Beritabatavia.com -
Untuk menciptakan Polisi yang profesional, cerdas dan bermoral mungkin ‘resep’ SNK (Sistem Nilai Kinerja) yang diterapkan oleh Kapolres Metro Tangerang, Komisaris Besar (Kombes) Riad S.Ik, M.Si ini layak untuk dijadikan sebagai pilot project ( proyek percontohan) bagi Polri.
Polres yang masuk yuridiksi Polda Metro Jaya ini memiliki pola yang unik dalam menciptakan sistem managemen karier bagi para jajarannya. Setiap bulan Polres Metro Tangerang memberikan apresiasi dalam bentuk pemberian piagam dan pemajangan foto aparat yang berprestasi dijajarannya (man of the month) sebagaimana lazimnya pemberian gelar manager/karyawan teladan diberbagai perusahaan modern.
Pemilihan aparat teladan ini melalui proses penilaian berkesinambungan yang dilakukan oleh Wanjak (Dewan Jabatan dan Kepangkatan). Piagam penghargaan itu bisa dijadikan kredit poin bagi aparat yang bersangkutan apabila ingin menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Dengan meritokrasi organisasi serta renumerasi yang berbasis kinerja seperti itu gairah dan semangat kerja senantiasa terjaga. Sehingga kinerja aparat di Polres Metro Tangerang bisa berjalan secara maksimal. Eloknya, terjadi sinergi antara Polisi dengan stakehoulder yang lain dalam proses pemberian penghargaan terhadap aparat yang berprestasi itu di jajaran Polres Tangerang.
Seperti misalnya beberapa waktu yang lalu lima personil Kepolisian yang berprestasi di Polres Metro Tangerang mendapat bonus dari Walikota setempat dalam bentuk tiket melaksanakan umroh di tanah suci. Sinergitas yang indah antara aparat dan Pemda itu membuat kondisi di Tangerang semakin kondusif.
Saat ini Polres Tangerang tercatat sebagai wilayah yang memiliki gangguan Kamtibmas terendah di wilayah Polda Metro Jaya. Bahkan, dalam Pilkada lalu hajatan masyarakat di tepi Sungai Cisadane itu juga berlangsung adem ayem. Padahal dibeberapa tempat Pilkada itu justru menjadi bara.
Sebagai buffer zone (daerah penyangga) Ibu Kota Jakarta, Tangerang memiliki tipologi yang nyaris sama dengan beberapa tempat lainnya seperti, Bogor, Depok dan Bekasi. Dengan mayoritas masyarakat urban, tingkat kriminilitas cenderung tinggi. Namun menurut alumni AKPOL 1992 ini, dengan tahapan strategi yang benar angka kriminalitas itu bisa diminimalisir. Dan tahapan pertama yang paling mendasar adalah menerapkan strategi pre-emtip dengan melakukan pendeteksian secara dini terhadap potensi gangguan Kamtibmas.
Dalam strategi ini, intel menjadi garda terdepan. Sementara personil Babinkamtibmas dituntut untuk menjadi problem solver, sehingga persoalan itu lekas terurai tanpa menimbulkan ekses yang mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat.
Strategi pre-emptip ini juga terbilang efektif untuk menekan angka kriminalitas, mengingat rasio antara jumlah aparat keamanan dan jumlah masyarakat yang masih jomplang.
Menurut mantan Kasat Resmob Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya ini, untuk memenuhi rasio yang ideal Polres Metro Tangerang setidaknya kekurangan personil sekitar 600 personil. Tetapi menyadari keterbatasan jumlah personil itulah strategi pre-emtip harus dimaksimalkan. Dan strategi ini harus melibatkan peran serta masyarakat.
Tingkat partisipasi masyarakat Tangerang hingga saat ini dinilai cukup menggembirakan. Kondisi itu memudahkan aparat dalam melakukan pendekatan yang down to earth dengan sistem door to door . Sehingga dengan sinergi yang kompak antara aparat dan masyarakat itu, membuat angka kriminalitas dapat diminimalisir. Maka program RW Zero Criminal, bukanlah isapan jempol semata.
Dengan kesadaran masyarakat yang tinggi secara otomatis angka kriminalitas akan turun dengan sendirinya. Sehingga tindakan preventif dan represif menjadi tidak relevan lagi. Apabila kondisi itu telah tercapai, maka persepsi masyarakat terhadap aparat kepolisian akan berubah dengan sendirinya. Maklum, selama ini persepsi masyarakat terhadap polisi masih sangat memprihatinkan.
Masyarakat selama ini menilai jika Polri, adalah aparat yang kaku (main kepruk) dan korup (tukang peras). Tindakan pre-emtip yang optimal itu akan membuat wajah Polri menjadi lebih humanis, sehingga menumbuhkan sense of belonging (rasa memiliki) di masyarakat terhadap intitusi Polri. Sudah menjadi rahasia umum jika selama ini pola relasi antara masyarakat dan Polri baru sebatas kebutuhan, dan belum dilandasi oleh ‘cinta’. Masyarakat membutuhkan Polisi hanya karena suatu hal yang mendesak. Dalam kondisi normal masyarakat justru cenderung menghindar dengan korps Bhayangkara itu.
Maka untuk menumbuhkan cinta dari masyarakat itulah pendekatan pre-emtip yang paling efektif. Pendekatan itu selaras dengan program pemolisian masyarakat yang telah dikeluarkan oleh Mabes Polri. Maka tidaklah berlebihan jika dinamika sosial di Tangerang menjadi succes story penerapan strategy pre-emptip Polri.
Bahkan dalam pengamatan NOVUM strategi pre-emtip telah menuai sukses di beberapa tempat. Dan yang terpenting adalah adanya proses perubahan wajah Polri yang sangar menjadi wajah yang humanis dan profesional. Maklum, dalam beberapa tahun terakhir memori publik telah dijejali dengan berita-berita tentang oknum aparat Kepolisian yang korup.
Padahal laskar Bhayangkara itu telah menorehkan prestasi yang tidak sedikit. Seperti misalnya dalam pengukapan kasus-kasus terorisme. Prestasi itu justru tenggelam oleh luapan berita miring yang dilakukan oleh sejumlah oknum Polri.O tim