Beritabatavia.com -
Hampir di semua pendidikan dan pengembangan Polri ditandai dengan produk-produk tertulis yang berupa karya perorangan maupun kelompok . Namun ketika mencari produk-produk tertulisnya hampir tak ditemukan. Mengapa demikian?
Proses dan cara menulis di sekolah-sekolah polisi menjadi suatu tekanan atau pemaksaan bahkan pengkeberian pemikiran. Sehingga yang terjadi adalah yang penting saya mengumpulkan dan saya sudah membuat tulisan. Bukan lagi menulis yang penting-penting tetapi menjadi yang penting menulis. Tidak menuliskan yang pokok malah menjadi pokoknya menulis.
Ketika kita membaca buku harian Anne Frank, kita bisa membayangkan kekejaman tentara nazi terhadap bangsa Jahudi di masa perang dunia kedua. Begitu juga Buku Habis Gelap Terbitlah terang yang merupakan kumpulan surat-surat RA Kartini kepada keluarga Abendanon, dengan membaca buku tersebut, kita bisa mengetahui betapa besar cita-cita Kartini untuk memajukan kaumnya.
Para kedua penulis buku tersebut tidak bercita-cita menerbitkan buku hebat, melainkan sekadar mencurahkan isi hatinya, pengalamannya yang penting dan pokok-pokok, sehingga ketika dirangkai dapat menjadi sebuah buku yang inspiratif bagi umat manusia. Disinilah pentingnya menulis dengan hati. Yang bukan sekadar pokoknya menulis. Menulis merupakan suatu kemampuan dalam menuangkan ide-ide dan pemikiran dalam bentuk tulisan. Ini sebenarnya membuat suatu keabadian dan membangun peradaban. Seperti saat ini kita bisa belajar dan mengetahui pemikiran para filsuf seperti Socrates, Plato, Aristoteles dan sebagainya.
Kemampuan tulis menulis merupakan suatu tingkat peradapan dan karya sastra. Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari kemajuan, teknologi, ekonomi, kebudayaannya dan sastranya. Ketika kita meresapi kata-kata mutiara para pahlawan dan tokoh-tokoh nasional kita bisa memahami hatinya, pikirannya dan budinya bahkan kebesaran jiwanya.
Sayangnya, sekarang ini jarang sekali pejabat atau pemimpin mampu memberikan nasihat atau kata-kata mutiara yang menyentuh hati dan penguat jiwa. Kemungkinan karena terlalu sibuk dengan acara-acara seremonial, protokoler, sehingga tidak lagi menyentuh dan welas asih dari hatinya, tidak terasah lagi, semua serba ok. Bagai di menara gading yang serba manut nurut dan siap sendiko awuh. Kesaktian jarinya bukan untuk menulis melainkan untuk memerintah sabdo pandito ratu.
Almarhum Profesor Satjipto Rahardjo mengingatkan bahwa polisi adalah ahli sosiologi, kriminologi, karena setiap hari pekerjaannya dibidang itu dan mampu berinteraksi serta mampu menyelesaikan berbagai masalah sosial. Tetapi jika pengalaman-pengalaman itu di tulis. Di era digital ini mari kita bangkitkan semangat polisi Opo Opo Ditulis yang dapat dijadikan yurisprudensi, refrensi, bahkan laboratorium sosial yang hidup.
Dan polisi dalam bekerja tidak semata-mata pokoknya tugas, melainkan mampu melaksanakan tugas pokonya menjadi polisi sang penjaga kehidupan, sang pembangun peradaban dan pejuang kemanusiaan.
Selamat hari Bhayangkara ke 68 Jadilah Bhayangkara nusantara yang profesional, cerdas, bermoral dan modren. O Kombes Pol. DR Chrisnanda Dwi Laksana