masyarakat sipil.Operasi penertiban senjata api harus dilakukan, untuk mencegah kejahatan yang menggunakan senjata api tegasnya.
Beragam modus kejahatan di Jakarta sudah pada tingkat sangat mengkhawatirkan. Seperti peristiwa tawuran sadis antar warga yang terjadi di Kalipasir, Jakarta Pusat beberapa waktu yang lalu. Bahkan kala itu Gubernur DKI Jokowi harus bergidik menyaksikan video tawuran yang menelan korban jiwa itu.
Dalam rangkaian peristiwa di Ibukota, Polda Metro Jaya dinilai gagal memelihara ketertiban dan keamanan serta mengayomi warga, karena tidak melakukan upaya pendekatan persuasif maupun pre-emtif. Padahal sebelumnya banyak pihak sudah memprediksi kualitas kejahatan pada 2013-2014 ini akan meningkat seiring dengan memanasnya suhu politik di tanah air.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar (Kombes) Rikwanto mengatakan, secara umum kondisi Kamtibmas di wilayah Jakarta dan sekitarnya masih kondusif. Dikatakan, guna mengatasi maraknya penggunaan senjata api dalam kejahatan, Rikwanto mengaku pihaknya terus melakukan razia.
Kegiatan operasi tetap berjalan terus, namun kita tidak publikasikan karena sifatnya memang tertutup. Adapun senjata yang diduga masih beredar, banyak pemicunya. Seperti, daerah bekas rawan konflik, selundupan dari luar negeri dan senjata rakitan yang dibuat oleh pengrajin senjata, jelasnya.
Selain operasi senjata, lanjut Rikwanto, kepolisian juga terus melakukan kegiatan pengamanan di Jakarta.Kalau kegiatan keamanan Jakarta itu sudah ada prosedurnya. Polres dan Polsek terus berjalan. Ini memang dibentuk secara khusus dengan personel tertentu agar tidak mengganggu pekerjaan yang lain. Artinya sudah terstruktur dalam rangka menjaga Kamtibmas, tuturnya.
Menurutnya, peristiwa penembakan Tito Kei dan pemilik warung Ratim, di depan warung rokok, Jalan Raya Titian Indah RT03 RW011 Kalibaru, Medan Satria, Bekasi, Jumat (31/5) lalu, bukan menandakan Jakarta tidak aman.
Sehingga, masyarakat tidak perlu galau atau paranoid menyikapi peristiwa tersebut. Kendati begitu lanjut Rikwanto, kepolisian tidak mengabaikan setiap kejahatan yang terjadi. Kalau ada indikasi salah satu masyarakat menjadi sasaran atau incaran dari sebuah motif kejahatan silahkan lapor, kata lulusan AKPOL 1988 ini.O tim