Beritabatavia.com -
DPR menyesalkan ketidakakuratan data intelijen yang dimiliki Densus 88 dan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), sehingga menyebabkan terjadinya aksi salah tangkap terhadap dua orang warga Tulungagung, Jatim, beberapa waktu lalu. Densus 88 pun didesak minta maaf.
Kejadian salah tangkap terhadap dua orang warga Tulungagung, sangat disesalkan. Karena data yang tidak akurat, keduanya dianggap sebagai teroris, sehingga sempat ditangkap oleh Densus 88, tandas anggota Komisi III DPR, Taslim Chaniago.
Seperti diberitakan, Sapari (49) dan Mugi Hartanto (38), sempat ditahan selama sepekan oleh Densus 88, karena diduga terkait teroris.
Menurutnya, yang terpenting dalam pencegahan teroris data intelijennya harus benar-benar akurat sehingga pada penindakannya tidak terjadi kesalahan. Sebab kalau sudah penindakan itu sudah menyangkut nyawa orang dan masa depan mereka saat dituduh teroris, ujarnya.
Seharusnya salah tangkap tidak ada lagi terjadi karena semuanya masalah teroris sudah terkoordinasi dengan baik seharusnya, melalui BNPT, sambungnya.
Taslim juga mengungkapkan adanya aksi salah tangkap menunjukkan koordinasi Densus dengan BNPT lemah. Semestinya Densus secara jantan minta maaf kepada korban dan keluarga korban. Ini pelajaran berharga buat Densus 88, tegas Taslim. o day