Beritabatavia.com -
Jajaran Polda Metro Jaya melakukan perubahan strategi yang radikal dan revolusioner dalam mengantisipasi gangguan Kamtibmas. Pendekatan represif tinggal menjadi cerita lama dan berubah menjadi pendekatan dialogis yang humanis. Proses ‘mimikri’ menjadi Polisi yang profesional dan berwajah santun.
Semenjak peradaban manusia dimulai tindakan kriminal selalu bersifat dinamis. Sehingga melahirkan tesis jika pelaku kejahatan senantiasa selangkah lebih maju dari aparat penegak hukum. Kondisi itu melahirkan stigma klise jika aparat selalu kecolongan karena tidak ada antisipasi dini. Berangkat dari tesis seperti itulah Direktorat Pembinaan Masyarakat (Ditbinmas) Polda Metro Jaya melakukan perubahan strategi dalam mengantisipasi gangguan Keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Sehingga Polisi bisa mengurai gangguan Kamtibmas dari akar persoalan yang melatar belakangi tindakan kriminal.
Program yang merupakan antitesis itu diwujudkan dalam renstra pendekatan Polri terhadap masyarakat. Dan program Polda Metro Jaya itu selaras dengan program Pemolisian Masyarakat (Polmas) yang dicanangkan oleh Polri. Asumsinya dengan kesadaran dan ketertiban masyarakat yang semakin tinggi maka secara otomatis tingkat kriminalitas akan turun.
Pola pendekatan dengan masyarakat yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya itu dilakukan sangat intens dengan sistem door to door, dari rumah ke rumah, warung ke warung hingga ke beberapa komunitas. Setiap personil Polisi dibebani target lima kali pertemuan dalam sehari. Perubahan pola pendekatan yang revolusioner itu dipresentasikan secara detail oleh Direktur Pembinaan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar (Kombes) Pol Eddy Sumitro Tambunan M,Si di Lantai 6 Mapolda Metro Jaya.
Menurut mantan Kapolres Metro Tangerang Kabupaten ini’ pola pendekatan yang pre-emptip itu dirumuskan dalam beberapa program yang dimiliki Polda Metro Jaya seperti Polisi Peduli Pendidikan, Polisi Peduli Pengangguran, Polisi Cilik serta Polisi Siswa hingga Program RW Zero Criminal. Contoh langkah konkrit program itu pernah dilaksanakan oleh Polres Jakarta Timur yang menggelar ujian nasional terhadap beberapa tahanan yang masih berstatus pelajar. Serta melakukan pelatihan terhadap remaja pengangguran untuk dipekerjakan sebagai sopir dan Satpam dibeberapa perusahaan.
Sementara program Polisi Cilik dan Polisi Siswa secara esensi menanamkan kedisiplinan secara dini terhadap anak-anak. Sehingga secara tidak langsung merupakan bagian nation character building (pembentukan karakter bangsa) terhadap generasi muda. Dengan adanya kegiatan seperti itu minimal mengurangi potensi terjadinya tawuran pelajar. Atau setidaknya para pelajar itu bisa menjadi mitra polisi atau masyarakat dalam mengatisipasi terjadinya tawuran pelajar.
Eloknya, pola pendekatan Polisi saat ini disertai pemberian buah tangan kepada masyarakat yang telah dikunjungi berupa cendera mata seperti topi dan kacamata serta kopi hingga mainan anak-anak. Semua buah tangan itu secara psikologis bisa menjadi sarana kontak antara Polisi dengan masyarakat. Yang unik semua pemberian itu bukan berasal dari kantong polisi yang notabene adalah uang negara, tetapi berasal dari dana Cooporate Social Responbility (CSR) yang dimiliki beberapa perusahaan swasta maupun nasional. Polisi hanya membantu menyalurkan dana CSR tersebut.
Lulusan Akpol Tahun 1989 ini menambahkan jika dengan perubahan pola pendekatan polisi yang lebih dialogis itu bisa menumbuhkan rasa memiliki (sense belonging) dari masyarakat terhadap intutisi Polri. Maklum selama ini hubungan atau pola relasi antara polisi dan masyarakat baru sebatas kebutuhan bukan oleh rasa memiliki atau rasa sayang. Bahkan masyarakat awam cenderung segan atau bisa dibilang ogah berurusan dengan Polisi bila bukan karena suatu hal yang sangat terpaksa.
Kondisi itu jauh berbeda dengan kebiasaan masyarakat di negara maju yang memiliki hubungan sangat mesra dengan Polisi. Bila diamsalkan dibeberapa negara maju, seorang pembantu merasa pantatnya ditowel sang majikan, maka sang pembantu langsung mengadu ke Polisi dan dengan serta merta aparat penegak hukum itu akan segera melayani.
Maka dengan perubahan paradigma ini Pamen Polri yang sempat mengemban tugas ke negeri Paman Sam ini berharap, hubungan Polisi dengan masyarakat menjadi semakin mesra. Secara kelembagaan kemesraan itu diwujudkan dalam pembuatan forum kemitraan antara polisi dan masyarakat. Sehingga memunculkan pelopor-pelopor masyarakat yang menjadi mitra Polisi.
Bila hubungan Polisi dan masyarakat semakin mesra maka itu akan memudahkan aparat dalam menginventarisir persoalan disetiap wilayah, sekaligus bisa menemukan solusi yang efektif dalam memecahkan persoalan sesuai dengan karakteristik masyarakat setempat.
Selama kurun waktu tujuh bulan pelaksanaan program-program itu menurut mantan Kapolres Surabaya Utara ini, ternyata hasilnya cukup menggembirakan. Tingkat partisipasi masyarakat dalam mengantispasi gangguan Kamtibmas cukup tinggi. Bahkan secara umum tingkat kriminalitas dilingkup Polda Metro Jaya cenderung mengalami penurunan yang cukup signifikan. O tim